Dua jalur prestasi, satu dorongan untuk meneliti
Kompetisi sains siswa adalah ajang yang memberi pelajar ruang untuk menguji gagasan dan penelitian di hadapan juri, sekaligus mengukur kemampuan mereka di tingkat nasional maupun internasional. Rangkaian prestasi terbaru dari Tegal dan Semarang menunjukkan bahwa siswa SMP dapat menonjol melalui jalur dan capaian yang berbeda. Dua kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMP Ihsaniyah Tegal membawa pulang medali emas dan perak dari WASICS 2026, yang berlangsung pada 23–26 Oktober di SMA Taruna Nusantara, Malang. Sementara itu, dua siswi SMP Negeri 2 Semarang meraih Juara 1 bidang Applied Sciences dalam ASEAN Student Science Project Competition (ASPC) 2026 di Thailand. Kedua hasil ini layak dibaca sebagai prestasi siswa SMP yang beragam, bukan sebagai kemenangan dalam ajang yang sama. Yang patut disorot ialah kesempatan bagi pelajar untuk membuktikan kerja ilmiah lewat kompetisi dengan ukuran dan lingkup berbeda.

Dari limbah organik ke medali WASICS
Capaian tim Ihsaniyah menarik karena dua penghargaan mereka bertumpu pada penelitian yang mengolah potensi limbah organik menjadi produk bermanfaat dan ramah lingkungan. Tim pertama meraih emas lewat CANGKRUK DENT, penelitian yang memanfaatkan cangkang telur dan kulit jeruk sisa katering sekolah untuk membuat pasta gigi berbentuk tablet. Tim kedua memperoleh perak lewat PINASARAN, inovasi hand sanitizer yang menggunakan kulit nanas dan sereh dapur. Rincian ini menunjukkan dua proyek berbeda, bukan satu gagasan yang diulang dengan bahan lain. Nilai prestasinya bukan semata pada medali kompetisi internasional, tetapi juga pada usaha mengubah bahan yang tersedia di sekitar menjadi objek penelitian. Namun, penghargaan saja belum menjelaskan dampak produk bagi pengguna; yang dapat dipastikan dari informasi yang tersedia adalah bahwa kedua kelompok mengangkat pemanfaatan bahan organik dalam karya mereka.

Juara ASEAN setelah berawal dari kompetisi nasional
Perjalanan dua siswi SMP Negeri 2 Semarang, yang dikenal sebagai SNAPERS, bermula di Indonesian Science Project Olympiad (ISPO). Pada final nasional Januari 2026, mereka meraih medali emas kategori Kimia, lalu menjadi delegasi Indonesia dan bertanding di ASPC 2026 di Thailand. Di sana, mereka keluar sebagai juara pertama tingkat ASEAN pada bidang Applied Sciences. Jalur ini berbeda dari capaian KIR Ihsaniyah: sumber tentang SNAPERS mencatat hasil kompetisi nasional dan gelar juara ASEAN, tetapi tidak merinci judul atau bahan proyek mereka. Karena itu, membandingkan rincian karya kedua kelompok akan melampaui informasi yang tersedia. Perbandingan yang tepat ada pada bentuk prestasi: tim Tegal membawa pulang dua medali WASICS melalui dua penelitian yang dijelaskan, sedangkan siswi Semarang mencapai peringkat tertinggi yang dilaporkan di ASPC setelah lolos dari ISPO.
Prestasi yang patut dilihat lebih luas
Kedua kisah ini memperlihatkan bahwa proyek sains pelajar dapat memperoleh pengakuan lewat berbagai format kompetisi, tanpa perlu menyamakan tema atau proses penilaiannya. WASICS memberi panggung bagi dua kelompok KIR Ihsaniyah untuk meraih emas dan perak, sedangkan ASPC mengukuhkan dua siswi Semarang sebagai juara pertama bidang Applied Sciences di tingkat ASEAN. Informasi yang tersedia tidak memerinci kesamaan standar atau tingkat kesulitan kedua ajang, sehingga klaim bahwa satu kemenangan lebih unggul daripada yang lain tidak berdasar. Yang jelas, capaian tersebut menghadirkan contoh konkret tentang ketekunan meneliti dan berkompetisi. Dukungan sekolah terhadap ruang belajar ilmiah penting agar prestasi semacam ini tidak berhenti pada seremoni medali. Kesimpulannya, pencapaian dari Tegal dan Semarang sama-sama membanggakan justru karena menunjukkan beragam jalur bagi siswa SMP untuk mengembangkan gagasan dan meraih pengakuan.






