Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Anak Sulit Berbagi? Ajarkan Empati Tanpa Marah

Anak Sulit Berbagi? Ajarkan Empati Tanpa Marah
Minat|Pengetahuan Parenting

Memahami proses anak belajar berbagi

Berbagi pada anak adalah keterampilan sosial yang tumbuh bertahap: anak belajar menunggu giliran, memahami kebutuhan orang lain, dan meminta izin dengan bimbingan orang dewasa yang konsisten. Jadi, jika anak sulit berbagi atau merebut mainan teman, jangan buru-buru menyebutnya egois; balita yang belum mau berbagi belum tentu egois. Sifat self-centered wajar pada tahap tertentu, meski tetap perlu diarahkan. Yang dibutuhkan bukan ceramah panjang, melainkan pendampingan dan kesempatan berlatih. Anda bisa mulai di rumah, tanpa menunggu anak bermain bersama teman. Tunjukkan juga perilaku yang ingin Anda ajarkan: misalnya, memperhatikan orang yang sedang kesusahan. Anak dapat belajar bahwa perasaan orang lain penting dengan meniru contoh orang tua. Berbagi bukan berarti setiap mainan harus dipinjamkan; anak juga perlu belajar meminta izin dan menghormati batasan.

Anak Sulit Berbagi? Ajarkan Empati Tanpa Marah

Latih bergiliran lewat permainan sehari-hari

Siapkan permainan sederhana yang sesuai usia, seperti bola, balok, puzzle, atau permainan papan. Sebelum teman datang, ajak anak memilih mainan yang bersedia dipakai bersama. Mainan kesayangan yang belum siap dipinjamkan boleh disimpan terlebih dahulu. Lalu ikuti urutan latihan ini:

  1. Mulai dengan permainan berdua di rumah. Katakan, «Sekarang giliran Mama, lalu giliran kamu,» sambil menunjukkan urutannya.
  2. Gunakan kalimat yang sama saat anak ingin mainan yang sedang dipakai orang lain: «Temanmu masih bermain. Setelah selesai, kamu boleh mencoba».
  3. Latih anak meminta giliran dengan sopan: «Boleh aku main setelah kamu selesai?».
  4. Saat menunggu, tawarkan kegiatan lain, seperti bermain balok atau menggambar. Akui perasaannya: «Kamu ingin sekali main mobil itu, ya. Memang rasanya tidak enak kalau harus menunggu».
  5. Apresiasi secara spesifik ketika anak berhasil menunggu, meski sebentar. Ulangi latihan dengan sabar.

Jangan hanya menyuruh anak menunggu tanpa memberi arahan; ia mungkin kembali merebut mainan.

Anak Sulit Berbagi? Ajarkan Empati Tanpa Marah

Hentikan tindakan, bukan merendahkan anak

Jika anak merebut mainan, dekati dan hentikan dengan tenang, terutama bila ada risiko anak lain terluka. Ucapkan batas yang jelas, misalnya, «Mama tidak akan membiarkan kamu merebut mainan. Temanmu masih memakainya. Kita tunggu sampai dia selesai, ya.» Hindari memarahi atau memberi label seperti «nakal» dan «pelit»; anak masih perlu dibantu memahami perilaku yang diharapkan. Inilah bedanya disiplin keras dan disiplin positif anak: yang pertama mengandalkan amarah atau cap buruk, sedangkan pendekatan positif menghentikan perilaku tanpa mempermalukan, lalu mengarahkan anak pada pilihan yang aman. Setelah suasana lebih tenang, tawarkan pilihan: menunggu, bermain dengan mainan lain, atau meminta bantuan untuk menyampaikan keinginannya. Anda juga bisa mengajak anak memikirkan perasaan temannya. Jika terjadi dorongan atau pukulan, pisahkan anak lebih dulu demi keselamatan, lalu bicarakan dampaknya setelah mereka tenang. Mengajarkan empati anak perlu pengulangan. Anak mungkin mampu menunggu di rumah tetapi masih kesulitan di tempat bermain yang ramai atau saat melihat mainan favorit. Tetap dampingi; jangan berharap satu nasihat langsung mengubah kebiasaan.

Anak Sulit Berbagi? Ajarkan Empati Tanpa Marah

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!