ISPA pada Balita: Darurat yang Tak Boleh Dinormalisasi
ISPA pada balita adalah infeksi saluran pernapasan anak yang muncul tiba-tiba, menyerang hidung, tenggorokan, hingga paru, dan pada usia di bawah lima tahun dapat berkembang cepat menjadi kondisi gawat yang mengancam napas, mengganggu tidur, nafsu makan, serta tumbuh kembang jika tidak ditangani segera. Lonjakan kasus ISPA pada balita akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar angka statistik, melainkan sinyal bahwa kesehatan anak kabut asap sedang berada dalam kondisi darurat. Sebanyak 70.239 balita tercatat mengalami infeksi saluran pernapasan akut di tujuh provinsi terdampak karhutla, dari total 311.363 kasus ISPA yang dilaporkan Kementerian Kesehatan per 17 Oktober 2026. Fakta ini seharusnya membuat orang tua mengubah cara pandang: kabut asap bukan “musim tahunan”, melainkan ancaman langsung terhadap paru-paru anak. Menunggu udara membaik tanpa tindakan adalah bentuk pembiaran.
Kelompok Paling Rentan dan Ancaman Lost Generation
Anak-anak adalah kelompok paling rentan saat bencana, termasuk ketika kabut asap menutup langit berhari-hari. Paru-paru mereka belum matang, sistem imun belum kuat, dan mereka bergantung penuh pada keputusan orang dewasa. Selain balita, kelompok lanjut usia juga terdampak karhutla, tetapi dampak jangka panjang pada anak jauh lebih mengkhawatirkan. Perhimpunan Filantropi Indonesia memperingatkan potensi lost generation, yaitu hilangnya potensi satu generasi akibat paparan asap berulang yang mengganggu kesehatan dan tumbuh kembang anak. Laporan Karhutla 2026 menunjukkan paparan asap karhutla 1997 membuat janin dan anak yang terpapar tumbuh 3,3 cm lebih pendek atau mengalami stunting pada usia 17 tahun. Lebih parah lagi, bencana karhutla 1997 dikaitkan dengan 15.600 kematian bayi. Orang tua perlu menyadari: membiarkan anak terus terpapar asap berarti mempertaruhkan masa depan fisik dan kecerdasannya.
Peran Negara Penting, Tapi Orang Tua Tak Boleh Pasif
Ketua DPR Puan Maharani menilai pemerintah perlu mempercepat penanganan karhutla sekaligus memastikan keselamatan anak menjadi prioritas. Ia menegaskan perlindungan anak dari kabut asap harus menjadi komitmen nasional dan tujuan bersama dalam penanganan karhutla. Di atas kertas, ini adalah sinyal politik yang kuat. Namun, orang tua tidak bisa menunggu semua janji itu sempurna dulu. Puan mengingatkan bahwa laporan kasus pada balita yang cukup banyak harus diikuti komitmen berkelanjutan sampai masa pemulihan, ketika kualitas udara mulai membaik dan aktivitas masyarakat kembali normal. Di lapangan, masa pemulihan sering membuat kewaspadaan turun, padahal gangguan pernapasan anak bisa berlanjut. Orang tua perlu bersikap kritis: dorong pemerintah dan fasilitas kesehatan untuk menyediakan peralatan medis dan posko kesehatan, tetapi tetap aktif memantau kondisi anak di rumah.
Layanan BPJS Kesehatan Anak: Hak, Bukan Sekadar Bantuan
Dalam situasi kabut asap, biaya berobat tidak boleh menjadi alasan anak terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan. Puan meminta pemerintah memperkuat perlindungan anak dengan memastikan akses layanan kesehatan dan membebaskan biaya pengobatan bagi korban karhutla. Ia menegaskan, “Jangan sampai para korban Karhutla ini menanggung beban ganda. Pastikan layanan BPJS bagi masyarakat terdampak tidak ada hambatan”. Ini bukan sekadar imbauan moral, tetapi pengingat bahwa layanan BPJS kesehatan anak adalah hak yang harus bisa digunakan tanpa rumit, terutama untuk infeksi saluran pernapasan anak yang butuh penanganan cepat. Orang tua perlu berani menuntut hak ini: bawa kartu BPJS, catat keluhan anak dengan jelas, dan bila ada hambatan administratif, minta penjelasan tertulis. Dalam krisis kesehatan anak kabut asap, akses pengobatan gratis dan tanpa hambatan adalah garis pertahanan terakhir yang tidak boleh jebol.
Kesimpulan: Lindungi Napas Anak, Sekarang Juga
Lebih dari 70 ribu kasus ISPA pada balita akibat kabut asap adalah alarm keras bahwa paru-paru anak sedang membayar harga dari kebakaran hutan dan lahan. Negara wajib hadir, tetapi tanggung jawab pertama melindungi anak tetap ada di tangan orang tua. Data tentang lost generation, stunting 3,3 cm pada usia 17 tahun, dan ribuan kematian bayi akibat paparan asap masa lalu menunjukkan bahwa dampak hari ini bisa menghantui satu generasi. Orang tua perlu bersikap tegas: anggap kabut asap sebagai darurat kesehatan, bukan cuaca buruk biasa. Gunakan setiap saluran yang ada—posko kesehatan, fasilitas medis, hingga layanan BPJS kesehatan anak—untuk memastikan infeksi saluran pernapasan anak tidak dibiarkan memburuk. Napas anak hari ini adalah kualitas hidup mereka di masa depan; menunda bertindak berarti ikut menyumbang pada hilangnya satu generasi.






