Pelatihan AI Guru: Bukan Lagi Opsi, Melainkan Kebutuhan Mendesak
Pelatihan AI guru adalah rangkaian kegiatan pembinaan dan pendampingan yang bertujuan membekali pendidik dengan keterampilan praktis menggunakan kecerdasan buatan sebagai tools AI pembelajaran, mulai dari perancangan materi, media edukatif, hingga strategi interaktif di kelas, sehingga guru tidak hanya memahami konsep teknologi, tetapi mampu mengintegrasikannya secara etis dan efektif dalam proses belajar mengajar yang berpusat pada karakter siswa. Program pembinaan AI sekolah yang kini muncul di berbagai daerah menunjukkan satu hal penting: guru tidak bisa lagi memandang kecerdasan buatan sebagai hal teknis di luar ranah pedagogi, melainkan sebagai bagian dari literasi AI pendidikan yang menentukan relevansi metode mengajar mereka ke depan. Tanpa kemampuan memanfaatkan AI, guru berisiko tertinggal dari cara belajar murid yang telah akrab dengan gawai, algoritma rekomendasi, dan konten digital yang membentuk pandangan mereka setiap hari.
Aceh: AI Dijadikan Perisai Karakter, Bukan Sekadar Gimmick Teknologi
Di Aceh, pelatihan AI guru tidak berhenti pada pengenalan aplikasi, tetapi langsung dikaitkan dengan misi membentuk akhlak dan karakter siswa. Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam di lingkungan Kementerian Agama provinsi membuka Pembinaan Guru PAI bertema “Implementasi Artificial Intelligence sebagai Tools dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam” di SMPN 3 Ingin Jaya Aceh Besar pada 3 September 2026. Sekitar 50 guru PAI dibekali keterampilan memanfaatkan kecerdasan buatan sebagai alat bantu pembelajaran, sebuah angka yang kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan, tetapi cukup untuk menunjukkan arah kebijakan: AI harus menjadi mitra guru, bukan pengganti. Dalam pembinaan itu, AI dipakai untuk hal yang sangat konkret, misalnya merancang poster kampanye pencegahan perundungan di media sosial dan edukasi perilaku seksual berisiko atau LGBT. Pendekatan ini tegas: teknologi diposisikan sebagai alat visual dan komunikatif untuk menegaskan batasan nilai agama, menjaga martabat siswa, dan menahan arus konten digital yang sering kali bertabrakan dengan pesan moral yang diajarkan di kelas.

Kelas PAI di Aceh Besar: Dari Materi Ceramah ke Konten Kreatif Berbasis AI
Pelatihan di Aceh Besar menunjukkan pergeseran pendekatan pengajaran Pendidikan Agama Islam: dari ceramah satu arah menjadi pembelajaran yang memanfaatkan tools AI pembelajaran untuk menghadirkan materi lebih menarik bagi siswa. Kepala kantor Kemenag setempat menegaskan bahwa perkembangan teknologi menuntut guru bukan hanya mengikuti perubahan, tetapi bijak memanfaatkannya. Ini poin krusial: literasi digital dan literasi AI pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan teknis mengoperasikan aplikasi; ia harus disaring oleh tujuan utama PAI, yakni membentuk akhlak unggul. "Tidak ada gunanya siswa-siswi kita cerdas secara sains, tapi akhlak nol. Itu akan mengundang bencana, kejahatan dan ancaman lainnya," ujarnya. Di sini pelatihan AI guru bersifat normatif sekaligus praktis: guru diajak memetakan masalah nyata yang dihadapi murid—perundungan, pelecehan, perilaku seksual berisiko—lalu menggunakan AI untuk membuat materi, diskusi, dan kampanye digital yang relevan dengan pengalaman mereka sehari-hari.
Sumatera Barat: Literasi AI Pendidikan sebagai Kolaborasi Pemerintah dan Swasta
Berbeda dari Aceh yang fokus pada guru PAI, pemerintah di Sumatera Barat memilih jalur kolaborasi dengan penyedia platform pendidikan untuk mengangkat literasi AI pendidikan. Pemerintah provinsi bersama Ruangguru memberikan pelatihan penggunaan kecerdasan artifisial kepada guru dan siswa untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah. Ini strategi yang patut dicatat: alih-alih mengembangkan semua modul sendiri, pemerintah memanfaatkan ekosistem edtech yang sudah lebih dulu membangun teknologi dan konten berbasis AI. Dampaknya, guru dan siswa tidak hanya belajar konsep, tetapi langsung melihat AI bekerja dalam modul, bank soal, ataupun sistem rekomendasi materi. Program seperti ini mempercepat transformasi digital sekolah karena menggabungkan kebijakan publik dengan kapasitas teknis sektor swasta. Namun, tantangannya jelas: tanpa kerangka etika yang kuat dari otoritas pendidikan, penggunaan AI berpotensi hanya mempercepat pembelajaran akademik dan melupakan dimensi karakter, sesuatu yang diingatkan keras oleh para pengampu PAI di Aceh.
Dari Workshop ke Ruang Kelas: AI Harus Menyentuh Praktik Harian Guru
Benang merah dari berbagai program pembinaan AI sekolah di Aceh dan Sumatera Barat jelas: pelatihan yang hanya berisi teori sudah lewat masa berlakunya. Di Aceh Besar, sekitar 50 guru PAI langsung diajak memanfaatkan AI sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran dan kampanye anti-bullying. Di Sumatera Barat, pelatihan bagi guru dan siswa difokuskan untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah melalui penggunaan sistem berbasis kecerdasan artifisial. Ini langkah ke arah yang tepat, tetapi belum cukup. Kunci keberhasilan pelatihan AI guru adalah keberlanjutan: apakah setelah workshop guru benar-benar mengubah cara menyusun materi, memfasilitasi diskusi, dan merespons problem sosial murid dengan bantuan AI? Jika AI hanya muncul sesekali sebagai tugas membuat poster, maka potensinya belum tergarap. Program ke depan harus berani menempatkan AI di jantung praktik kelas—tanpa mengorbankan nilai agama, etika, dan peran guru sebagai pembimbing karakter—agar transformasi digital pendidikan tidak berhenti di seminar, tetapi terasa di ritme harian belajar mengajar.






