Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ustaz Riza Muhammad dan Syariat di Balik Komitmen Fitness

Ustaz Riza Muhammad dan Syariat di Balik Komitmen Fitness
Minat|Binaraga

Kontroversi Gym, Syariat, dan Figur Pendakwah

Perdebatan tentang gym menurut Islam merujuk pada bagaimana praktik olahraga, pembentukan otot, dan ekspresi fisik seorang muslim dinilai selaras atau bertentangan dengan prinsip syariat, termasuk adab menjaga aurat, niat ibadah, serta pemaknaan mensyukuri nikmat sehat dalam Sunnah Rasulullah, sehingga aktivitas fitness perspektif agama tidak berhenti pada otot yang tampak, melainkan pada tanggung jawab spiritual terhadap tubuh sebagai amanah. Di tengah perdebatan ini, nama Ustaz Riza Muhammad mendadak menjadi pusat sorotan. Pendakwah yang dikenal di layar kaca itu viral karena aksi nge-gym dan mengunggah perubahan tubuhnya yang kini penuh otot. Alih-alih panen dukungan, kolom komentarnya dipenuhi nyinyiran, bahkan tudingan bahwa pembentukan otot halal tidak sejalan dengan citra seorang ustaz yang dianggap harus tampil sederhana dan tidak menonjolkan fisik di ruang publik.

Klarifikasi Ustaz Riza: Fitness sebagai Syukur atas Nikmat Sehat

Respons keras warganet memaksa Ustaz Riza Muhammad angkat bicara. Ia muncul sebagai bintang tamu di sebuah program televisi swasta dan langsung memberikan klarifikasi atas tudingan yang belakangan diarahkan kepadanya. Di hadapan publik, ia menegaskan bahwa olahraga dan syariat bisa berjalan seiring, selama niat dan batasan dijaga. Ia menjelaskan bahwa olahraga bukan sekadar cara membentuk tubuh, melainkan sarana mensyukuri kesehatan yang diberikan Tuhan. Kutipannya yang paling kuat adalah ketika ia berkata, "Saya berpatokan untuk mengikuti Rasulullah: Nikmatani magbunum fihima kirum minanasu wal faru. Dua nikmat yang jarang disyukuri adalah sehat dan waktu luang". Menurutnya, gym, pola makan, dan istirahat cukup adalah usaha konkret menjaga nikmat sehat; tanpa usaha seperti itu, ajakan syukur hanya berhenti sebagai slogan dan tidak berbentuk tindakan nyata.

Ustaz Riza Muhammad dan Syariat di Balik Komitmen Fitness

Dua Alasan Syariat di Balik Komitmen Membentuk Tubuh

Argumen Ustaz Riza tidak berhenti pada generalisasi soal kesehatan; ia mengurai dua motivasi utama kembali rajin nge-gym. Pertama, ia merasa perlu menunaikan amanah nikmat sehat melalui usaha: menjaga makan, olahraga, dan istirahat yang cukup sebagai bagian dari menghidupkan sunnah Rasulullah tentang kesehatan. Di sini, fitness perspektif agama dianggap sebagai ibadah fisik yang menopang ibadah lainnya: tubuh yang bugar memudahkan shalat, dakwah, dan kerja. Kedua, ia jujur menyebut faktor psikologis: rasa insecure ketika tubuhnya "bengkak" setelah menikah, hingga sang istri menegur perubahan bentuk badannya. Ia lalu kembali ke gym untuk "memperbaiki porsi tubuh" agar proporsional dan sehat. Kejujuran ini penting: ia menunjukkan bahwa syariat tidak menafikan aspek emosional manusia, selama diarahkan ke perbaikan diri, bukan sekadar kesombongan estetis yang mengundang riya.

Antara Kekhawatiran Netizen dan Batas-Batas Religius

Kritik netizen pada dasarnya mencerminkan kegelisahan banyak muslim: apakah gym menurut Islam otomatis halal, dan sampai titik mana pembentukan otot halal sebelum berubah menjadi pamer diri? Gelombang komentar pedas di unggahan Ustaz Riza menunjukkan kekhawatiran soal kesesuaian aktivitas gym dengan nilai religius, terlebih ketika tubuh atletis ditampilkan di media sosial. Di sisi lain, klarifikasi sang ustaz menegaskan bahwa masalahnya bukan pada olahraga itu sendiri, melainkan pada niat, batas aurat, serta cara mengkomunikasikan tubuh ke publik. Dengan menautkan kebiasaan nge-gym pada hadis tentang dua nikmat, ia mencoba memindahkan fokus dari "pamer otot" ke "syukur atas kesehatan". Sikap ini mengingatkan bahwa dakwah visual di era digital menuntut kehati-hatian: konten tubuh bisa dibaca sebagai inspirasi hidup sehat, tetapi juga sebagai pemicu syahwat atau riya, tergantung cara dan konteks penyajiannya.

Kesimpulan: Menata Niat, Mengatur Tampilan

Kontroversi di sekitar Ustaz Riza Muhammad membuka ruang diskusi yang lebih matang tentang olahraga dan syariat. Dari satu sisi, jelas bahwa fitness perspektif agama dapat menjadi bentuk syukur atas nikmat sehat dan waktu luang, sebagaimana ia tegaskan dengan merujuk pada hadis tentang dua nikmat yang sering disia-siakan. Dari sisi lain, kritik warganet mengingatkan bahwa pembentukan otot halal tidak berhenti pada label "gym itu baik"; ada keharusan menjaga adab, aurat, dan menghindari riya ketika tubuh ditampilkan di ruang publik. Pelajarannya sederhana namun menantang: gym menurut Islam tidak sekadar pertanyaan boleh atau tidak, tetapi soal bagaimana seorang muslim menata niat, mengatur tampilan, dan menjadikan kebugaran sebagai alat dakwah yang menenangkan, bukan memancing kontroversi. Ustaz Riza telah menyampaikan pembelaannya; kini publik perlu menimbang dengan jernih, bukan hanya dengan prasangka.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!