Famtrip sebagai langkah promosi yang konkret
Famtrip adalah perjalanan pengenalan destinasi yang dirancang agar pelaku industri wisata dapat menilai pengalaman secara langsung sebelum menyusun dan menjual paket kepada calon pelancong. Pada 19–25 Oktober 2026, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengajak tujuh agen tur Tiongkok dan operator perjalanan menjelajahi Labuan Bajo serta Bali. Strategi ini lebih meyakinkan daripada promosi yang hanya mengandalkan gambar: para mitra dapat merasakan sendiri perjalanan, layanan, dan kegiatan yang nantinya akan mereka tawarkan kepada wisatawan Tiongkok. Tujuan utamanya ialah membantu agen menyusun paket yang sesuai dengan minat pasar Tiongkok. Kunjungan tersebut juga memberi Kemenpar kesempatan menampilkan dua destinasi dalam satu rangkaian, bukan memperlakukan Labuan Bajo sebagai tambahan singkat setelah Bali. Jika pengalaman lapangan diterjemahkan menjadi produk yang jelas dan mudah dipasarkan, famtrip dapat menjadi jembatan dari promosi menuju pemesanan.

Pengalaman yang bisa dijual sebagai paket
Di Labuan Bajo, agenda mencakup Pulau Kelor, Pulau Padar, Pink Beach, dan Pulau Komodo, dengan pelayaran kapal pinisi serta snorkeling sebagai bagian dari pengalaman laut. Rangkaian ini memberi agen bahan untuk merancang wisata Labuan Bajo yang berfokus pada alam dan petualangan, bukan hanya kunjungan singkat ke satu ikon. Kemenpar juga menggelar business matching dengan 14 pelaku industri lokal, membuka ruang kerja sama untuk paket, akomodasi, dan penerbangan. Di Bali, peserta menikmati alam, kuliner, kopi, serta layanan spa. Perpaduan itu berpotensi membuat paket wisata Bali lebih beragam, sementara Labuan Bajo menambahkan unsur pelayaran dan eksplorasi. Namun, keberhasilan paket gabungan tidak otomatis: jadwal perjalanan dan koneksi antardestinasi harus terasa praktis bagi pelancong. Nilai famtrip terletak pada kemampuannya mengubah daftar atraksi menjadi rencana perjalanan yang benar-benar dapat ditawarkan.
Angka menunjukkan peluang, bukan jaminan
Kemenpar bergerak ketika tren pasar memberi alasan untuk memperluas promosi. Data Badan Pusat Statistik mencatat 1,054 juta kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia pada Januari–Agustus 2026, naik 16,46 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Di Labuan Bajo sendiri, jumlah wisatawan Tiongkok mencapai 37.119 pada semester pertama 2026. Angka lokal ini penting karena menunjukkan bahwa minat tidak berhenti di Bali. Namun, kenaikan kedatangan bukan ukuran keberhasilan yang cukup. Labuan Bajo perlu memperoleh manfaat dari pasar baru tanpa membiarkan pertumbuhan mengorbankan daya dukung alam atau keterlibatan masyarakat setempat. Karena itu, strategi memperluas kunjungan ke destinasi di luar Bali sebaiknya dinilai dari mutu pengalaman dan manfaat yang tertinggal di daerah, bukan hanya jumlah pengunjung.
Ujian berikutnya: membuat pilihan di luar Bali mudah
Bali dan Labuan Bajo sama-sama diandalkan Kemenpar, tetapi fungsinya dalam strategi perluasan tidak sama. Bali memiliki daya tarik yang sudah dikenal, sementara Labuan Bajo membantu mengarahkan perjalanan ke destinasi prioritas di luar Bali. Dengan mengajak agen tur Tiongkok melihat keduanya, Kemenpar mencoba membuat perjalanan gabungan terasa layak dijual, bukan sekadar gagasan promosi. Langkah selanjutnya ada pada mitra perjalanan dan pelaku lokal: menyusun paket yang cocok dengan minat pasar, menghubungkan layanan secara konsisten, dan menjaga kualitas kunjungan. Promosi akan kehilangan daya jika pesona alam hanya dijadikan alasan untuk menambah volume tanpa memperhatikan kelestarian kawasan dan ekonomi masyarakat. Kesimpulannya, famtrip ini adalah awal yang menjanjikan, tetapi hasilnya bergantung pada paket yang benar-benar menarik sekaligus bertanggung jawab. Memperluas peta wisata di luar Bali hanya akan berhasil bila Labuan Bajo tumbuh sebagai destinasi unggulan dengan pengalaman dan lingkungan yang tetap terjaga.






