Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Strategi Pendanaan Masif Panas Bumi Menuju 1,8 GW

Strategi Pendanaan Masif Panas Bumi Menuju 1,8 GW
Minat|Asia Tenggara

Panas Bumi: Potensi Raksasa yang Masih Tidur

Energi panas bumi adalah sumber energi terbarukan yang memanfaatkan panas dari dalam bumi untuk menghasilkan listrik melalui pembangkit listrik tenaga panas bumi, yang memerlukan eksplorasi bawah permukaan, pengeboran sumur, dan pembangunan infrastruktur di wilayah pegunungan berpotensi tinggi, sehingga menghadirkan kombinasi manfaat lingkungan dan tantangan investasi yang besar dalam jangka panjang. Kementerian ESDM mencatat potensi energi panas bumi Indonesia mencapai 23,2 gigawatt, tetapi kapasitas yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 2,78 gigawatt. Fakta ini menegaskan satu hal: kita sedang duduk di atas “tambang” energi panas bumi Indonesia, namun baru menggarap pinggirannya. Pakar hidrogeologi dari ITB, Prof. Lambok M. Hutasoit, mengaitkan potensi besar ini dengan posisi di Cincin Api Pasifik. Artinya, secara geologi kita sudah menang; yang tertinggal adalah keberanian kebijakan dan kecerdasan pendanaan.

Strategi Pendanaan Masif Panas Bumi Menuju 1,8 GW

Target 1,8 GW: Ambisi yang Menuntut Keberanian Finansial

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk menyiapkan strategi pendanaan masif untuk memitigasi tingginya risiko eksplorasi hulu demi mencapai target kapasitas terpasang panas bumi sebesar 1,8 gigawatt pada 2034. Saat ini kapasitas pembangkitan perseroan baru 727 megawatt, dengan target antara 1 gigawatt pada 2028 dan 1,8 gigawatt pada 2034. Ini bukan sekadar ekspansi bisnis; ini adalah taruhan besar bahwa energi panas bumi Indonesia bisa menjadi tulang punggung transisi energi. Staf Khusus Wakil Presiden Tina Talisa mengingatkan bahwa kapasitas geotermal nasional bahkan belum menyentuh 3 gigawatt dan transisi energi adalah upaya panjang. Dengan kata lain, tanpa lompatan seperti yang direncanakan PGE, ambisi menjadi pemimpin geothermal global akan berhenti sebagai slogan.

Strategi Pendanaan PLTP: Menjinakkan Risiko Hulu

Tantangan utama pengembangan panas bumi adalah biaya tinggi dan risiko eksplorasi yang besar, terutama di tahap pengeboran hulu yang belum tentu menemukan cadangan ekonomis. PGE secara terbuka menyebut risiko hulu yang tinggi perlu diimbangi dengan risiko hilir yang relatif rendah melalui penjualan listrik dari PLTP seperti Kamojang. Kebutuhan investasi per megawatt dikatakan sangat bergantung pada kompleksitas infrastruktur dan akses lokasi, sehingga strategi pendanaan PLTP tidak bisa mengandalkan satu sumber saja. PGE menggunakan ekuitas internal, sebagian dana hasil penawaran umum perdana saham, serta dukungan pemerintah untuk mendapatkan pendanaan luar negeri dengan bunga rendah. Selain itu, pembiayaan hijau seperti green financing dan green bond menjadi instrumen andalan untuk menekan biaya modal dan membuat keekonomian proyek “bisa terbang” dalam istilah Direktur Operasi Andi Joko Nugroho.

Mitigasi Risiko Eksplorasi: Kolaborasi dan Desain Bisnis

Risiko eksplorasi panas bumi tidak bisa dihapus, tetapi bisa dibagi dan dikelola. Di sinilah pendekatan PGE menarik: menyadari besarnya skala proyek geotermal yang tidak mungkin dikerjakan sendirian, perusahaan membentuk usaha patungan dengan PLN untuk berbagi risiko dan belanja modal, termasuk rencana penambahan pembangkit 30 megawatt di Ulubelu. Model ini menunjukkan bahwa strategi pendanaan PLTP bukan sekadar soal mencari uang, tetapi merancang struktur bisnis yang menyeimbangkan risiko hulu dan hilir. Penjualan listrik dari unit-unit yang sudah mapan seperti PLTP Kamojang dengan kapasitas terpasang 235 megawatt menjadi bantalan pendapatan untuk menanggung ketidakpastian eksplorasi lapangan baru. Pendekatan ini patut dibaca sebagai pesan: jika ingin kapasitas geothermal 2034 melesat, sektor energi tidak boleh alergi pada kolaborasi dan inovasi finansial.

Dampak Ganda: Energi Bersih dan Ekonomi Pegunungan

Mengapa strategi pendanaan masif panas bumi layak didorong, meski penuh risiko? Karena dampaknya ganda. Di satu sisi, energi panas bumi Indonesia memberi pasokan listrik rendah emisi yang stabil, berbeda dengan sumber terbarukan yang bergantung cuaca. Di sisi lain, pengembangan PLTP di wilayah pegunungan membuka keterisolasian, memicu infrastruktur jalan, jaringan listrik, dan aktivitas ekonomi lokal. Pengalaman panjang PLTP Kamojang menunjukkan pengembangan panas bumi dapat tumbuh berdampingan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. Tina Talisa menulis bahwa Kamojang bukan hanya cerita tentang pembangkit listrik, melainkan tentang bagaimana proyek energi bisa hidup bersama komunitas. Jika pola ini direplikasi di banyak lapangan, target 1,8 gigawatt bukan sekadar angka teknis, melainkan strategi pembangunan wilayah. Kesimpulannya, keberanian pendanaan panas bumi adalah investasi sosial, bukan hanya investasi energi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!