KPBU Terminal Purabaya dan Betan Subing: Bukan Sekadar Proyek Fisik
Pengembangan Terminal Tipe A Purabaya di Sidoarjo dan Terminal Tipe A Betan Subing di Lampung Tengah melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) adalah proyek investasi terminal bus senilai sekitar Rp1,17 triliun yang ditujukan untuk memodernisasi layanan transportasi darat sekaligus menjadikan terminal sebagai simpul ekonomi regional yang produktif dan berkelanjutan. Langkah Kementerian Perhubungan ini patut dibaca sebagai sinyal tegas: era terminal yang hanya menjadi tempat naik-turun penumpang sudah selesai. Dengan market sounding yang digelar pada 20–21 Oktober 2026, pemerintah mengundang badan usaha dan lembaga keuangan untuk ikut merancang masa depan dua simpul penting jaringan transportasi antarkota dan antarpulau tersebut. Ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan ujian keseriusan negara dan swasta dalam membangun konektivitas ekonomi yang lebih terintegrasi.
Angka Investasi dan Daya Tarik Finansial: Mengapa Rp1,17 Triliun Layak Diperhitungkan
Dari sisi finansial, proyek KPBU infrastruktur ini menawarkan kombinasi menarik antara skala investasi dan potensi imbal hasil. Terminal Purabaya berdiri di atas lahan 12 hektare dengan estimasi kebutuhan investasi Rp780,4 miliar, masa kerja sama 30 tahun, dan internal rate of return (IRR) 13,33 persen. Sementara Betan Subing, di lahan 5,48 hektare, membutuhkan Rp397,3 miliar dengan masa kerja sama 20 tahun dan IRR 12,52 persen. Secara total, peluang investasi terminal bus ini mencapai sekitar Rp1,17 triliun. Bagi investor, angka IRR dua digit pada aset transportasi publik adalah tawaran yang jarang muncul, apalagi dengan dukungan regulasi dan aset lahan yang sudah tersedia. Namun, daya tarik sesungguhnya justru terletak pada potensi pengembangan kawasan usaha di dalam terminal, yang bisa membuka sumber pendapatan di luar tiket dan retribusi.
| Spesifikasi | Terminal Purabaya | Terminal Betan Subing |
|---|---|---|
| Luas lahan | 12 hektare | 5,48 hektare |
| Kebutuhan investasi | Rp780,4 miliar | Rp397,3 miliar |
| Masa kerja sama | 30 tahun | 20 tahun |
| IRR | 13,33 persen | 12,52 persen |

Konsep Mixed Use: Terminal sebagai Gerbang Ekonomi, Bukan Ruang Tunggu
Kemenhub secara eksplisit mendorong Terminal Purabaya modernisasi dan Betan Subing pengembangan dengan konsep mixed use: fungsi transportasi dipadukan dengan aktivitas usaha dalam satu kawasan. Ini adalah pergeseran paradigma yang penting. Terminal penumpang tipe A diposisikan sebagai gerbang utama wilayah perkotaan, lengkap dengan food court, fasilitas pendidikan, co-working space, layanan kesehatan, sports center, hingga convention hall. Ditambah lagi, peluang pameran, bazar, sponsorship, dan naming rights membuka ruang bagi model bisnis kreatif. "Pengembangan kedua terminal ini akan diarahkan dengan konsep mixed use yaitu memadukan fungsi pelayanan transportasi dengan kegiatan-kegiatan usaha dalam satu kawasan," ujar Direktur Prasarana Transportasi Jalan, Toni Tauladan. Jika dijalankan konsisten, terminal dapat berubah menjadi pusat aktivitas yang hidup, bukan area yang sepi di luar jam keberangkatan bus.
Dampak ke Pengguna dan UMKM: Konektivitas Logistik yang Lebih Manusiawi
Bagi penumpang dan pelaku usaha kecil, investasi terminal bus ini berpotensi mengubah pengalaman perjalanan dan aktivitas ekonomi sehari-hari. Pengembangan diarahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan transportasi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan aset pemerintah sebagai kawasan usaha yang produktif dan berkelanjutan. Artinya, penumpang tidak hanya mendapatkan akses bus antarkota yang lebih tertata dan efisien, tetapi juga fasilitas pendukung seperti layanan kesehatan, ruang kerja, dan area kuliner yang layak. Di sisi lain, UMKM mendapat ruang berjualan yang lebih terstruktur dan ramai, bukan sekadar mengandalkan lapak informal di pinggir jalan. Pengembangan fungsi komersial tetap diwajibkan mendukung fungsi utama terminal sebagai fasilitas pelayanan transportasi. Jika keseimbangan ini dijaga, terminal akan menjadi simpul logistik yang manusiawi: mengalirkan barang dan orang, sekaligus memberi nilai tambah bagi komunitas sekitar.
Strategi Konektivitas Regional dan Tantangan Implementasi KPBU
Secara strategis, Purabaya dan Betan Subing ditempatkan sebagai simpul penting konektivitas ekonomi regional. Purabaya berada di salah satu kawasan ekonomi terpadat, sementara Betan Subing menghubungkan denyut ekonomi Sumatera bagian selatan. Di tengah 129 terminal tipe A yang ada, pemerintah ingin menjadikan KPBU infrastruktur sebagai model inovasi pengelolaan terminal, agar pelayanan publik berjalan seiring pengembangan kegiatan ekonomi. Market sounding yang digelar bersama kementerian investasi bukan sekadar formalitas, melainkan upaya mengajak calon investor terlibat sejak prastudi kelayakan dan menyampaikan Letter of Intent sebagai tindak lanjut. Namun, tantangannya jelas: memastikan skema KPBU tidak terjebak pada komersialisasi berlebihan yang mengorbankan akses publik, serta menjaga agar desain dan operasi terminal benar-benar mendukung efisiensi jaringan transportasi darat lintas pulau. Keberhasilan dua proyek ini akan menjadi tolok ukur apakah KPBU mampu menjadi tulang punggung konektivitas logistik yang berkelanjutan.






