Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Hobi ke Roda Usaha: Potensi Bisnis Kuliner Jalanan

Dari Hobi ke Roda Usaha: Potensi Bisnis Kuliner Jalanan
Minat|Makanan Kaki Lima

Kuliner Jalanan: Bukan Sekadar Dagangan di Pinggir Jalan

Bisnis kuliner jalanan adalah usaha makanan yang beroperasi di ruang publik—mulai dari gerobak, kios sederhana, hingga jualan keliling—yang mengandalkan menu terjangkau dan kedekatan langsung dengan konsumen untuk menghasilkan keuntungan cepat dan menjadi sumber penghidupan yang stabil bagi pelakunya. Dalam beberapa tahun terakhir, entrepreneur street food bukan lagi dipandang sebagai pilihan karir kelas dua, melainkan jalur realistis bagi anak muda dan pekerja yang ingin keluar dari kebuntuan karir formal. Dua kisah, Muhammad Hafifi dengan Mac Nches dan Solihin dengan Martabak Hari, menunjukkan bahwa modal usaha kecil, kepekaan membaca selera pasar, serta keberanian mengambil risiko bisa menyalakan mesin ekonomi rumah tangga. Mereka tidak menunggu kesempatan kerja datang; mereka menciptakan pekerjaan baru di trotoar dan pasar, lalu menjadikannya bisnis yang tumbuh.

Muhammad Hafifi: Mac Nches, Hobi Memasak yang Berbuah Usaha

Perjalanan Mac Nches berawal dari dapur rumah, ketika masakan Muhammad Hafifi yang rutin ia buat untuk keluarga mulai mendapat pujian dari orang-orang di sekitarnya. Alih-alih berhenti di level “hobi”, ia mengubah keahlian memasak itu menjadi bisnis kuliner jalanan dengan membuka Mac Nches di Jalan Dr. Wahidin No. 21, Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Yang menarik, ia memulai sebagai entrepreneur street food bukan dengan suntikan modal besar, melainkan dari tabungan pribadi sekitar Rp6 juta sebagai modal usaha kecil.

Mac Nches menawarkan olahan makaroni yang dikombinasikan dengan ayam dan kentang, dengan menu andalan seperti Mix Max dan Mix Mac yang dijual di kisaran Rp20.000–Rp30.000 per porsi. Pada awal berdiri Januari 2026, kedai ini tidak langsung ramai; Hafifi membutuhkan berbulan-bulan untuk menarik pelanggan dan sempat berjalan seorang diri. Namun ketekunan berpromosi lewat media sosial dan banner membuat penjualan harian meningkat menjadi sekitar 35–85 porsi, cukup untuk mempekerjakan dua karyawan yang kini membantu memasak dan menyajikan pesanan. Kisah ini menunjukkan kisah sukses UMKM kuliner yang tumbuh dari kombinasi passion, kebutuhan penghasilan, dan disiplin memasarkan diri.

Solihin dan Martabak Hari: Banting Setir dari Konstruksi ke Gerobak Martabak

Kalau Hafifi berangkat dari hobi, Solihin justru berangkat dari kegelisahan: proyek konstruksi yang tidak stabil membuat penghasilannya naik turun dan memaksa ia mencari alternatif untuk menopang keluarga. Sekitar satu dekade lalu, tanpa latar belakang kuliner, ia memutuskan banting setir dengan membangun usaha martabak yang kemudian ia beri nama Martabak Hari. Keputusan ini lahir dari momen sederhana—tetangga yang menjual kuali martabak—yang ia tangkap sebagai peluang. Di sinilah tampak sisi lain bisnis kuliner jalanan: ia sering dimulai dari kebutuhan mendesak, bukan sekadar mimpi romantis tentang dunia kuliner.

Awalnya, martabaknya sulit laku; produksi kecil pun belum habis terjual. Alih-alih menyerah, Solihin turun ke pasar, mengamati pedagang lain, mencicipi bumbu, dan meracik ulang resep hingga menemukan rasa yang disukai konsumen. Untuk pemasaran, ia memilih pola mobile—menjemput bola dari satu pasar ke pasar lain, datang ke titik keramaian, dan membentuk pelanggan yang menunggu jadwal kedatangannya. Pesanan pelan-pelan meluas ke acara kampus, kegiatan masyarakat, perusahaan, hingga pesanan besar sekitar 1.500 porsi dalam satu kegiatan. Usaha yang beralamat di Jalan Raya Bukit Sejahtera, Kecamatan Gandus, Palembang, kini menopang biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya, sekaligus memberi pekerjaan tambahan bagi tetangga dan teman. Ini adalah kisah sukses UMKM kuliner yang lahir dari kemampuan beradaptasi dan keberanian mengubah haluan karir.

Dari Hobi ke Roda Usaha: Potensi Bisnis Kuliner Jalanan

Mengapa Street Food Menjadi Jalur Karir yang Masuk Akal

Dua cerita di atas menegaskan satu pesan: bisnis kuliner jalanan punya logika ekonomi yang kuat bagi mereka yang siap bekerja keras. Hafifi memulai Mac Nches dengan modal usaha kecil Rp6 juta, sementara Solihin memulai Martabak Hari dengan alat yang ia dapat dari tetangga dan belajar resep dari pasar. Di balik tampilan sederhana gerobak atau kedai, ada mekanisme bisnis yang menarik—biaya awal relatif rendah, siklus penjualan harian, dan permintaan yang terjaga karena makanan adalah kebutuhan pokok.

Selain itu, posisi mereka di ruang publik memberi keuntungan: kedekatan dengan pelanggan membuat mereka cepat membaca selera, mengubah menu, dan menguji harga. Mac Nches, misalnya, memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok untuk memperluas jangkauan, sementara Martabak Hari mengoptimalkan penjualan keliling dan pesanan acara. Seiring waktu, usaha kecil ini tumbuh: Hafifi punya dua karyawan, Solihin punya tim untuk menangani pesanan besar dan layanan live cooking. Street food bukan sekadar lapak dadakan, melainkan platform entrepreneurship yang memungkinkan mobilitas ekonomi bagi pekerja kreatif maupun mereka yang terdorong keadaan.

Dari Hobi ke Roda Usaha: Potensi Bisnis Kuliner Jalanan

Pelajaran untuk Calon Entrepreneur Kuliner Jalanan

Kisah Hafifi dan Solihin menyampaikan bahwa kisah sukses UMKM kuliner tidak lahir dari keberuntungan, melainkan dari kombinasi keberanian memulai, ketekunan bertahan di fase sepi, dan kecerdasan membaca pasar. Hafifi mengubah hobi memasak menjadi Mac Nches dengan modal tabungan dan promosi aktif, sementara Solihin menjadikan ketidakpastian proyek konstruksi sebagai pemicu untuk menciptakan usaha martabak yang lebih fleksibel. Keduanya menunjukkan bahwa entrepreneur street food tidak harus punya latar belakang formal di bidang kuliner, tetapi wajib punya kemauan belajar dari konsumen.

Bagi calon pelaku bisnis kuliner jalanan, pelajaran praktisnya adalah: mulai dengan menu yang dikuasai, gunakan modal usaha kecil secara hati-hati, dan fokus membangun pelanggan, bukan sekadar mengejar viral. Penjualan 35–85 porsi per hari di Mac Nches dan pesanan hingga ribuan porsi di Martabak Hari tidak datang dalam semalam; itu hasil berbulan-bulan uji rasa, uji lokasi, dan uji strategi. Dalam konteks pasar kerja yang kian tidak pasti, jalur street food memberi satu opsi karir yang konkret: menciptakan ruang usaha sendiri, di trotoar, pasar, atau halaman acara, dan menjadikannya mesin penghasilan yang nyata.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!