BRICS–OECD sebagai Strategi Ganda Menguatkan Ekspor
BRICS Indonesia ekspor dan aksesi OECD peluang merujuk pada strategi ganda memanfaatkan keanggotaan dalam blok ekonomi negara berkembang serta proses bergabung dengan organisasi standar internasional untuk memperluas akses pasar, menarik investasi pasar global, mendorong transfer teknologi, dan menaikkan kualitas serta daya saing produk industri di rantai pasok dunia, sehingga manfaatnya dirasakan sampai pelaku usaha dan pekerja di daerah.Indonesia sedang membangun posisi baru: bukan memilih antara BRICS atau OECD, melainkan memakai keduanya sebagai alat tawar ekonomi. Ketua Kadin Jawa Timur menegaskan bahwa yang penting adalah bagaimana kedua forum itu menghadirkan peningkatan ekspor, penguatan industri, penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi dan kenaikan kelas UMKM. Sikap ini tepat: ekosistem global sedang terbelah, dan pendekatan “dua kaki” memberi ruang manuver lebih luas. Pertanyaannya bukan apakah forum ini berguna, tetapi seberapa cepat pemerintah dan dunia usaha mengubah peluang menjadi kontrak, pabrik, dan akses pasar nyata.
Kolaborasi Industri Bilateral via BRICS: Semikonduktor dan Data Center
Keanggotaan penuh dalam BRICS membuka ruang kolaborasi industri bilateral yang jauh lebih konkret, terutama dengan ekonomi besar seperti India. Momentum ini dimanfaatkan melalui pertemuan Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dan Menteri Negara Perindustrian dan Perdagangan India Jitin Prasada di sela 10th BRICS Industry Ministers' Meeting di Jaipur, yang secara eksplisit membahas pengembangan kendaraan listrik dan transformasi digital. Di sinilah BRICS Indonesia ekspor bertemu agenda industrialisasi: fokus bergeser dari sekadar jual bahan mentah ke penguatan manufaktur bernilai tambah. Pemerintah India menyambut usulan kerja sama di industri hijau, semikonduktor dan agro. Ini bukan sekadar daftar proyek, melainkan pintu transfer teknologi dan pengembangan kapabilitas manufaktur di sektor strategis yang menjadi tulang punggung elektronika, otomotif, telekomunikasi, energi, hingga transformasi digital. Tanpa lompatan di semikonduktor dan data center, mimpi menjadi pemain serius di pasar global hanya akan berhenti di slogan.

Aksesi OECD: Standar Internasional sebagai Tiket Pasar Global
Berbeda dari BRICS yang menekankan jejaring negara berkembang, proses aksesi OECD peluang menawarkan sesuatu yang lebih teknis: standar. Standar internasional yang diadopsi lewat reformasi kebijakan bisa menjadi tiket masuk ke pasar dan rantai pasok global bagi pabrik, eksportir, pemasok, pekerja hingga UMKM. Menurut Rina Zoet, peluang ekonomi akan besar jika standar itu benar-benar diterjemahkan menjadi akses nyata, bukan hanya dokumen regulasi. Di sinilah inti permainan: OECD menuntut kualitas produk, keterlacakan, efisiensi, dan kepastian regulasi. Sebagai imbalan, terbuka jalan bagi investasi pasar global, teknologi baru, dan kemitraan jangka panjang. Digitalisasi dan dukungan kepatuhan membantu UMKM masuk ekosistem industri yang lebih luas, sementara transisi hijau lewat efisiensi energi, circularity dan pembiayaan hijau menghadirkan lini bisnis baru. Jika standar hanya diperlakukan sebagai beban administrasi, seluruh potensi aksesi OECD akan terbuang percuma.
Dampak Nyata di Daerah: Jawa Timur sebagai Contoh
Keterlibatan dalam BRICS dan OECD baru layak disebut berhasil bila terasa sampai ke daerah, bukan berhenti di ruang rapat pusat. Jawa Timur adalah contoh yang mulai disorot: pertumbuhan ekonomi wilayah ini diperkirakan 5,33 persen dengan kisaran 4,9–5,7 persen, ditopang industri pengolahan, perdagangan, pertanian dan ekspor. Rina Zoet menekankan bahwa keberhasilan reformasi OECD akan ditentukan oleh dampaknya terhadap pabrik, eksportir, pemasok, pekerja dan UMKM di Jawa Timur. Artinya, aksesi OECD peluang mesti diterjemahkan ke hal yang sangat konkret: naiknya kualitas dan keterlacakan produk, akses ke rantai pasok bernilai tambah tinggi, dan masuknya investasi pasar global yang menciptakan pekerjaan layak. Di sisi lain, BRICS Indonesia ekspor memberi alternatif pasar baru dan kerja sama keuangan dengan negara emerging economies. Bila pemerintah daerah dan dunia usaha lincah memanfaatkan kedua jalur, Jawa Timur bisa menjadi laboratorium keberhasilan strategi ganda BRICS–OECD.
Kesimpulan: Dari Forum ke Manfaat Riil Ekspor dan Investasi
Inti persoalan sekarang bukan lagi apakah bergabung dengan BRICS dan OECD itu tepat, melainkan apakah dunia usaha mampu memaksa dua forum ini bekerja untuk kepentingannya. Di ranah BRICS, kolaborasi industri bilateral dengan India pada semikonduktor, industri hijau dan data center membuka jalur transfer teknologi dan penguatan kapabilitas manufaktur yang sangat krusial bagi daya saing ekspor. Di ranah OECD, standar internasional, kepastian regulasi dan reformasi kebijakan adalah kunci membuka investasi pasar global, menaikkan kelas UMKM, dan memastikan manfaat dirasakan sektor riil dari pabrik hingga pekerja. Tantangan berikutnya jelas: memastikan setiap komitmen diterjemahkan menjadi akses pasar baru, kontrak ekspor, lini produksi, dan pekerjaan lebih berkualitas. Jika BRICS Indonesia ekspor dan aksesi OECD peluang diintegrasikan ke strategi nasional dan regional yang konsisten, dua pintu ini bisa menjadi kombinasi kuat untuk mengerek posisi ekonomi di pasar global.






