Open marriage sebagai ilusi solusi dalam serial drama Indonesia terbaru
“Dalam Suka dan Dusta” adalah serial drama Indonesia yang mengisahkan pasangan selebriti yang memilih open marriage sebagai jalan keluar sementara bagi pernikahan yang terluka, menyoroti bagaimana kesepakatan romantis yang tampak modern bisa menjadi ilusi solusi ketika dasar kejujuran dan komunikasi sudah rapuh, terutama saat citra publik dan karier dipertaruhkan di atas kebahagiaan pribadi. Di pusat cerita, kita bertemu Duta dan Citra yang diperankan Acha Septriasa dan Darius Sinathrya, couple goals yang rumah tangganya tampak sempurna di depan kamera, tetapi penuh rahasia di balik pintu tertutup. Pilihan kreatif menjadikan open marriage tema utama membuat serial ini terasa provokatif: alih-alih memromantisasi kebebasan, narasi justru menyoroti harga emosional saat pernikahan direduksi menjadi kontrak sosial yang harus dipertahankan demi anak dan reputasi.

Acha Septriasa dan Darius Sinathrya: couple goals yang retak di balik layar
Serial ini sengaja menempatkan Acha Septriasa dan Darius Sinathrya sebagai pasangan selebriti, karena kehadiran dua nama besar membuat benturan antara citra dan realitas terasa lebih tajam. Sebagai Duta dan Citra, mereka digambarkan sukses, glamor, dan harmonis, sebuah potret ideal yang sering dipuja penggemar sebagai panutan. Namun narasi segera menggeser fokus: di balik foto keluarga sempurna, hubungan mereka retak oleh luka yang tidak terselesaikan dan rahasia yang disimpan terlalu lama. Ketika Citra ingin mengakhiri pernikahan tetapi tersandera kontrak kerja dan masa depan putrinya, kita melihat sisi gelap dari dunia sorotan yang menuntut kebahagiaan tampak, bukan dirasakan. Di titik ini, serial drama Indonesia ini tidak netral; ia mengkritik obsesi publik pada couple goals yang mendorong pasangan mempertahankan pernikahan demi citra, bahkan dengan cara yang mengorbankan diri.
Open marriage tema: kompromi dingin demi anak dan reputasi
Keputusan Citra mengusulkan open marriage hingga putri mereka berusia 16 tahun adalah jantung konflik moral serial ini. Di atas kertas, kesepakatan mereka terdengar rasional: tetap menikah demi stabilitas anak dan kontrak profesional, tetapi memberi ruang untuk mencari kebahagiaan di luar. Dalam eksekusi naratif, pilihan itu terasa seperti kompromi dingin yang menunda perceraian tanpa menyentuh akar masalah. Menurut Ikhsan Sasmita, Head of Original Content Indonesia iQIYI, "Dalam Suka dan Dusta terasa berbeda karena hadir dengan cerita yang lebih kompleks," karena tidak hanya soal hubungan pasangan, tetapi juga tekanan dunia selebriti dan ekspektasi publik terhadap kehidupan yang terlihat sempurna. Serial ini secara halus menyatakan bahwa konsep open marriage yang lahir dari keputusasaan, bukan dari kesepakatan dewasa dan komunikasi jujur, hampir pasti menambah lapisan konflik baru.
Duta, Vania, Denis: perselingkuhan, rahasia, dan tragedi yang menelan semua pihak
Begitu kesepakatan open marriage berjalan, fokus cerita bergeser ke konsekuensi, bukan pada kebebasan. Duta diam-diam menjalin hubungan dengan Vania, gradasi rahasia yang memperumit rumah tangga lebih jauh karena dilakukan di tengah perjanjian yang seharusnya transparan. Di sisi lain, Citra menemukan perhatian dari Denis, investor film yang memberi kehangatan emosional yang selama ini absen dari pernikahan. Serial ini sengaja menolak memberi jawaban mudah tentang siapa yang salah; sebaliknya, ia menunjukkan bagaimana semua pihak terseret ke dalam lingkaran dusta ketika kesepakatan awal tidak disertai batas dan kejelasan. Seiring konflik berkembang, unsur misteri muncul dan sebuah tragedi yang berkaitan dengan hubungan Duta mengancam membuka seluruh rahasia keluarga, membuat perselingkuhan tidak lagi tampak glamor, melainkan destruktif bagi reputasi, keluarga, dan rasa aman yang tersisa.
Mengapa "Dalam Suka dan Dusta" layak ditonton dan didiskusikan
Sebagai iQIYI series baru, “Dalam Suka dan Dusta” punya ambisi lebih besar daripada sekadar memvisualisasikan skandal selebriti. Dengan memadukan drama percintaan, perselingkuhan, konflik keluarga, dan misteri, serial ini mengajak penonton mempertanyakan gagasan modern tentang hubungan, terutama ketika open marriage digunakan sebagai penawar instan bagi masalah yang kompleks. Di level tema, serial ini mengingatkan bahwa kesepakatan apa pun—monogami maupun non-monogami—tidak akan menyelamatkan pernikahan yang kejujurannya rapuh. Di level industri, keberanian mengangkat open marriage tema dalam serial drama Indonesia menandai pergeseran ke cerita yang lebih berani dan reflektif. Pada akhirnya, “Dalam Suka dan Dusta” terasa relevan bukan karena mengglorifikasi hubungan alternatif, melainkan karena mengungkap betapa mahal harga sebuah dusta ketika kebahagiaan dipertaruhkan demi citra.






