SWRO untuk Data Center: Jalan Tengah Agar Air Warga Tidak Tersedot Industri
Desalinasi air laut Batam dengan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) adalah kebijakan yang mewajibkan industri data center mengolah air laut sendiri sebagai sumber air operasional, sehingga tidak mengambil porsi air bersih yang berasal dari waduk dan selama ini menjadi tulang punggung kebutuhan rumah tangga warga kota itu.
Intinya, BP Batam menegaskan: ekonomi digital boleh melaju, tetapi bukan dengan mengorbankan kran di rumah-rumah warga. Kepala BP Batam Amsakar Achmad mendorong setiap investasi data center yang membutuhkan air dalam jumlah besar untuk membangun instalasi SWRO sebagai bagian dari infrastruktur data center mereka. Kebijakan ini tidak sekadar teknis; ini adalah pilihan politik air. Di satu sisi, Batam sedang mengincar posisi sebagai hub data center dengan puluhan rencana investasi. Di sisi lain, krisis air bersih Batam bukan ancaman abstrak—setiap tambahan beban ke waduk adalah risiko nyata bagi pasokan rumah tangga.

Mengapa Data Center Wajib Punya Sumber Air Sendiri
Data center adalah peminum air kelas berat. Pendinginan server, sistem tata udara, hingga berbagai kebutuhan operasional membutuhkan pasokan air raksasa yang stabil sepanjang hari. Karena itu, BP Batam tidak mau industri ini menumpang di waduk yang sama dengan warga. Jika dibiarkan, setiap megawatt server baru berarti tekanan tambahan ke sistem penyediaan air bersih, yang selama ini saja sudah harus mengatur distribusi dengan cermat.
Kebijakan SWRO memaksa data center berinvestasi di sumber air mandiri—bukan sekadar pilihan ‘hijau’, tetapi syarat etis agar ekspansi ekonomi digital tidak memindahkan beban ke warga. “Untuk industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar, kita mendorong agar dapat memenuhi kebutuhannya melalui sumber air mandiri dengan teknologi SWRO,” kata Amsakar Achmad. Pesannya jelas: hak warga atas air baku dari waduk tidak boleh diganggu oleh kepentingan pusat data.
750 hingga 1.000 Liter per Detik: Skala Baru Desalinasi Air Laut Batam
BP Batam tidak bermain di skala kecil. Dalam dua hingga tiga tahun, Batam diproyeksikan mendapatkan tambahan kapasitas produksi air melalui teknologi SWRO sekitar 750 liter per detik pada tahap awal, dan ditargetkan meningkat hingga sekitar 1.000 liter per detik melalui pengembangan instalasi di KEK Nongsa dan Kawasan Industri Kabil. Ini menjadikan teknologi SWRO data center bukan pelengkap, tetapi tulang punggung baru pasokan air industri.
Dari sekitar 10 rencana pengembangan data center, satu sudah beroperasi dan menyambut baik skema SWRO mandiri ini. Skema serupa diwajibkan bagi investor lain. Di titik ini, BP Batam mengirim sinyal kuat: investasi digital harus datang dengan paket lengkap infrastruktur data center, termasuk instalasi desalinasi air laut Batam. Menariknya, jika kelak kapasitas produksi air SWRO surplus, kelebihannya berpotensi disalurkan untuk menambah pasokan air bersih masyarakat, selama kualitas dan jaringan distribusi siap.
Menahan Krisis Air Bersih Sambil Mendorong Ekonomi Digital
Kebijakan ini lahir dari ketegangan nyata: gempuran investasi dan ancaman krisis air bersih Batam. Strategi khusus SWRO dibuat agar pasokan air bersih masyarakat, termasuk dari waduk Nongsa, tidak terganggu oleh tumbuhnya data center. BP Batam menggarisbawahi bahwa pemenuhan kebutuhan air industri berskala besar harus berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, bukan menggantikannya.
Pendekatan ini patut dibaca sebagai kontrak sosial baru: investasi digital boleh mengisi neraca ekonomi, tapi air bersih tetap garis merah. Melalui infrastruktur SWRO mandiri, pertumbuhan industri data center diharapkan berjalan beriringan dengan perlindungan cadangan air waduk rumah tangga. Jika pelaksanaannya konsisten—termasuk pengawasan kualitas air dan distribusi—Batam bisa menjadi contoh bagaimana kota investasi mencegah krisis air bersih tanpa mengorbankan ambisi menjadi pusat ekonomi digital.






