Mengapa Kehadiran Pendidik yang Relatable Menjadi Penyelamat Tersembunyi
Kisah pengabdian pendidik sekolah rakyat seperti Sulaiman Sulang, atau Pak Sule, menunjukkan bahwa bagi anak dari keluarga rentan, sosok guru yang memahami luka dan keterbatasan mereka bukan sekadar pengajar, melainkan penyangga emosional yang mampu mengubah arah hidup, memberi harapan baru, dan membuktikan bahwa kemiskinan tidak harus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam dunia pendidikan yang sering sibuk dengan kurikulum dan angka, kehadiran wali asuh siswa kurang mampu yang mau duduk, mendengar, dan memeluk persoalan anak-anak adalah kemewahan yang jarang dibicarakan. Di Sekolah Rakyat Kabupaten Malang, kehangatan itu punya nama: Pak Sule, lelaki 42 tahun yang keberadaannya selalu dirindukan murid-muridnya. Pertanyaan sederhana, “Pak Sule ke mana?” menjadi bukti bahwa figur inspiratif pendidikan dibangun dari kehadiran yang konsisten, bukan sekadar pidato menyentuh.
Dari Ladang Flores ke Ruang Kelas Sekolah Rakyat
Pak Sule lahir dari keluarga petani di Flores, tumbuh dalam rumah yang lebih akrab dengan cangkul daripada buku pelajaran. Keterbatasan ekonomi bukan teori baginya; itu adalah pengalaman sehari-hari yang mengajarkan bahwa pendidikan selalu punya harga emosional dan sosial yang harus dibayar. Ketika merantau ke Malang demi kuliah, ia menumpang di rumah bibi dan bekerja di rumah dosen—mencuci piring, menyiram tanaman, menyapu halaman—selama hampir empat tahun hanya demi bisa makan. Di mata sebagian orang, itu mungkin sekadar perjuangan pribadi. Namun di ruang kelas Sekolah Rakyat, cerita ini berubah menjadi bahan bakar motivasi. "Saya lahir dari keluarga yang enggak mampu, dan bisa sukses, mereka juga harus lebih, mereka harus lebih sukses daripada saya," pesan Pak Sule pada para siswa. Inilah inti pengabdian pendidik anak rentan: mengubah masa lalu sulit menjadi jembatan agar anak didik melompat lebih jauh.
Sekolah Rakyat: Ruang Belajar, Sekaligus Ruang Berbagi Luka
Sekolah Rakyat tempat Pak Sule mengabdi menampung anak-anak dari kelompok sosial ekonomi paling rendah, Desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional. Banyak di antara mereka pernah putus sekolah, kehilangan orang tua, tinggal hanya dengan nenek, atau hidup sebatang kara. Jika sekolah umum menuntut kepatuhan pada tata tertib, di sini aturan saja tidak cukup. Anak-anak ini tidak sekadar butuh papan tulis dan buku; mereka butuh orang dewasa yang mau mendengarkan cerita tentang kelaparan, pertengkaran di rumah, kesepian, dan rasa minder yang menumpuk. Karena itu, Pak Sule menegaskan tiga komitmen wali asuh: waktu, tenaga, dan pikiran. Waktu untuk mendampingi, tenaga untuk ikut kerja bakti dan membantu, pikiran untuk berbagi ide. Ketika ia menyebut Sekolah Rakyat sebagai tempat "belajar masuk surga" karena di sana ia mengajar anak-anak yang tidak mampu dan sebatang kara, itu bukan kalimat manis, melainkan sikap: pendidikan bukan transaksi, melainkan ibadah.
Lebih dari Guru: Ikatan Emosional yang Menumbuhkan Keberanian
Yang membuat Pak Sule dicari ketika absen dua hari bukan hanya materi pelajaran yang ia bawa, melainkan rasa aman yang menempel pada sosoknya. Ia menyadari bahwa anak-anak Sekolah Rakyat membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, mengingatkan, dan menemani, bukan sekadar mengoreksi tugas. Pengalaman masa kecil sebagai anak petani yang hidup serba terbatas membuatnya peka terhadap raut wajah murid yang kehilangan semangat. Di hadapan mereka, ia tidak berjarak; ia berkata, "Ini lah anak petani. Bisa menulis buku sebanyak itu, bisa keliling Indonesia, bisa diundang di beberapa negara. Tanpa uang, tanpa ngeluarin duit." Pernyataan itu bukan pamer, melainkan bukti bahwa figur inspiratif pendidikan paling kuat adalah mereka yang pernah berdiri di titik yang sama dengan muridnya. Ikatan emosional yang terbangun membuat anak berani bermimpi, karena mereka melihat bukti hidup bahwa garis start yang miskin tidak menentukan garis akhir.
Menulis 44 Buku, Membuka 44 Jendela Harapan
Setelah lulus kuliah, Pak Sule tidak berhenti pada gelar. Ia menekuni dunia menulis hingga berhasil menghasilkan 44 judul buku yang semuanya terbit dengan ISBN. Pada 2025, ia menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Timur sebagai penulis buku terbanyak di provinsi itu. Di hadapan anak-anak Sekolah Rakyat, pencapaian ini ia jadikan contoh konkret bahwa asal-usul sebagai anak petani bukan penghalang untuk berkarya. Ia mengajak muridnya percaya bahwa "tidak ada yang tidak mungkin dengan kemauan dan niat yang kuat". Lebih jauh, pengalaman menulis dan aktivitasnya di bidang konservasi lingkungan—mengolah limbah dan sampah—ia bawa ke kelas sebagai bahan belajar. Di sini tampak jelas bahwa pengabdian pendidik anak rentan tidak berhenti di jam pelajaran. Mentor yang relatable seperti Pak Sule membuka jendela harapan baru: bahwa ilmu, kreativitas, dan kepedulian pada lingkungan bisa menjadi jalan keluar dari lingkar kemiskinan.






