AI Bukan Lagi Bonus: 96% Pengguna Ponsel Lipat Samsung Sudah Mengandalkannya
Lonjakan penggunaan Galaxy Z Fold 7 AI dan Galaxy Z Flip 7 menunjukkan bahwa kecerdasan buatan di ponsel lipat Samsung AI telah bergeser dari sekadar fitur tambahan menjadi lapisan utama pengalaman mobile, mengubah cara pengguna mencari informasi, bekerja, dan berkreasi melalui smartphone lipat terbaru yang terintegrasi erat dengan ekosistem Galaxy AI fitur lintas aplikasi dan perangkat.
Data Samsung menunjukkan tingkat penggunaan fitur AI di Galaxy Z Fold 7 dan Galaxy Z Flip 7 di Asia Tenggara dan Oseania naik dari 84% pada Agustus 2025 menjadi 96% pada Juni 2026. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi sinyal bahwa hampir semua pemilik ponsel lipat generasi ketujuh tersebut mengandalkan AI dalam aktivitas hariannya. Dalam sebuah pernyataan, CU Kim menegaskan bahwa fase berikutnya dari AI bukan soal menambah fitur, melainkan membuat teknologi ini relevan dengan kehidupan pengguna, mulai dari gaya hidup, konteks, hingga bahasa mereka. Tren ini memperlihatkan bahwa standar baru smartphone premium adalah AI yang aktif dan personal, bukan lagi sekadar layar besar atau desain lipat.
Lonjakan Penjualan Galaxy Z7: Bukti AI Jadi Alasan Utama Upgrade
Jika dulu ponsel lipat dibeli karena faktor gaya, kini motivasinya bergeser ke produktivitas berbasis AI. Samsung mencatat penjualan Galaxy Z7 Series di Asia Tenggara dan Oseania meningkat hampir 15% dibandingkan generasi sebelumnya. Peningkatan ini tidak bisa dilepaskan dari rasa ingin tahu dan kebutuhan pengguna terhadap fitur-fitur Galaxy Z Fold 7 AI dan Flip 7 yang menyatu dengan rutinitas kerja mereka. Dalam praktiknya, ponsel lipat Samsung AI berubah menjadi alat kerja mobile, bukan sekadar gadget futuristis.
Tiga Galaxy AI fitur yang paling banyak dipakai adalah Circle to Search, Now Brief, dan Photo Assist. Circle to Search mengurangi langkah pencarian informasi, Now Brief merangkum informasi secara personal, sementara Photo Assist mempermudah pengeditan visual untuk laporan, konten media sosial, atau materi presentasi. Samsung melihat pengguna ponsel lipat Galaxy memanfaatkan AI dalam hampir seluruh aktivitas sehari-hari. Di Indonesia sendiri, Circle to Search dan Note Assist disebut sebagai kombinasi favorit, menandakan bahwa pengguna tidak sekadar mencoba AI, tetapi menjadikannya tulang punggung alur kerja harian mereka.
Adopsi AI di Asia Tenggara: Bahasa Lokal jadi Senjata Strategis
Adopsi AI di Asia Tenggara bukan terjadi begitu saja; ia tumbuh di lahan yang sangat subur: populasi muda, melek digital, dan aktif mobile. Samsung secara terbuka mengakui kawasan Asia Tenggara dan Oseania sebagai salah satu pasar paling penting karena didominasi generasi muda yang akrab dengan teknologi digital dan memiliki keragaman bahasa tinggi. Di kawasan ini, smartphone adalah perangkat utama untuk mengakses layanan AI, sehingga keberhasilan atau kegagalan AI nyaris sepenuhnya ditentukan oleh pengalaman mobile.
Di sinilah strategi dukungan 22 bahasa untuk Galaxy AI, termasuk Bahasa Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, menjadi pembeda utama. AI yang memahami bahasa lokal dan nuansa pasar setempat lebih mudah diterima sebagai asisten kerja, bukan teknologi asing. Samsung menegaskan bahwa personalisasi AI tidak hanya soal bahasa, tetapi juga kemampuan mempelajari kebiasaan pengguna lintas perangkat dalam ekosistem Galaxy. Pendekatan ini menjelaskan mengapa adopsi AI Asia Tenggara pada Galaxy Z Fold 7 AI dan Flip 7 bisa mencapai 96%: pengguna merasa teknologi ini berbicara dengan cara yang dekat dengan hidup mereka, bukan memaksa mereka menyesuaikan diri.
Dari Fitur ke Platform: Galaxy AI dan Rencana Generasi Z8
Keputusan Samsung menjadikan integrasi Galaxy AI sebagai fokus utama pengembangan Galaxy Z8 Series menandai pergeseran besar: AI bukan lagi lapisan tambahan, tetapi fondasi desain smartphone lipat terbaru mereka. Setelah melihat bagaimana ponsel lipat Samsung AI di generasi Z7 memicu lonjakan penggunaan AI hingga 96%, wajar bila generasi kedelapan dirancang langsung sebagai perangkat AI-first. Ini bukan sekadar menempelkan lebih banyak menu AI, tetapi membangun sistem yang secara default diasumsikan akan dipandu oleh agent AI.
Pendekatan tersebut tercermin pada konsep platform yang memungkinkan berbagai AI agent bekerja bersama di bawah payung Galaxy AI, sehingga pengguna dapat memilih AI yang paling sesuai dengan kebutuhannya di setiap situasi. Pada Galaxy Z8 Series, hal ini dipadukan dengan One UI 9 untuk menghadirkan pengalaman agentic AI yang lebih canggih melalui integrasi di tingkat sistem dan kontrol yang lebih intuitif. Samsung juga memperluas kolaborasi dengan Google agar pengalaman AI terasa menyatu lintas aplikasi dan perangkat, seperti yang sudah terlihat pada fitur Automation di lini S26. Arah ini jelas: ponsel lipat ke depan akan dinilai bukan seberapa fleksibel layarnya, tetapi seberapa cerdas agent AI-nya mendampingi pengguna.
Dampak pada Pola Kerja: Ponsel Lipat Jadi Kantor Genggam Berbasis AI
Dengan tingkat penggunaan AI yang mendekati 100%, Galaxy Z Fold 7 AI dan Flip 7 diam-diam menggeser definisi produktivitas mobile. Pengguna tidak lagi memecah pekerjaan antara laptop, tablet, dan ponsel; ponsel lipat Samsung AI mulai berperan sebagai kantor genggam yang cukup andal untuk riset cepat, rangkuman dokumen, pengeditan visual, hingga komunikasi lintas bahasa. Melalui Galaxy Z8 Series, Samsung secara eksplisit menyatakan ingin memperluas cara pengguna memanfaatkan AI untuk produktivitas, proses kreatif, dan ekspresi diri.
Ke depan, Samsung percaya pengalaman AI tidak lagi terbatas pada satu layar smartphone; AI akan mendukung produktivitas, hiburan, kesehatan, dan komunikasi lintas perangkat. Artinya, keputusan membeli smartphone lipat terbaru bukan lagi sekadar investasi gaya hidup, tetapi investasi pada asisten digital yang tumbuh bersama kebiasaan pemiliknya. Dengan generasi kedelapan Galaxy foldable, Samsung berupaya memperkuat posisi di segmen smartphone lipat sekaligus memperluas adopsi AI dalam kehidupan sehari-hari pengguna di kawasan ini. Bagi para profesional dan kreator, pertanyaannya sekarang bukan apakah perlu memakai AI, melainkan ponsel lipat mana yang paling efektif menjahit AI ke alur kerja mereka.







