Transaksi besar harus menjadi awal, bukan puncak
Sulam Sugul adalah kerajinan sulam khas Banjar yang mengolah hiasan benang dan payet menjadi karya pakai, dari busana hingga aksesori, sekaligus menyimpan keterampilan lokal yang bernilai ekonomi. Pameran kerajinan Sulam Sugul di Kabupaten Banjar mencatat transaksi Rp228 juta, capaian yang patut dibaca sebagai pembuka peluang pasar—bukan jaminan bahwa pesanan akan terus mengalir. Rangkaian kegiatan berlangsung melalui lokakarya kriya pada 2 November dan pameran pada 3 November 2026. Ketua Dekranasda Banjar, Nurgita Tiyas, menyebut akumulasi penjualan yang tercatat lewat pembayaran nontunai Bank Kalsel mencapai Rp228.006.000. Angka itu menunjukkan bahwa kerajinan Sulam Sugul dapat menarik pembeli ketika karya perajin dipertemukan langsung dengan pasar. Tantangan berikutnya adalah mengubah perhatian selama pameran menjadi permintaan berulang.
Keluar dari pasar yang terlalu sempit
Alasan pembaruan mendesak cukup jelas: Sulam Sugul selama ini banyak bergantung pada permintaan Bolang Haji, sementara keterbatasan pasar ikut menekan pesanan. Ketergantungan pada satu pasar membuat pendapatan perajin rentan berubah. Karena itu, capaian pameran sebaiknya menjadi landasan untuk memperluas ragam pembeli, bukan sekadar catatan penjualan sesaat. Bupati Banjar Saidi Mansyur mendorong desain baru dan diversifikasi agar sulam khas ini tidak berhenti pada satu jenis kebutuhan. Pakaian berhias payet, hijab, tas, alas kaki, dan aksesori dapat membawa motif Sulam Sugul ke penggunaan sehari-hari dan menjangkau konsumen yang lebih luas. Bagi perajin Banjar, peluang itu nyata, tetapi ragam produk harus berangkat dari keterampilan dan kapasitas produksi yang tersedia, bukan mengikuti tren tanpa arah.
Mutu, regenerasi, dan akses pasar mesti berjalan bersama
Perluasan desain hanya akan bertahan bila kualitasnya konsisten. Saidi meminta perajin memperhatikan mutu bahan, kerapian jahitan, dan ketepatan waktu produksi, sekaligus mewariskan keterampilan menyulam kepada generasi muda. Ini bukan urusan teknis belaka: pembeli yang puas lebih mungkin kembali, sedangkan regenerasi menjaga agar keterampilan tidak berhenti pada kelompok perajin saat ini. Pemerintah daerah juga mendorong organisasi perangkat daerah memakai Sulam Sugul dan sasirangan dalam kegiatan resmi, serta mengajak perbankan memperluas akses permodalan bagi UMKM. Dukungan tersebut dapat membantu membuka pesanan dan kapasitas, tetapi perlu disertai pembinaan mutu agar produksi tambahan tidak mengorbankan kerapian. Pameran kerajinan Banjar akan lebih bermakna jika menjadi bagian dari jalur pemasaran yang berkelanjutan.
Peluang ekonomi yang dekat dengan keluarga perajin
Nilai ekonomi Sulam Sugul juga terasa di rumah tangga. Nurgita Tiyas menyebut proses menyulam dapat dikerjakan ibu rumah tangga di sela aktivitas keluarga, sehingga keterampilan tersebut berpeluang menambah pendapatan. Fleksibilitas ini penting, tetapi peluang tidak otomatis menjadi penghasilan stabil: perajin tetap membutuhkan pesanan yang teratur, mutu yang terjaga, dan akses untuk menjual di luar lingkaran pembeli lama. Di sinilah pameran berperan sebagai penghubung antara kreativitas lokal dan konsumen, sementara dukungan pemerintah serta pembiayaan dapat membantu usaha berkembang. Namun, ukuran keberhasilan berikutnya seharusnya bukan hanya nilai transaksi satu kegiatan. Yang lebih menentukan ialah apakah produk baru menemukan pembeli, keterampilan diteruskan, dan keluarga perajin memperoleh manfaat yang berkelanjutan.
Kesimpulannya, transaksi Rp228 juta memberi alasan kuat untuk optimistis terhadap sulam Sugul Banjar, tetapi angka itu baru langkah awal. Inovasi desain harus dibarengi peningkatan kualitas, regenerasi perajin, dukungan pemasaran, dan akses modal. Jika semua unsur tersebut bergerak bersama, kerajinan tradisional ini berpeluang tumbuh sebagai produk fesyen yang relevan tanpa kehilangan akar lokalnya.






