Lonjakan minyak kembali menguji pasar
Harga minyak dunia adalah nilai perdagangan minyak mentah yang dipengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan serta risiko geopolitik, sehingga gejolaknya dapat merambat ke biaya energi dan tekanan harga yang lebih luas. Pada Jumat, 23 Oktober 2026, harga Brent menyentuh US$115 per barel, level tertinggi sejak Mei, sementara WTI juga melampaui US$100 per barel. Kenaikan ini bukan sekadar gejolak sesaat yang patut diabaikan: pasar sedang memberi harga pada risiko bahwa pasokan dan jalur perdagangan energi bisa terganggu. Pada 29 Oktober, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memperingatkan bahwa inflasi global berisiko bertahan lebih lama, antara lain karena harga minyak masih tinggi. Dua perkembangan itu saling terkait: konflik mendorong kecemasan pasokan, sedangkan minyak mahal memperbesar tekanan biaya di berbagai kegiatan ekonomi.
Ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama
Kenaikan harga Brent dipicu meningkatnya ketegangan Iran-AS dan ancaman militer yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, serta Israel. Kekhawatiran pasar bertambah karena adanya risiko gangguan pelayaran di Selat Hormuz dan kemungkinan serangan terhadap fasilitas energi di Timur Tengah. Ketika jalur penting atau instalasi minyak terancam, pelaku pasar menghadapi ketidakpastian apakah pasokan dapat bergerak dengan lancar. Itulah sebabnya berita tentang potensi eskalasi bisa mendorong harga sebelum gangguan pasokan benar-benar terjadi. Pemberitaan yang dirujuk sumber menyebut skenario serangan baru AS dan Israel terhadap Iran dirancang untuk dilakukan setelah pemilihan sela AS pada 3 November 2026. Jadwal itu menjadi alasan tambahan bagi pasar untuk tetap waspada, bukan kepastian bahwa serangan akan terjadi.
Minyak mahal memperpanjang tekanan inflasi
Hubungan antara minyak dan inflasi berawal dari biaya energi: ketika minyak bertahan mahal, ongkos produksi dan transportasi dapat ikut tertekan, lalu memengaruhi harga barang dan jasa. Destry menilai harga minyak yang tinggi telah menambah tekanan inflasi di Amerika Serikat; inflasi di sana berada di atas target 2% dan melampaui 3,5%, sementara The Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada tingkat tinggi. Pesan pentingnya bukan bahwa setiap negara akan mengalami dampak yang sama, melainkan bahwa energi mahal dapat membuat tugas mengendalikan inflasi lebih sulit. Destry juga mengatakan ia tidak membayangkan minyak segera kembali ke tingkat US$80 per barel dalam jangka pendek karena konflik Timur Tengah belum berakhir. Bagi masyarakat, risiko yang relevan adalah tekanan harga yang bertahan dan kebijakan suku bunga tinggi yang dapat mengikuti inflasi berkepanjangan.
Risiko melampaui sektor energi
Kenaikan minyak tidak berhenti pada pasar energi. Jika serangan meluas, dampaknya dapat menjalar ke industri, transportasi, dan perekonomian dunia. Bagi rumah tangga dan pelaku usaha, jalur pengaruhnya terasa melalui biaya energi dan pengiriman yang menjadi bagian dari banyak kegiatan ekonomi; sumber yang tersedia tidak merinci dampak domestik tertentu, sehingga tidak tepat menyimpulkan besaran atau bentuknya. Destry mengingatkan bahwa tren suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama juga dapat terasa di dalam negeri. Itu memperkuat alasan untuk memantau bukan hanya harga minyak, tetapi juga respons bank sentral dan perkembangan konflik. Kesimpulannya, harga Brent yang menembus puncak menandai risiko nyata bagi inflasi global: selama ketegangan Iran-AS dan ancaman pada pasokan belum mereda, tekanan energi dapat mempertahankan ketidakpastian ekonomi.






