Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pawai Busana Adat Aceh dan Batik Rejang Naik ke Panggung Bergengsi

Pawai Busana Adat Aceh dan Batik Rejang Naik ke Panggung Bergengsi
Minat|Pertunjukan Busana

Momentum Baru: Fashion Show Budaya Jadi Panggung Utama

Fashion show budaya Indonesia adalah peragaan busana yang secara sadar mengangkat busana adat, batik tradisional, dan wastra lokal sebagai pusat konsep, dengan melibatkan komunitas daerah, pelajar, seniman, dan pemerintah untuk menempatkan warisan tekstil lokal di ruang apresiasi modern yang selama ini didominasi estetika urban komersial. Dalam beberapa pekan terakhir, dua momen mencolok menegaskan pergeseran ini: pawai busana adat Aceh dalam peringatan Uroe Lahe Pidie dan persiapan fashion show batik Rejang tradisional di ajang Indonesia International Modest Fashion Week. Keduanya bukan sekadar acara seremonial, melainkan pernyataan sikap bahwa runway untuk wastra Indonesia tidak lagi boleh dipisahkan dari akar budaya daerah. Ketika ribuan warga dan pelaku kebudayaan rela turun ke jalan atau terbang ke ibu kota demi kain dan motif leluhur, jelas arus utama mode sedang dipaksa untuk membuka ruang bagi narasi lokal.

Pidie: Pawai Uroe Lahe dan Pelajar sebagai Duta Busana Adat Aceh

Di Pidie, pawai budaya dalam rangka peringatan Uroe Lahe ke-515 menghadirkan sekitar 2.000 peserta yang mengenakan busana adat Aceh, busana kreasi, dan atribut khas daerah. Ini bukan sekadar karnaval, melainkan laboratorium publik di mana generasi muda diajak merasakan sendiri busana adat sebagai identitas, bukan kostum sesaat. Pelajar SMP dan SMA berjalan berdampingan dengan guru, aparatur sipil negara, dan masyarakat umum, menjadikan jalanan Sigli seolah runway raksasa yang memamerkan keragaman busana adat Aceh. Kutipan yang layak dicatat dari penyelenggara adalah bahwa "pesertanya ada siswa, ada guru, ada masyarakat umum"—sebuah penegasan bahwa pelestarian wastra Indonesia runway dimulai dari basis sosial paling luas, bukan hanya komunitas fashion terbatas.

Secara emosional, pawai ini juga menandai momen perpisahan simbolik bagi pelajar seperti Chintya Ramadhani yang memilih mengenakan busana adat Aceh di salah satu kegiatan terakhirnya sebagai siswa SMA. Ketika anak muda mulai mengaitkan tonggak hidup pribadi dengan kain tradisional, kita melihat benih perubahan cara pandang terhadap warisan tekstil lokal: dari benda museum menjadi medium ekspresi diri. Tema "Meutaloe Wareh Pidie Meuhareukat" mengirim pesan tegas bahwa kebanggaan daerah harus diterjemahkan ke bentuk fisik, dan busana adat menjadi salah satu perangkat paling efektif. Apresiasi Camat Pekan Baro yang berharap acara ini dipertahankan dan dibuat lebih meriah ke depan bukan basa-basi administratif; itu adalah pengakuan bahwa pawai semacam ini sudah naik kelas menjadi platform fashion show budaya Indonesia di tingkat regional, dengan energi komunitas yang sulit diabaikan.

Rejang Lebong: Batik Tradisional Menembus Runway Modest Fashion

Jika Pidie mengubah jalan kota menjadi catwalk busana adat, Rejang Lebong memilih menembus panggung fashion internasional melalui batik Rejang tradisional. Pertemuan antara pelaku kebudayaan dan Plt Bupati di rumah dinas menjadi momen haru ketika kepala daerah menyatakan siap hadir di Jakarta menyaksikan penampilan batik khas Rejang pada ajang Indonesia International Modest Fashion Week (IN2MOTION) yang dijadwalkan berlangsung Oktober 2026. Dukungan langsung ini membuat salah satu peserta tak kuasa menahan air mata, menandakan betapa besar beban harapan yang dititipkan pada setiap lembar kain. Mode by Ceka, sebagai satu-satunya brand dari Kabupaten Rejang Lebong yang lolos seleksi selama dua bulan di Provinsi Bengkulu, akan membawakan empat looks batik Rejang dengan tujuh orang dalam satu tim.

Poin pentingnya: motif batik Rejang diambil dari naskah-naskah kuno, sehingga batik ini memang asli Rejang dan menjadi manifestasi langsung warisan tekstil lokal yang sebelumnya lebih banyak tinggal di arsip budaya. Di IN2MOTION, setiap langkah model membawa pertanyaan yang diharapkan muncul di benak penonton: "Rejang Lebong itu di mana?"—pertanyaan yang dapat berujung pada peluang buyer dan penguatan ekonomi kreatif berbasis batik Rejang tradisional. Kolaborasi dengan kementerian dan dukungan bank sentral regional memberi sinyal bahwa wastra Indonesia runway perlahan sedang diposisikan sebagai aset strategis, bukan pelengkap acara. Ketika Plt Bupati menegaskan akan hadir bersama Ketua TP PKK sebagai bentuk dukungan, itu adalah gestur politik yang mengakui moda sebagai kanal sah untuk diplomasi budaya dan identitas daerah, bukan lagi hobi segelintir desainer.

Dari Jalan Kota ke Panggung Nasional: Apa Artinya bagi Wastra Lokal?

Rangkaian peristiwa di Pidie dan Rejang Lebong mengisyaratkan arah baru: fashion show budaya Indonesia mulai bergeser dari estetika urban generik menuju presentasi formal warisan tekstil lokal. Pawai yang diikuti ribuan peserta di Pidie tidak berhenti sebagai ritual ulang tahun kabupaten, karena ada harapan eksplisit agar kegiatan terus dilaksanakan dan memberi ruang bagi masyarakat untuk memeriahkan peringatan Uroe Lahe Pidie ke depan. Sementara di Rejang Lebong, IN2MOTION bukan sekadar panggung sekali tampil; keikutsertaan Mode by Ceka diharapkan menjadi salah satu ruang bagi batik khas Rejang untuk semakin dikenal dan memperluas peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya daerah.

Artinya, busana adat Aceh dan batik Rejang tradisional kini diperlakukan sebagai investasi simbolik jangka panjang, bukan ornamen acara. Namun ada konsekuensi: begitu wastra lokal memasuki runway bergengsi, tuntutan kualitas desain, riset motif, dan narasi sosial akan meningkat. Ini kabar baik bagi desainer dan komunitas yang serius, tetapi bisa mengekspos pihak yang sekadar menjadikan kain tradisional sebagai gimmick. Ke depan, tantangan terbesar bukan mencari panggung, melainkan menjaga agar setiap panggung wastra Indonesia runway tetap berpijak pada pengetahuan, keterlibatan komunitas, dan keberlanjutan ekonomi. Tanpa itu, momentum emosional seperti air mata peserta batik Rejang di rumah dinas bupati akan menguap, meninggalkan kain-kain indah tanpa cerita yang menempel di benak publik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!