Kalau balita belum mau berbagi, aku tidak buru-buru menyebutnya pelit atau memaksa dia menyerahkan mainan yang sedang dipakai. Berbagi dan bergiliran berkembang bertahap: banyak anak usia 2 tahun masih sulit melepas benda yang disukai, sementara saat memasuki usia 3 tahun mereka mulai mencoba bergiliran atau bertukar dengan bantuan orang dewasa. Di rumah, aku akan menjaga batas mainan pribadi lalu melatih giliran lewat kalimat pendek dan permainan sederhana.
Kenapa balita belum mau berbagi?
Di usia 2 tahun, anak sering fokus pada keinginannya sendiri, belum selalu mau berbagi benda yang menarik, dan bisa bermain berdampingan tanpa banyak interaksi. Di saat yang sama, mereka juga bisa senang bermain di dekat anak lain, meniru, lalu makin sering berkata “tidak”. Dua hal itu tidak bertentangan: anak bisa nyaman bermain dekat temannya, tetapi belum siap menyerahkan mobil kesayangannya setiap kali diminta. Ini bagian dari perkembangan sosial usia 2 tahun dan aktivitas bermain anak usia 2 tahun.

Menjelang usia 3 tahun, sebagian anak mulai menyelesaikan konflik kecil dengan bergiliran atau bertukar mainan, tetapi masih perlu dorongan orang dewasa. Jadi, satu kejadian rebutan bukan bukti anak egois atau kurang diajari. Kemampuan menunggu dan mengatur keinginan memang masih dilatih.
Apa yang sebaiknya dilakukan saat anak menolak?
Menurutku, bedakan dulu mainan pribadi dan mainan bersama. Sebelum playdate, anak boleh memilih mainan kesayangan yang ingin disimpan. Mainan yang memang disiapkan untuk dipakai bersama bisa punya aturan giliran yang sederhana.

Kalau ada yang meminta mainan saat anak masih memakainya, aku akan jadi penengah, bukan juru paksa. Coba katakan, “Kamu masih main mobil itu. Setelah selesai, kita tawarkan gilirannya.” Kepada teman yang menunggu, “Boleh minta, tapi kita tunggu jawabannya.” Kalimat seperti ini mengakui keinginan kedua anak tanpa menyebut salah satunya pelit.
Untuk mainan bersama, bantu anak membuat giliran yang adil. Orang dewasa bisa menentukan siapa duluan dengan undian sederhana, memberi masing-masing satu giliran, atau menawarkan mainan dan kegiatan lain. Saat anak berebut atau mulai memukul, hentikan dulu perilaku yang membahayakan. Setelah aman, bantu namai perasaannya dan beri batas singkat: “Kamu kesal, aku dengar. Tapi tidak boleh memukul.” Anak juga belajar dari cara orang dewasa menengahi konflik dengan tenang.
Bagaimana melatih giliran tanpa menunggu konflik?
Mulai saat suasana santai, bukan ketika mainan sudah direbut. UNICEF Indonesia menyarankan kegiatan sederhana untuk anak usia 2 tahun, seperti menggulirkan bola atau saling mengoper mainan bersama orang dewasa. Permainan bolak-balik memberi kesempatan untuk merasakan pola “sekarang giliranku, lalu giliranmu” tanpa perlu ceramah panjang.

Kalau ada playdate, pertemuan kecil dengan dua atau tiga anak lebih mudah diawasi daripada langsung mengumpulkan banyak teman. Siapkan juga dua benda serupa atau kegiatan berdampingan, misalnya masing-masing menyusun balok. Bermain bersebelahan sudah termasuk pengalaman bermain; anak tidak harus berbagi satu benda setiap saat. Saat memang perlu bergiliran, ucapkan urutannya dengan jelas: “Sekarang giliran kamu. Setelah selesai, giliran teman.” Anak sekitar usia 3 tahun pun kadang masih membutuhkan bantuan untuk bergiliran dan bekerja sama.
Wajar nggak anak usia 2 tahun bilang “punyaku”?
Wajar kalau anak masih sulit berbagi benda yang sedang menarik perhatiannya. Aku tidak akan langsung memberi label pelit; lebih berguna membantu anak memahami giliran dan perasaan temannya.
Haruskah semua mainan dipinjamkan?
Tidak harus. Mainan pribadi boleh disimpan, sedangkan mainan yang disepakati untuk dipakai bersama bisa diatur gilirannya. Anak juga bisa belajar meminta izin tanpa selalu mendapat jawaban “boleh”.
Apa yang dilakukan kalau anak merebut?
Hentikan dengan tenang, amankan anak yang terdampak, lalu bantu kembalikan mainan kepada yang sedang memakainya. Setelah situasi reda, contohkan kalimat, “Boleh pinjam kalau dia sudah selesai?”
Targetku bukan membuat anak selalu berkata “iya”, melainkan membantunya belajar meminta izin, menunggu, dan menghormati batas temannya. Satu kali oper bola tanpa rebutan sudah bisa menjadi latihan; sisanya tumbuh pelan-pelan.






