Gambaran Umum Biaya Kepemilikan 5 Tahun
Biaya kepemilikan mobil listrik adalah total pengeluaran selama periode penggunaan tertentu, biasanya lima tahun, yang mencakup biaya energi, servis berkala, perbaikan, pajak, asuransi, penggantian komponen besar seperti baterai, hingga nilai jual kembali ketika kendaraan dijual atau ditukar dengan unit baru sehingga pemilik mendapatkan gambaran utuh beban finansial jangka panjang dan bukan hanya harga beli awal.
Jika disederhanakan, mobil atau motor listrik unggul di biaya energi dan servis, sedangkan motor bensin unggul di fleksibilitas pemakaian dan nilai jual kembali. Untuk lima tahun, total cost ownership EV (total cost of ownership/ TCO) harus melihat energi, perawatan, pajak, insentif, dan depresiasi harga jual. Dari kedua jenis kendaraan, baik motor listrik maupun motor bensin punya kelebihan dan kekurangan masing-masing yang perlu disesuaikan dengan pola pakai. Bagi pengguna urban dengan jarak tempuh tinggi, terutama ojol, selisih biaya operasional bisa mengubah penghasilan bersih harian dan menentukan mana yang lebih masuk akal.
Biaya Energi: Listrik Jauh Lebih Murah, Tapi Ada Syarat
Dari sisi energi, kendaraan listrik hampir selalu menang di angka rupiah per kilometer. Pengamat menyebut biaya penggunaan motor listrik sekitar Rp42 per kilometer, sementara motor bensin berkisar Rp200–Rp246 per kilometer. Dengan asumsi 15.000 kilometer per tahun, selama lima tahun biaya energi motor listrik diperkirakan Rp3–4 juta, sedangkan motor bensin bisa mencapai Rp14–18 juta. Ini adalah penghematan yang besar bagi pemilik yang menempuh jarak rutin dan jauh.
Untuk skenario ojol jarak 150 km per hari, simulasi menunjukkan motor bensin dengan konsumsi 1 liter per 50 km akan membutuhkan 3 liter per hari. Dengan harga Rp10.000 per liter, biaya bensin menjadi Rp30.000 per hari. Motor listrik di jarak sama hanya butuh dua kali pengecasan dengan biaya sekitar Rp10.000 per hari. Bagi pengemudi ojol, ini berujung pada pendapatan bersih sekitar Rp210.000 per hari untuk motor bensin dan Rp230.000 dengan motor listrik. Namun, efisiensi ini sangat bergantung pola penggunaan; motor bensin modern sudah irit 45–55 km/liter dan motor listrik sekitar 30–35 km/kWh, sehingga keunggulan tetap bergantung pada jarak dan frekuensi pakai.
| Komponen Biaya Energi 5 Tahun | Motor/Mobil Listrik (EV) | Motor Bensin |
|---|---|---|
| Biaya per km (energi) | ±Rp42/km | ±Rp200–Rp246/km |
| Biaya energi 5 tahun (15.000 km/tahun) | ±Rp3–4 juta | ±Rp14–18 juta |
| Biaya harian ojol 150 km | ±Rp10.000/hari | ±Rp30.000/hari |
| Selisih pendapatan bersih ojol | EV unggul ±Rp20.000/hari | - |
Servis, Perawatan, Pajak, dan Asuransi: Diam-Diam Menggerus Dompet
Dari sisi perawatan, motor listrik secara struktur lebih sederhana. Tidak ada oli mesin, filter bahan bakar, busi, atau v-belt yang rutin diganti, sehingga servis tahunan biasanya hanya mencakup pengecekan rem, komstir, dan komponen dasar lain. Biaya servis rutin motor listrik diperkirakan Rp150.000–Rp500.000 per tahun, sedangkan motor bensin bisa menghabiskan Rp1 juta–Rp1,5 juta per tahun hanya untuk perawatan berkala. Dalam lima tahun, selisih ini makin terasa, terutama bagi pengguna yang rutin servis sesuai buku panduan.
Soal pajak, kendaraan listrik mendapat beban pajak yang lebih ringan dibanding motor bensin. Namun, pembebasan penuh Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama tidak lagi otomatis berlaku setelah terbitnya aturan baru, sehingga insentif kini sangat tergantung kebijakan daerah. Artinya, keuntungan pajak tetap ada, tetapi tidak sebesar era awal adopsi kendaraan listrik. Untuk asuransi, premi biasanya menyesuaikan harga kendaraan dan risiko; secara logika, biaya perbaikan baterai dan komponen listrik bisa membuat premi EV sedikit berbeda, namun angka pastinya sangat tergantung produk asuransi yang dipilih dan tidak dijelaskan dalam data sumber.
Baterai, Nilai Jual Kembali, dan Tantangan Praktis
Baterai adalah komponen termahal sekaligus sumber kekhawatiran. Baterai motor listrik umumnya dilindungi garansi 3–5 tahun atau 50.000–100.000 km, sehingga dalam lima tahun pertama biasanya belum perlu diganti. Namun harga baterai yang mahal dan belum jelasnya acuan usia pakai jangka panjang membuat banyak calon pembeli ragu. Menurut pengamat lain, bobot motor listrik yang lebih berat berpotensi membuat ban lebih cepat aus, menambah sedikit biaya perawatan di sisi lain.
Nilai jual kembali juga menjadi titik lemah EV. Depresiasi motor listrik diperkirakan lebih besar dibanding motor bensin karena kekhawatiran kondisi baterai dan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Di sisi lain, motor bensin sudah mapan; pembeli bekas lebih percaya dengan mesin yang terbukti, sehingga harga jual cenderung lebih stabil. Meski begitu, penurunan nilai jual EV masih bisa diimbangi penghematan biaya operasional, terutama bagi pengguna yang menempuh sekitar 15.000 km per tahun. Tantangan lainnya, banyak motor listrik saat ini punya jarak tempuh di bawah 120 km per sekali isi daya, sehingga pemilik dengan mobilitas tinggi harus sering mengecas atau menukar baterai.
Rekomendasi: Pengguna Urban, Ojol, dan Komuter Harian
Untuk pengguna urban dengan jarak tempuh tinggi, seperti komuter harian lintas kota atau ojol, kendaraan listrik semakin masuk akal. Simulasi pengemudi ojol menunjukkan biaya listrik sekitar Rp10.000 per hari untuk 150 km, dibanding bensin Rp30.000 untuk jarak yang sama, sehingga pendapatan bersih motor listrik bisa lebih tinggi sekitar Rp20.000 per hari. Dalam sebulan dan setahun, selisih ini bisa menutup biaya awal dan depresiasi yang lebih besar. Bagi driver ojol yang disiplin mencatat jarak tempuh dan mudah mengakses titik pengisian atau penukaran baterai, EV jelas memberi potensi keuntungan bersih lebih besar.
Namun, motor bensin tetap relevan untuk mereka yang butuh kendaraan yang bisa digunakan terus-menerus tanpa jeda pengisian, misalnya perjalanan luar kota, perjalanan mendadak malam hari, atau wilayah yang minim infrastruktur pengecasan. Motor bensin mengeluarkan biaya bahan bakar dan perawatan lebih besar, tetapi unggul di fleksibilitas dan nilai jual kembali yang lebih terprediksi. Intinya, bagi pengguna yang tidak menempuh jarak jauh tiap tahun atau sering memakai kendaraan di area tanpa fasilitas listrik memadai, kepraktisan motor bensin bisa mengalahkan semua penghematan teoritis EV.
Buy if / Skip if
- Buy the EV jika Anda komuter urban atau ojol dengan jarak tempuh sekitar 15.000 km per tahun dan ingin menekan biaya energi serta servis jangka panjang.
- Skip the EV if Anda sering berkendara jauh, butuh kendaraan siap pakai sepanjang hari, dan belum punya akses mudah ke fasilitas pengecasan atau penukaran baterai.
- Buy the motor bensin if Anda mengutamakan fleksibilitas pengisian cepat, jaringan bengkel luas, dan nilai jual kembali yang lebih stabil.
- Skip the motor bensin if biaya bahan bakar harian dan servis berkala yang lebih tinggi akan menggerus sebagian besar penghasilan Anda sebagai pengemudi ojol atau komuter padat.
- Buy the EV jika Anda nyaman dengan risiko depresiasi lebih besar tetapi ingin mengandalkan penghematan biaya operasional untuk menutup selisih tersebut.
- Skip the EV if kekhawatiran soal usia baterai, depresiasi tinggi, dan ketersediaan suku cadang membuat Anda tidak tenang menyimpan kendaraan dalam jangka panjang.






