Penantian tujuh pekan berakhir
Gol perdana Peralta di Super League adalah gol domestik pertamanya bersama Persib Bandung, yang ia cetak pada pekan ketujuh musim 2026–2027 setelah lebih dulu mencetak gol di kompetisi Asia. Momen itu tiba pada Minggu, 25 Oktober 2026, ketika Mariano Peralta membobol gawang Garudayaksa FC dan membuka keunggulan Persib. Gol tersebut penting, tetapi penantian tujuh pekan tidak semestinya dibaca sebagai tanda bahwa kualitas sang penyerang merosot. Peralta sudah mencetak gol di AFC Champions League Two dan ASEAN Club Championship; yang berbeda, menurut pelatih Igor Tolic, adalah situasi permainan yang dihadapinya. Karena itu, gol perdana ini lebih tepat menjadi bukti bahwa Persib mulai menemukan cara menghadirkan Peralta di pertandingan liga, bukan alasan untuk menganggap persoalan produktivitasnya selesai.

Low block mengubah cara Peralta menyerang
Tolic menilai Peralta tidak kehilangan kualitas; liga domestik saja menawarkan ruang yang lebih sempit ketimbang pertandingan Asia. Lawan Persib kerap memilih tekanan tinggi atau bertahan total dengan blok rendah, sehingga jalur lari dan ruang untuk menerima bola di depan gawang cepat tertutup. “Menghadapi blok rendah, Anda butuh trik ekstra di ruang sempit,” jelas Tolic. Tantangan Persib low block bukan semata-mata soal mengirim bola lebih sering ke Peralta. Jika serangan mudah dibaca, pemain sayap itu akan terisolasi dan harus berhadapan dengan bek yang sudah siap. Persib perlu membuat pertahanan bergeser lebih dulu melalui sirkulasi bola dan pergerakan tanpa bola, lalu mencari momen untuk memberi Peralta ruang menghadapi lawan. Itu menuntut variasi serangan, bukan hanya mengandalkan kecepatan atau kemampuan individu.
Ketajaman juga bergantung pada kondisi tim
Rapatnya ruang bukan satu-satunya kendala. Tolic juga menyoroti kelelahan fisik dan mental di tengah jadwal padat; ketika pemain kehilangan sepersekian detik, penyelesaian peluang di depan gawang ikut terdampak. Ia mengatakan Persib bermain setiap tiga hari sekali tanpa pemulihan penuh, sehingga ketajaman Peralta tak bisa dinilai terpisah dari beban pertandingan. Bagi tim, ini alasan untuk mengelola keterlibatan sang penyerang dengan cermat, bukan untuk mencari pembenaran atas peluang yang terbuang. Umpan harus datang pada saat Peralta masih punya waktu bereaksi, sementara dukungan pemain lain mesti mencegahnya dikepung tanpa opsi. Saat lawan mulai lelah dan pertandingan lebih terbuka, ruang tambahan dapat menguntungkannya—tetapi Persib sebaiknya berusaha menciptakan celah itu lebih awal.
Gol awal, tugas belum tuntas
Gol pertama di liga seharusnya menjadi titik awal, bukan ukuran akhir bagi Mariano Peralta Persib. Pengalaman mencetak gol di kompetisi Asia menunjukkan bahwa ia mampu memanfaatkan ruang; tugas Persib adalah mengubah keterbatasan ruang domestik menjadi situasi yang lebih menguntungkan baginya. Itu berarti membangun kombinasi cepat, menghadirkan dukungan di sekitar Peralta, dan menjaga tempo agar serangan tidak berhenti pada umpan ke sayap. Super League Persib menuntut solusi yang lebih cermat terhadap lawan yang menumpuk pemain di belakang bola. Gol di pekan ketujuh mengakhiri penantian, tetapi konsistensi berikutnya akan bergantung pada kerja kolektif. Jika Persib mampu membuka blok rendah dan menjaga tenaga pemain di tengah jadwal padat, Peralta punya peluang lebih besar untuk kembali menentukan hasil.






