Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Desainer Muda Luncurkan Koleksi Ready-to-Wear Berkarakter

Desainer Muda Luncurkan Koleksi Ready-to-Wear Berkarakter
Minat|Tren Fashion

Dari Street ke Runway: Inti Pergeseran Ready-to-Wear

Tren koleksi ready-to-wear terbaru menggambarkan bagaimana desainer muda Indonesia mengangkat bahasa berpakaian sehari-hari menjadi busana berkarakter, melalui pendekatan atelier, eksplorasi tekstur, dan esensial yang dirancang untuk dipakai sungguhan, bukan hanya untuk foto runway atau kampanye. Street style runway, koleksi unisex, dan pakaian sehari-hari bernuansa New York bertemu dalam satu benang merah: keinginan untuk menghadirkan fashion lokal Jakarta yang lebih dekat dengan kehidupan nyata, namun tetap memiliki kedalaman desain, konstruksi, dan gagasan yang jelas. Di titik ini, mode tidak lagi berhenti pada tampilan, melainkan bergerak menuju pakaian yang nyaman, fungsional, tetapi estetis dan personal. Lima desainer muda membawa suasana jalanan ke atas runway, ketika gaya generasi muda diolah menjadi koleksi berani, detail, dan elegan lewat sentuhan atelier dalam sebuah peragaan busana di Senayan City, Jakarta, Minggu (20/9/2026) malam. Di sini, street style runway bukan sekadar hoodie dan sneakers; ada corset yang dipadukan dengan busana kasual, konstruksi rumit, dan perhatian pada bagian dalam pakaian agar tetap nyaman dikenakan. Kekuatan mereka bukan hanya pada tampilan, tetapi pada kesadaran bahwa pakaian harus terasa enak di tubuh, bukan sekadar cantik di foto.

Desainer Muda Luncurkan Koleksi Ready-to-Wear Berkarakter

Lima Mahasiswa Desain: Street Style Berbalut Sentuhan Atelier

Peragaan di Senayan City ini menegaskan bahwa generasi baru desainer muda Indonesia tidak puas dengan imitasi streetwear Barat; mereka memulai dari kehidupan sehari-hari sendiri dan mengolahnya lewat disiplin atelier. Tema street menjadi benang merah koleksi, diinspirasi oleh apa yang ditemui generasi muda di jalan, lalu diterjemahkan lewat teknik pembuatan pola, jahitan, hingga finishing yang rapi. Pendekatan ini membuat fashion lokal Jakarta terasa lebih jujur: tidak menutupi asal-usul street style, tetapi menaikkan level detail dan konstruksi. Yang menarik, seluruh koleksi adalah karya asli mahasiswa, dari rancangan, pembuatan pola, menjahit, hingga sebagian produksi mereka kerjakan sendiri. Prosesnya berlangsung panjang sejak Januari dan mencakup penyusunan business plan, pemotretan, sampai persiapan koleksi sebagai latihan fashion entrepreneur. Kutipan yang layak dicatat: “Mahasiswa juga diajarkan memperhatikan bagian dalam pakaian, konstruksi, teknik pengerjaan, hingga finishing,” ujar CEO lembaga pendidikan mode yang menaungi mereka. Pernyataan ini menunjukkan bahwa mindset industri sudah bergeser: ready-to-wear dianggap serius, bukan sekadar tugas akhir.

FUGUKU dan GROUND ZERO: Unisex Collection di Ruang Abu-Abu

Jika para mahasiswa mengangkat street style ke level atelier, FUGUKU memilih jalur eksplorasi tekstur dan bentuk lewat GROUND ZERO, koleksi ready-to-wear unisex perdananya. Diluncurkan di PILLAR, Plaza Indonesia Lantai 3, pada Jumat, 25 September 2026, pukul 12.00–15.00 WIB, koleksi ini menjadi babak baru bagi brand yang selama ini dikenal dengan detail duri khasnya. GROUND ZERO berangkat dari gagasan memulai kembali, ruang abu-abu ketika batas lama melebur dan hitam-putih membuka diri pada berbagai kemungkinan. Filosofi “Because there is no right or wrong” terasa relevan di tengah kebutuhan akan pakaian yang lebih inklusif. Untuk pertama kalinya, FUGUKU menghadirkan kemeja dari perpaduan katun dan polyester berbahan plastik daur ulang, dengan detail duri yang memberi tekstur tak terduga dan siluet tak konvensional. Seluruh koleksi dirancang sebagai unisex collection untuk pria dan perempuan, dan dilengkapi tas baru yang membawa kebutuhan sehari-hari dengan karakter khas FUGUKU. Pada hari peluncuran, penawaran “Complete the Look” memadukan satu busana ready-to-wear pilihan dengan satu tas FUGUKU seharga Rp1.880.000, sudah termasuk diskon 6% bagi pengunjung yang hadir. Penawaran ini hanya berlaku saat acara, selama persediaan ada.

Desainer Muda Luncurkan Koleksi Ready-to-Wear Berkarakter

Forgot: Sentuhan New York untuk Pakaian Sehari-Hari

Sementara itu, di sisi lain spektrum, pendiri Café Forgot, Vita Haas dan Lucy Weisner, meluncurkan Forgot, lini busana baru berisi esensial minimalis namun playful yang membawa sentuhan khas New York ke lemari pakaian sehari-hari. Setelah hampir satu dekade mengkurasi item unik dan desainer independen, mereka memutuskan untuk membuat sendiri beberapa item yang selama ini dicari pelanggan. Forgot tidak jatuh pada kostum avant-garde yang sulit dipakai; label ini mengolah gagasan avant-garde menjadi pakaian yang benar-benar dirancang untuk dikenakan: celana dengan lipatan bagian atas, lapisan yang fleksibel, hingga hoodie yang bisa menjadi gaun. Koleksi Forgot lahir dari observasi bertahun-tahun terhadap cara pelanggan bereksperimen dengan garis leher, paduan warna, dan cara memakai pakaian berlapis. Ketegangan antara fantasi mode dan realitas kerja di lantai toko terasa dalam konsep kampanyenya, yang terinspirasi reality show awal penuh magang, drama, dan busana tidak praktis. Akan diluncurkan pada akhir September, Forgot pada dasarnya menjawab pertanyaan berulang di toko: “Apa yang cocok dipadukan dengan ini?”—sebuah pernyataan yang memperlihatkan ambisi mereka untuk menjembatani fantasi mode dan hidup sehari-hari pelanggan.

Desainer Muda Luncurkan Koleksi Ready-to-Wear Berkarakter

Implikasi bagi Fashion Lokal: Nyaman, Unisex, dan Sehari-Hari

Ketiga kisah ini—mahasiswa yang membawa street style ke runway, GROUND ZERO sebagai unisex collection, dan Forgot yang merancang esensial sehari-hari—mengarah pada kesimpulan yang sama: masa depan fashion lokal Jakarta akan ditentukan oleh seberapa dekat desainer mau berada dengan kehidupan nyata. Pada level paling praktis, semua pihak menekankan pentingnya kenyamanan. Pengajar yang membimbing para desainer muda menegaskan bahwa pakaian tidak boleh berhenti pada tampilan luar, tetapi perlu detail internal dan finishing yang membuatnya enak dipakai sepanjang hari. FUGUKU pun mengolah material daur ulang menjadi kemeja dengan dimensi skulptural, tetapi tetap akrab dengan keseharian. Forgot, di sisi lain, merancang pakaian untuk momen “mengangkut kotak ke sebuah pesta”, bukan hanya untuk red carpet atau editorial. Implikasinya jelas: koleksi ready-to-wear bukan lagi produk sampingan, melainkan arena utama eksplorasi ide, identitas, dan bisnis bagi desainer muda. Koleksi yang lahir dari jalanan, ruang abu-abu gender, dan pengalaman lantai toko membawa fashion ke arah yang lebih inklusif dan fungsional. Jika desainer berani terus menempatkan kenyamanan, fungsi, dan personalisasi di pusat desain, fashion lokal akan tumbuh bukan hanya sebagai tren sesaat, tetapi sebagai praktik berpakaian yang relevan dengan hidup orang banyak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!