Lompatan Peringkat: Dari 300-an ke 140, Apa Artinya untuk Jakarta?
Global Cities Index 2026 adalah pemeringkatan 1.000 kota dunia yang menilai ekonomi, modal manusia, kualitas hidup, lingkungan, dan tata kelola, dan kenaikan tajam Jakarta dari posisi 300-an ke peringkat 140 menandakan perubahan signifikan dalam cara kota ini dibaca sebagai kota global berkembang oleh pengamat ekonomi dan kebijakan perkotaan di level internasional.
Inti persoalannya begini: lonjakan peringkat Jakarta adalah kabar baik, tetapi bukan medali yang boleh membuat pemerintah dan warga merasa selesai. Dalam tiga tahun, posisi Jakarta naik dari 287, 159, hingga kini 140 dari 1.000 kota dunia. Secara simbolik, kota ini keluar dari zona pinggiran dan mulai dianggap relevan dalam peta kota global berkembang. Namun peringkat kota dunia apa pun pada dasarnya adalah cermin, bukan tujuan. Cermin ini menunjukkan bahwa kekuatan Jakarta kini paling menonjol di aspek modal manusia (peringkat 23) dan ekonomi (peringkat 59), sementara kualitas hidup, lingkungan, dan tata kelola tertinggal di belakang.
Transportasi dan Infrastruktur: Tulang Punggung Lompatan Global Cities Index
Jika harus menunjuk satu penggerak utama kenaikan peringkat, jawaban paling masuk akal adalah infrastruktur transportasi publik Jakarta. Gubernur Pramono Anung berulang kali menekankan bahwa penilaian paling menentukan dalam Global Cities Index 2026 datang dari transportasi umum dan konektivitas kota. Menurutnya, konektivitas transportasi publik Jakarta sudah menembus lebih dari 93 persen wilayah, dengan kenaikan pengguna MRT, LRT, Transjakarta, Transjabodetabek, Mikrotrans, dan JakLingko lebih dari 15 persen rata-rata karena warga beralih dari kendaraan pribadi ke moda publik. "Alhamdulillah sekarang ini konektivitas transportasi publik di Jakarta sudah 93 persen lebih," ujar Pramono.
Poin penting yang sering terlupakan adalah kesinambungan kebijakan. Pembangunan LRT Jakarta yang kini menjadi simbol transformasi bukan karya satu periode saja: jalur Kelapa Gading–Velodrome diputuskan di pemerintahan sebelumnya, sementara perpanjangan Velodrome–Manggarai diteruskan oleh penjabat gubernur berikutnya, dan sekarang diklaim sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan. Pramono mengakui secara terbuka bahwa kenaikan posisi Jakarta adalah hasil kesinambungan pemerintahan, bukan loncatan sekejap. Ini pesan penting: kota global berkembang tidak dibangun dengan proyek instan, melainkan dengan konsistensi kebijakan transportasi dan infrastruktur lintas rezim.
Peringkat Bukan Segalanya: DPRD Mengingatkan Soal Kualitas Hidup
Di tengah euforia peringkat kota dunia, suara kritis datang dari DPRD Jakarta. Wakil Ketua DPRD Wibi Andrino mengajukan pertanyaan yang mestinya mengganggu kenyamanan semua pemangku kepentingan: apakah kenaikan peringkat ini sudah terasa di kehidupan warga? Ia mengingatkan, "Ranking boleh naik, tapi yang paling penting kualitas hidup warga juga harus naik," sambil menyebut transportasi publik, kemacetan, lingkungan, pelayanan publik, dan tata kelola sebagai PR yang belum selesai. Sikap ini tepat: indeks global sering mengangkat angka-angka agregat, sementara warga merasakan hal-hal yang sangat konkret—lamanya perjalanan, polusi udara, banjir, akses layanan dasar.
Peningkatan kualitas hidup tidak otomatis mengikuti pembangunan infrastruktur jika pengawasan dan tata kelola lemah. DPRD menekankan perlunya pengawasan yang lebih ketat agar setiap proyek transportasi dan infrastruktur benar-benar berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Tanpa itu, Jakarta berisiko menjadi kota yang terlihat modern di statistik, tetapi tetap melelahkan untuk ditinggali. Di sinilah perbedaan antara kota global yang hanya mengejar peringkat dan kota global berkembang yang sungguh memprioritaskan warganya. Peringkat 140 akan kosong makna jika keluh-kesah soal kemacetan, ruang hijau minim, dan akses layanan publik yang timpang tidak ditangani secara serius.
Jakarta di Peta Kota Global Berkembang: Momentum Asia dan Tantangan Berikutnya
Masuk 140 besar Global Cities Index 2026 menempatkan Jakarta dalam arus besar perubahan peta kota global. Di daftar kota dengan peringkat kota dunia tertinggi, New York, London, dan Paris masih di puncak, dengan Tokyo sebagai satu-satunya kota Asia di 10 besar. Namun lembaga pemeringkat melihat kekuatan kota-kota Asia—Shenzhen, Taipei, Kuala Lumpur, Ho Chi Minh City—mulai mendominasi. Posisi Jakarta di 140 menunjukkan bahwa kota ini belum di garis depan, tetapi sudah masuk lapangan permainan yang sama dengan kota global berkembang lain di kawasan.
Untuk memanfaatkan momentum ini, Jakarta tidak bisa berhenti pada transportasi. Aspek kualitas hidup, lingkungan, dan tata kelola yang saat ini tertinggal perlu dikejar agar cita-cita "masuk 50 besar" yang diucapkan politisi tidak sekadar slogan. Di level kebijakan, penyelesaian backbone LRT hingga Dukuh Atas, JIS, dan Stasiun Whoosh Halim yang diyakini akan melesatkan pengguna transportasi publik harus dibarengi perbaikan tata kelola ruang, pengendalian polusi, dan partisipasi warga dalam perencanaan kota. Jakarta sedang berada di persimpangan: melanjutkan pembangunan berkelanjutan yang menguatkan konektivitas kota, atau terpeleset menjadi kota yang unggul di angka, tetapi tertinggal dalam kualitas hidup.
Kesimpulan: Dari Statistik ke Kehidupan Sehari-hari
Naiknya Jakarta dari peringkat 300-an ke 140 dalam Global Cities Index 2026 adalah pencapaian strategis yang tidak boleh diremehkan. Ini menandakan bahwa kota ini mulai diperhitungkan sebagai kota global berkembang dengan modal manusia kuat dan ekonomi yang mengesankan. Namun makna sejati dari pencapaian ini akan ditentukan di jalanan, halte, trotoar, dan ruang hidup warga, bukan di laporan lembaga riset.
Kuncinya ada pada tiga hal. Pertama, menjaga kesinambungan pembangunan transportasi dan infrastruktur sebagai tulang punggung kota—bukan proyek pencitraan musiman. Kedua, memperkuat pengawasan dan tata kelola agar setiap kilometer rel dan setiap halte baru menambah kualitas hidup, bukan sekadar angka di statistik. Ketiga, mengakui bahwa menjadi kota global berarti menempatkan warga sebagai pusat, bukan penonton. Jika ketiga hal ini dijalankan, lompatan ke peringkat 140 hanya akan menjadi awal, bukan puncak perjalanan Jakarta di panggung kota dunia.






