Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Menhan Prioritaskan Jalan Desa dan Terminal Barang di Perbatasan Entikong

Menhan Prioritaskan Jalan Desa dan Terminal Barang di Perbatasan Entikong
Minat|Asia Tenggara

Perbatasan Entikong: Bukan Sekadar Gerbang, Tapi Nadi Mobilitas dan Perdagangan

Perbatasan Entikong adalah kawasan lintas batas yang menggabungkan fungsi keamanan, mobilitas warga, dan perdagangan, sehingga kualitas infrastruktur jalan desa dan terminal barang perbatasan di wilayah ini menentukan seberapa aman, seberapa lancar, dan seberapa makmur kehidupan masyarakat yang setiap hari bergantung pada Pos Lintas Batas Negara tersebut. Kunjungan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ke Markas Yonif Teritorial Pembangunan 833/Bumi Daranante di Sanggau menjadi momen penting untuk menegaskan hal ini, karena di sana ia tidak hanya memeriksa kesiapan pasukan, tetapi juga menyoroti langsung kebutuhan pembangunan infrastruktur jalan dan percepatan operasional Terminal Barang Internasional Entikong.

Data Kepala PLBN perbatasan Entikong, Teguh Priyadi, menunjukkan skala aktivitas yang tidak bisa lagi diperlakukan sebagai pinggiran: rata-rata 2.000 pelintas per hari dan nilai ekspor hingga Rp81 miliar per September 2026. Angka ini menegaskan bahwa PLBN perbatasan bukan pos kecil di ujung peta, melainkan simpul ekonomi yang hidup. Ketika arus orang dan barang sebesar itu masih bergantung pada infrastruktur jalan desa yang belum merata dan terminal barang perbatasan yang belum beroperasi penuh, maka masalahnya bukan teknis, melainkan pilihan politik: apakah negara serius menjadikan perbatasan sebagai beranda depan, atau tetap membiarkannya sebagai halaman belakang yang terlupakan.

Infrastruktur Jalan Desa: Titik Lemah yang Menggerogoti PLBN Entikong

Laporan Wakil Bupati Sanggau, Susana Herpena, bahwa pembangunan infrastruktur jalan belum merata di desa-desa perbatasan Kecamatan Entikong, seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat. Bagaimana mungkin PLBN perbatasan yang melayani 2.000 pelintas per hari bisa optimal jika infrastruktur jalan desa yang menghubungkan warga ke gerbang utama masih tambal sulam? Di atas kertas, PLBN Entikong disebut strategis untuk menjaga kedaulatan, melayani mobilitas, dan mendorong ekonomi kawasan. Di lapangan, warga masih harus berjibaku dengan akses yang tidak layak.

Peningkatan konektivitas jalan desa bukan sekadar proyek fisik; ini soal keadilan ruang. Tanpa infrastruktur jalan desa yang memadai, manfaat PLBN perbatasan hanya dinikmati oleh pelintas resmi dan pelaku ekspor besar, sementara warga desa tetap terjebak dalam isolasi. Menhan yang berjanji meminta Menteri Perhubungan menindaklanjuti pembangunan jalan di desa-desa perbatasan patut diapresiasi, tetapi janji lintas kementerian harus diukur dari seberapa cepat aspal menyentuh tanah, bukan dari seberapa sering rapat koordinasi digelar. Jika negara ingin perbatasan Entikong menjadi etalase, maka jalan desa adalah rak utamanya; tanpa itu, etalase hanya dekorasi.

Terminal Barang Entikong: Potensi Ekspor Besar, Terminal Masih Tertahan

Terminal Barang Internasional Entikong seharusnya menjadi mesin penguat perdagangan lintas batas, bukan proyek yang terus menunggu giliran hidup. Dengan nilai ekspor melalui PLBN Entikong yang sudah mencapai Rp81 miliar hingga September 2026, keterlambatan operasional terminal barang perbatasan ini adalah ironi yang sulit dibenarkan. Susana Herpena secara terbuka meminta dukungan pusat untuk mempercepat operasional TBI Entikong agar arus perdagangan lebih optimal. Permintaan ini bukan keluhan lokal, melainkan cermin bahwa kebijakan pusat belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan di garis depan.

Menhan menyatakan akan meminta Menteri Perhubungan dan kementerian terkait menindaklanjuti percepatan operasional terminal barang perbatasan Entikong. Di sinilah letak ujian konsistensi: negara sering berbicara tentang peningkatan ekspor dan penguatan logistik, tetapi membiarkan simpul penting seperti TBI Entikong berjalan tersendat. Terminal barang yang berfungsi penuh akan memotong biaya logistik, mempercepat arus barang, dan memberi posisi tawar lebih baik bagi pelaku usaha lokal. Tanpa itu, angka ekspor yang sudah besar hanya akan menumpuk beban pada infrastruktur yang belum siap, dan pada akhirnya menggerus daya saing kawasan perbatasan.

Pertahanan yang Membumi: Prajurit, Warga, dan Makna Kedaulatan di Perbatasan

Salah satu aspek paling menarik dari kunjungan Menhan ke Yonif TP 833/Bumi Daranante adalah pesan kepada prajurit: tugas utama mereka adalah membuat rakyat merasa aman dan sejahtera, dengan kompi pertanian, peternakan, kesehatan, dan konstruksi sebagai bagian dari struktur batalyon. Ini menandai pergeseran penting: pertahanan di perbatasan Entikong tidak lagi bisa dipahami sebatas patroli dan senjata, tetapi juga sebagai pendamping pembangunan. Ketika prajurit diminta tidak menyakiti hati rakyat karena mereka berasal dari rakyat, kedaulatan diterjemahkan ke dalam relasi sosial yang lebih setara, bukan sekadar hierarki komando.

Namun pesan humanis ini akan kehilangan daya jika tidak ditopang kebijakan infrastruktur yang konsisten. Prajurit bisa membantu membangun, tetapi tanggung jawab utama tetap pada negara untuk menyediakan infrastruktur jalan desa dan terminal barang perbatasan yang layak. PLBN perbatasan Entikong sudah diakui memiliki peran strategis dalam menjaga kedaulatan dan mendukung ekonomi kawasan; artinya, setiap lubang jalan dan setiap hari keterlambatan operasional terminal adalah celah dalam kedaulatan itu sendiri. Jika negara serius, maka sinergi keamanan dan pembangunan harus diwujudkan dalam proyek konkret, bukan berhenti pada pidato di markas batalyon.

Kesimpulan: Jalan Desa dan Terminal Barang sebagai Ujian Seriusnya Negara di Perbatasan

Kunjungan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin ke perbatasan Entikong membuka kembali pertanyaan lama: apakah negara memandang perbatasan sebagai prioritas nyata atau sekadar simbol di peta? Dengan 2.000 pelintas per hari dan ekspor bernilai puluhan miliar rupiah, PLBN perbatasan Entikong sudah berfungsi sebagai nadi mobilitas dan perdagangan. Tetapi nadi ini masih tersumbat oleh infrastruktur jalan desa yang timpang dan terminal barang perbatasan yang belum sepenuhnya beroperasi.

Janji Menhan untuk mendorong Menteri Perhubungan mempercepat pembangunan jalan dan operasional TBI Entikong adalah langkah awal yang penting. Namun ukuran keberhasilan bukan pada seberapa keras janji diucapkan, melainkan pada seberapa cepat warga desa merasakan perubahan di jalan yang mereka lalui setiap hari dan di terminal barang yang mengatur arus ekonomi mereka. Perbatasan yang kuat tidak dibangun oleh slogan, tetapi oleh aspal yang rata, terminal yang hidup, dan prajurit yang berpihak pada warga. Di titik inilah, perbatasan Entikong menjadi cermin sejujur-jujurnya tentang seberapa serius negara menjaga berandanya sendiri.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!