Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Terapi hingga Pendidikan Psikologi: Wajah Baru Kesehatan Mental Polisi

Dari Terapi hingga Pendidikan Psikologi: Wajah Baru Kesehatan Mental Polisi
Minat|Kesehatan Mental

Kesehatan Mental Polisi: Dari Beban Individu Menjadi Tanggung Jawab Institusi

Kesehatan mental polisi adalah kondisi emosional, psikologis, dan sosial personel kepolisian yang mempengaruhi cara mereka berpikir, merasakan, mengambil keputusan, dan bertindak ketika melayani masyarakat, termasuk kemampuan mengelola stres, trauma, dan tekanan tugas berisiko tinggi secara berkelanjutan dengan dukungan sistemik dari institusi. Dalam konteks hari ini, kesehatan mental polisi bukan lagi isu personal yang diserahkan pada ketangguhan individu, melainkan agenda kelembagaan. Polri mulai mengaitkan kesejahteraan jiwa dengan kualitas pelayanan dan keamanan publik. Dari program terapi personel hingga pendidikan psikologi formal, muncul kesadaran baru: polisi yang stabil mentalnya bukan bonus, melainkan prasyarat. Itu sebabnya muncul berbagai inisiatif, mulai dari terapi kebugaran di jajaran Polda, penguatan psikologi kepolisian di tingkat pusat, hingga sosialisasi kesehatan jiwa di akar rumput. Semua mengarah pada satu pesan: kesejahteraan SDM Polri adalah strategi keamanan, bukan hiasan kebijakan.

Terapi Pemulihan Polda: Tubuh, Pikiran, dan SDM Unggul

Program terapi pemulihan yang diinisiasi Kapolda NTT menandai geserannya paradigma: performa tidak lagi diukur dari seberapa kuat anggota menahan beban, tetapi seberapa sehat mereka dipulihkan. Polda NTT menggelar kegiatan terapi kebugaran dan pengembangan potensi diri bertema “Optimalkan Kebugaran, Asah Potensi Diri, Sukses Berkarya” di Ruang Rupatama pada Selasa, 22 September, sebagai upaya menjaga performa dan kesejahteraan mental serta fisik para personel. Inovasi terapi ini menghadirkan dr. Hanson Barki dari Klinik Hanara dengan kombinasi olahraga modern, teknologi energy conditioning, dan adab budaya Nuswantara. Dalam sesi tersebut, anggota menjalani relaksasi dengan media khusus dan ember, lalu latihan fisik terukur seperti lari beberapa menit untuk menguji peningkatan kebugaran. Menurut keterangan resmi, kegiatan ini adalah wujud kepedulian pimpinan terhadap kesehatan holistik jajaran kepolisian dan diharapkan bukan sekadar mengurangi keluhan fisik, tetapi membangkitkan kembali motivasi serta potensi diri anggota dalam menjalankan tugas di wilayah hukum Polda NTT.

Psikologi Kepolisian: Peran Strategis Kabagpsipol dan SDM

Terapi tanpa struktur kelembagaan hanya akan menjadi agenda seremonial. Di sinilah pentingnya posisi seperti Kabagpsipol SSDM Polri. Kombes Pol Dr Horas M Silaen, M.Psi., Psikolog, resmi menjabat Kepala Bagian Psikologi Kepolisian SSDM Polri, menggantikan Kombes Pol Hary Prasetya. Jabatan ini dirancang untuk mengelola fungsi psikologi keamanan dan kepolisian di tingkat nasional, sebuah sinyal bahwa psikologi kepolisian dipandang sebagai disiplin strategis, bukan pelengkap. Horas bukan sekadar pejabat administratif; ia menyelesaikan pendidikan doktoral di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian pada 2025, yang dinilai sebagai wujud komitmen terhadap pengembangan ilmu psikologi kepolisian demi peningkatan kualitas SDM Polri. Ia juga dikenal aktif memberi edukasi klinis di berbagai Rakorbin SDM Polda tentang pentingnya manajemen stres dan menjaga kesehatan mental perwira sebagai fondasi performa kerja. Kesejahteraan SDM Polri dalam kerangka ini bukan jargon, melainkan proyek pengetahuan: menghubungkan data lapangan, teori psikologi, dan kebijakan personalia agar kesehatan mental polisi terkelola secara sistemik.

Ipda Purnomo: Pendidikan Psikologi untuk ODGJ dan Kelompok Rentan

Jika di pusat lahir struktur psikologi kepolisian, di lapangan muncul figur seperti Ipda Purnomo yang mengisi celah kemanusiaan. Pria yang dikenal sebagai “Polisi Baik” ini telah merawat kurang lebih 500 ODGJ selama hampir sepuluh tahun terakhir. Ia mengelola Yayasan Berkas Bersinar Abadi di Lamongan yang menjadi rumah aman bagi ODGJ, lansia terlantar, anak jalanan, dan mereka yang berjuang lepas dari narkoba. Kini ia mengambil langkah berani dengan menempuh studi Magister Psikologi di Universitas Negeri Surabaya, bukan untuk mengejar status, melainkan untuk mempertajam kapasitas pendampingan psikologis bagi ratusan penerima manfaat. Ia mengakui selama ini banyak belajar secara otodidak, sehingga legitimasi keilmuan diperlukan agar intervensi lebih profesional. Menariknya, ia juga menargetkan sekitar 30 anggota tim yayasannya ikut mendalami ilmu psikologi, agar standar layanan sosial di yayasannya meningkat. Di tengah popularitas kanal YouTube-nya yang mencapai 2,7 juta subscribers, langkah melanjutkan S2 Psikologi menunjukkan pesan penting: psikologi bukan sekadar konten inspiratif, tapi alat kerja nyata untuk menyelamatkan kehidupan kelompok rentan.

Dari Terapi hingga Pendidikan Psikologi: Wajah Baru Kesehatan Mental Polisi

Bhabinkamtibmas dan Sosialisasi Kesehatan Jiwa di Akar Rumput

Upaya kesehatan mental polisi tidak cukup berhenti di internal; ia harus menjalar ke masyarakat. Unit Binmas Polsek Kuta Utara menunjukkan hal ini ketika seluruh Bhabinkamtibmas mengikuti Sosialisasi Kesehatan Jiwa Masyarakat di Kantor Camat Kuta Utara pada Rabu siang. Kegiatan bertema Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) bagi keluarga, komunitas, dan lembaga ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan jiwa. Di sini, polisi diposisikan sebagai edukator yang membantu mengurangi stigma terhadap ODGJ dan mendorong lingkungan yang aman serta mendukung bagi setiap individu. Melalui keikutsertaan Bhabinkamtibmas, diharapkan Polri berperan aktif memberi sosialisasi kesehatan jiwa dan pendampingan masyarakat, sehingga kamtibmas yang kondusif dibangun bukan hanya dengan patroli bersenjata, tetapi juga dengan empati dan literasi psikologis. Menariknya, kegiatan ini mungkin tampak kecil (bahkan hanya tercatat 16 kali tayang pada laman beritanya), namun secara substantif ia menggeser peran polisi: dari sekadar penegak hukum menjadi penjaga kesehatan jiwa komunitas.

Kesimpulan: Kesehatan Mental sebagai Strategi Keamanan Baru

Rangkaian inisiatif ini menunjukkan pola yang konsisten: kesehatan mental polisi sedang diposisikan sebagai strategi keamanan baru. Terapi pemulihan di Polda NTT menggarisbawahi bahwa tubuh dan pikiran anggota adalah aset institusi, bukan sumber daya yang boleh dihabiskan. Penguatan psikologi kepolisian melalui Kabagpsipol di tingkat pusat memperlihatkan keseriusan membangun kerangka ilmiah dan kelembagaan. Di sisi lain, keberanian Ipda Purnomo melanjutkan S2 Psikologi demi perawatan ODGJ dan kelompok rentan memperluas makna pengabdian polisi sebagai pelindung jiwa, bukan hanya pelindung harta. Sementara sosialisasi kesehatan jiwa oleh Bhabinkamtibmas mengikat semua itu dengan realitas masyarakat sehari-hari. Tantangannya ke depan adalah konsistensi: memastikan program terapi personel tidak berhenti pada simbol, memperluas pendidikan psikologi di jajaran, dan menjadikan sosialisasi kesehatan jiwa sebagai tugas rutin. Polisi sehat mental berarti masyarakat lebih aman; mengabaikannya berarti berjudi dengan masa depan keamanan publik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!