Gambaran Umum: Motor Listrik Hemat Biaya, Tapi Tidak Untuk Semua
Perbandingan biaya operasional motor bensin vs listrik adalah analisis total cost ownership motor yang mencakup energi, perawatan, pajak, serta nilai jual kembali selama periode pemakaian tertentu, sehingga calon pemilik dapat melihat motor listrik hemat biaya atau tidak untuk pola pakai mereka sendiri. Secara garis besar, motor listrik menang dari sisi biaya energi dan perawatan harian, sementara motor bensin unggul di jaringan servis luas dan nilai jual kembali yang lebih stabil. Untuk pemilik yang menempuh jarak tinggi setiap tahun, motor listrik cenderung lebih menguntungkan. Namun bagi pengguna yang jaraknya pendek atau sangat mengutamakan kemudahan isi bahan bakar dan fleksibilitas perjalanan jauh, motor bensin masih terasa lebih praktis. Jadi, pilihan terbaik bukan hanya soal teknologi baru, melainkan seberapa cocok karakter kendaraan dengan kebiasaan berkendara dan rencana pemakaian lima tahun ke depan.

Biaya Energi 5 Tahun: Listrik Unggul Telak
Di sisi energi, motor listrik hemat biaya jauh lebih jelas terlihat. Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menyebut biaya penggunaan motor listrik sekitar Rp42 per kilometer, sementara motor bensin berada di kisaran Rp200–Rp246 per kilometer. Dengan asumsi jarak 15.000 kilometer per tahun, dalam lima tahun motor listrik hanya menghabiskan sekitar Rp3–4 juta untuk energi, sedangkan motor bensin mencapai Rp14–18 juta. "Pengguna motor listrik berpotensi menghemat Rp11–14 juta hanya dari biaya energi". Data ini sejalan dengan fakta bahwa pengisian daya baterai membutuhkan biaya listrik yang lebih murah dibanding membeli bensin. Namun, efisiensi tetap bergantung pada pola penggunaan. Motor bensin modern sudah sangat irit dengan konsumsi rata-rata 45–55 kilometer per liter, sedangkan motor listrik umumnya punya daya jelajah 30–35 kilometer per kWh. Artinya, untuk rute dan jarak tertentu, selisih biaya bisa lebih kecil atau lebih besar.
| Komponen Biaya Energi (5 Tahun) | Motor Listrik | Motor Bensin |
|---|---|---|
| Biaya per km | ± Rp42/km | ± Rp200–Rp246/km |
| Total biaya energi (15.000 km/tahun) | ± Rp3–4 juta | ± Rp14–18 juta |
| Potensi penghematan energi | Hemat ± Rp11–14 juta | Lebih boros dibanding listrik |
Perawatan, Pajak, dan Asuransi: Di Mana Motor Listrik Lebih Unggul?
Dalam perbandingan biaya operasional, perawatan menjadi salah satu faktor yang paling sering diabaikan. Motor listrik diuntungkan karena tidak membutuhkan oli mesin, filter bahan bakar, busi, maupun v-belt, sehingga jadwal servis lebih sederhana dan komponennya lebih sedikit. Biaya servis rutin motor listrik diperkirakan hanya sekitar Rp150 ribu hingga Rp500 ribu per tahun, sedangkan motor bensin bisa menghabiskan Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per tahun untuk perawatan berkala. Selain itu, baterai motor listrik umumnya mendapat garansi 3–5 tahun atau 50.000–100.000 kilometer, sehingga dalam lima tahun pertama biasanya belum perlu diganti. Dari sisi pajak, beban motor listrik relatif lebih rendah daripada motor bensin. Namun setelah Permendagri Nomor 11 Tahun 2026, pembebasan PKB dan BBNKB tidak otomatis lagi, meski pemerintah daerah masih bisa memberi insentif sesuai kebijakan masing-masing. Untuk asuransi, pola premi biasanya mengikuti nilai kendaraan dan risiko, sehingga perbedaan biaya antara motor bensin vs listrik cenderung tidak sebesar selisih energi dan perawatan.
Nilai Jual Kembali, Baterai, dan Break-Even Point
Untuk total cost ownership motor jangka panjang, isu terbesar motor listrik adalah baterai dan nilai jual kembali. Baterai masih menjadi perhatian utama karena harganya relatif mahal dan belum ada acuan pasti usia pakai untuk penggunaan jangka panjang. Bobot motor listrik yang cenderung lebih berat juga berpotensi membuat ban lebih cepat aus dibanding motor bensin. Di pasar bekas, nilai jual kembali motor listrik diperkirakan turun lebih besar karena kekhawatiran kondisi baterai dan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Meski begitu, Yannes menilai depresiasi ini masih bisa diimbangi penghematan biaya operasional, terutama bagi pengguna yang menempuh sekitar 15.000 kilometer per tahun. Ia juga menyebut bahwa jika insentif pembelian motor listrik kembali diberlakukan, break-even point atau masa balik modal bisa dicapai dalam sekitar dua hingga tiga tahun. Artinya, motor listrik paling masuk akal untuk mereka yang jarak tempuhnya tinggi, bukan untuk pemakaian sesekali.
Kesimpulan Praktis: Motor Mana yang Cocok Untuk Kamu?
Jawaban motor bensin vs listrik mana yang lebih menguntungkan sangat bergantung pada kebutuhan, jarak tempuh, dan kebiasaan berkendara masing-masing pengguna. Untuk jarak harian menengah sampai jauh, motor listrik hemat biaya secara nyata berkat pengeluaran energi dan perawatan yang jauh lebih rendah. Di sisi lain, keterbatasan jarak tempuh satu kali isi daya, tantangan ketersediaan pengisian atau penukaran baterai, serta depresiasi nilai jual membuat motor listrik kurang ideal untuk pengguna yang butuh fleksibilitas tinggi atau kerap melakukan perjalanan jauh tanpa perencanaan. Motor bensin tetap unggul pada kemudahan isi BBM, jaringan servis luas, dan nilai jual kembali yang lebih terjaga. Efisiensi keduanya tetap dipengaruhi pola pakai: semakin besar jarak tempuh tahunan, semakin besar pula penghematan yang bisa dinikmati pemilik motor listrik.
Buy if / Skip if
- Buy the motor listrik if kamu menempuh sekitar 15.000 km per tahun atau lebih dan fokus pada penghematan biaya energi serta perawatan jangka panjang.
- Skip the motor listrik if kamu sering perjalanan jauh tanpa rencana, belum siap dengan keterbatasan jarak tempuh dan kebutuhan pengisian baterai yang lebih sering.
- Buy the motor bensin if kamu mengutamakan jaringan servis luas, kemudahan isi bahan bakar, dan nilai jual kembali yang lebih stabil dalam jangka panjang.
- Skip the motor bensin if biaya harian menjadi prioritas utama dan kamu ingin menekan pengeluaran energi serta servis rutin selama lima tahun ke depan.
- Buy the motor listrik if kamu siap menerima risiko depresiasi nilai jual yang lebih besar demi total cost ownership motor yang lebih rendah di pola pakai jarak tinggi.
- Skip the motor listrik if kamu masih khawatir terhadap degradasi baterai, biaya penggantiannya, dan belum yakin akan kejelasan pasar motor listrik bekas.






