Toleransi perlu diajarkan lewat pengalaman
Pendidikan moderasi beragama adalah proses membimbing siswa menjalankan keyakinannya dengan bertanggung jawab sembari menghormati hak orang lain dalam masyarakat yang beragam. Gagasan ini penting karena ruang kelas mempertemukan anak-anak dengan pengalaman, tradisi, dan cara beribadah yang berbeda. Tanpa bimbingan, perbedaan dapat menjadi alasan untuk mengejek atau mengucilkan; dengan arahan yang baik, perjumpaan justru menjadi latihan membangun persaudaraan. Karena itu, pendidikan toleransi tidak boleh berhenti pada hafalan definisi. Siswa perlu belajar menyampaikan pendirian tanpa penghinaan, mendengarkan tanpa harus menyetujui, dan bekerja sama dalam urusan kemanusiaan tanpa kehilangan identitas. Keteguhan iman dan penghormatan terhadap martabat sesama bukan dua tujuan yang saling meniadakan. Sekolah seharusnya menunjukkan hubungan itu dalam kebiasaan sehari-hari, bukan hanya mencantumkannya di buku pelajaran.

Kurikulum Merdeka memberi ruang untuk menyelaraskan nilai
Kurikulum Merdeka membuka kesempatan bagi sekolah untuk menghubungkan ajaran Islam dan nilai Pancasila dalam pembelajaran yang kontekstual. Keduanya tidak perlu dipertentangkan: nilai keimanan, akhlak, keadilan, toleransi, dan tanggung jawab sosial dapat saling menguatkan. Di madrasah, penguatan karakter dapat mengaitkan Profil Pelajar Pancasila dengan Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin. Namun, integrasi ini akan kehilangan makna jika hanya menjadi slogan atau tambahan istilah dalam modul. Guru perlu menghubungkan nilai dengan pilihan yang dihadapi siswa: berbagi tugas secara adil, bekerja sama dengan teman berbeda latar, dan menolak perlakuan merendahkan. Dengan begitu, pembelajaran agama dan pendidikan kebangsaan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan membantu siswa memahami bahwa kesalehan dan tanggung jawab sebagai warga dapat tumbuh bersama.
Penerapan gagasan tersebut juga harus peka pada kejadian nyata di sekolah. Ketika muncul konflik atau laporan perundungan, pihak sekolah perlu memahami konteks sebelum menentukan respons, agar disiplin tidak berubah menjadi pelabelan yang mempermalukan anak. Ini bukan alasan untuk membiarkan perilaku diskriminatif, melainkan dorongan agar penanganan adil sekaligus mendidik.
Dari diskusi kelas menuju kerukunan
Pendidikan moderasi beragama semakin mendesak ketika siswa tumbuh di tengah media sosial dan arus informasi yang cepat. Mereka perlu bekal untuk membedakan kritik terhadap gagasan dari serangan terhadap identitas, serta keberanian meminta bantuan saat menyaksikan teman dirundung. Di kelas, guru agama dapat membahas tanggung jawab moral kepada sesama, sementara pendidikan kewarganegaraan mengajak siswa menelaah kesetaraan dan kewajiban menjaga kehidupan bersama. Pelajaran bahasa dapat melatih cara menyampaikan ketidaksetujuan dengan alasan, bukan hinaan; sejarah dapat membuka pembahasan tentang konflik dan upaya membangun perdamaian. Rangkaian ini membuat toleransi terkait langsung dengan kehidupan kebangsaan: menghargai perbedaan bukan berarti menyamakan keyakinan, melainkan menjaga hak setiap orang dan bekerja sama untuk kebaikan bersama.
Nilai Pancasila pun lebih terasa ketika dipraktikkan. Gotong royong dapat hadir dalam kerja kelompok dan kepedulian sosial, sedangkan keadilan tampak ketika setiap siswa memperoleh kesempatan belajar yang setara. Sekolah dapat menilai perkembangan melalui pengamatan guru, percakapan dengan siswa, serta peninjauan pengaduan dan tindak lanjutnya. Dukungan kebijakan perlu menyediakan waktu belajar, bahan ajar, dan pendampingan guru yang realistis. Ukurannya bukan seberapa fasih siswa mengulang istilah toleransi, tetapi apakah mereka mampu bersikap adil, mencegah perundungan, dan hidup berdampingan tanpa harus melepas keyakinan.
Pada akhirnya, Kurikulum Merdeka dapat menjadi ruang penting untuk menanamkan hubungan yang selaras antara ajaran Islam dan Pancasila. Namun, kurikulum hanya akan berdaya jika nilai-nilainya hadir dalam interaksi nyata, didukung guru, dan ditegakkan secara adil. Sekolah yang mengajarkan siswa menghormati perbedaan sekaligus bertindak saat terjadi ketidakadilan sedang menyiapkan mereka merawat persatuan, bukan sekadar membicarakannya.






