Dari Umbi Pekarangan ke Bintang FYP
Kimpul adalah umbi tradisional dari keluarga talas-talasan dengan nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium Schott, yang sejak lama tumbuh di pekarangan dan lahan pertanian sebagai sumber karbohidrat, namun baru belakangan dikenal luas generasi muda setelah diangkat dalam tren media sosial sebagai bahan makanan kekinian yang dinilai bergizi dan mendukung ketahanan pangan. Fenomena kimpul viral trend tidak muncul begitu saja. Umbi tradisional ini lama dipandang sebagai makanan jadul, kalah pamor dari beras dan kentang sebagai sumber karbohidrat harian. Baru ketika seorang kreator Bantul dengan akun TikTok @black.sheep8208 mulai mengganti mashed potato, potato au gratin, arancini, dumpling hingga lasagna dengan kimpul, narasi berubah total. Ungkapan khas “karena tidak punya X, diganti kimpul” menjadikannya bahan meme, bukan sekadar bahan masakan. Ketika nama kimpul wara-wiri di TikTok dan X, umbi jadul itu naik kelas: dari kebun warga ke percakapan Gen Z, dari kompor tradisional ke FYP yang membentuk selera baru.
Mengapa Gen Z Tiba-tiba Jatuh Cinta pada Kimpul?
Kimpul viral trend terjadi karena dua hal yang saling menguatkan: bahasa internet dan kedekatan dengan budaya kuliner populer. Konten kreator tidak menjual nostalgia, tetapi relevansi. Ia memasukkan kimpul ke resep yang sudah akrab, menjadikannya versi lokal mashed potato atau lasagna, sehingga umbi tradisional Indonesia terasa modern tanpa kehilangan identitas. Deputi Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini menegaskan bahwa tren ini menunjukkan "sesuatu yang sangat lokal dapat memiliki daya tarik baru ketika hadir dalam konteks yang relevan bagi generasi muda". Gen Z yang tumbuh dengan budaya meme menemukan kimpul sebagai ikon baru: bahan konten lucu, eksperimen resep, sekaligus simbol kepedulian pada makanan ketahanan pangan. Kata “kimpul” beredar di lini masa sebagai lelucon, tapi di balik tawa ada kesadaran: pangan lokal tidak membosankan, hanya butuh konteks yang tepat.
Kimpul sebagai Duta Ketahanan Pangan dan Superfood Lokal
Rebranding kimpul tidak berhenti di level tren; ia masuk diskusi ketahanan pangan dan gizi. Kimpul dikenal sebagai salah satu sumber karbohidrat tradisional yang dulu sempat menjadi makanan pokok sebelum beras mendominasi, dan kini dipandang kembali sebagai makanan ketahanan pangan yang murah ditanam dan tahan perubahan pasokan. Warganet bahkan menjuluki sang kreator “Duta Ketahanan Pangan” karena konsisten memakai umbi ini dalam berbagai resep. Secara nutrisi, kimpul mengandung karbohidrat kompleks, serat, kalium, serta beragam vitamin dan mineral. Serat membantu rasa kenyang lebih lama dan kesehatan pencernaan, sementara kalium mendukung fungsi otot dan tekanan darah. Inilah alasan banyak anak muda menyebutnya “superfood lokal”. Namun ada catatan: seperti talas lain, kimpul mengandung kristal kalsium oksalat yang dapat memicu rasa gatal di mulut bila tidak diolah benar, sehingga perlu dimasak matang, misalnya direbus sekitar 45 menit. Kesadaran nutrisi ini membuat kimpul relevan bukan hanya sebagai bahan konten, tetapi sebagai pilihan gaya hidup sehat.
Resep Kimpul Modern: Dari Mashed hingga Stik Camilan
Kekuatan tren kimpul ada pada kreativitas resep kimpul modern. Di tangan kreator dan para penggemar, umbi tradisional Indonesia ini keluar dari pakem rebus-santan dan masuk ke dunia comfort food global. Mashed potato berganti menjadi mashed kimpul; potato au gratin diolah dengan lapisan kimpul yang creamy; arancini dan dumpling ayam memakai kimpul sebagai pengganti kentang atau tepung. Di sisi camilan, muncul keripik dan stik kimpul, plus berbagai ide camilan sehat sebagai alternatif sumber karbohidrat bagi mereka yang ingin mengurangi konsumsi beras. Pendekatan ini penting: ketika pangan lokal hanya muncul sebagai menu khas desa, ia mudah dianggap kuno. Begitu hadir sebagai bahan lasagna atau dumpling, kimpul menjadi alat eksperimen kuliner dan simbol kebanggaan. Generasi muda tidak diajak bernostalgia, melainkan diajak bereksperimen – dan dari dapur, resep-resep itu kembali mengalir ke TikTok, memperkuat siklus viralnya.
Menjaga Warisan Rasa, Bukan Sekadar Ikut Tren
Viral selalu berisiko jadi euforia sesaat. Di kasus kimpul, taruhan lebih besar: ketahanan pangan dan penyelamatan pengetahuan lokal. Ibu Tin, sosok “Ibu Kimpul”, mengaku khawatir bahan pangan tradisional akan punah karena minimnya informasi dan anak muda yang tidak mengenalnya. Di sini media sosial berperan sebagai jembatan antara pangan lama dan kebiasaan konsumsi baru. Kimpul sudah diteliti lebih dari tiga dekade di salah satu universitas besar, termasuk sifat fungsional dan modifikasi patinya, yang menunjukkan bahwa pengetahuan akademik menunggu untuk diterjemahkan ke dapur rumah. Tantangannya sekarang: apakah kita ingin berhenti pada meme, atau menjadikan kimpul bagian rutin dari menu harian? Jika kimpul tetap dipakai dalam resep modern, dikembangkan sebagai camilan sehat, dan dikenalkan lintas generasi, ia berpotensi menjadi lebih dari tren – ia bisa menjadi simbol bahwa warisan kuliner tidak harus museum, melainkan bisa hidup, adaptif, dan relevan di piring anak muda hari ini.






