Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Saat Jadwal Kerja Bentrok dengan Sekolah: Pelajaran dari Keresahan Paula Verhoeven

Saat Jadwal Kerja Bentrok dengan Sekolah: Pelajaran dari Keresahan Paula Verhoeven
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Ketika Jadwal Kerja Anak Menyalip Hak Belajar

Dilema jadwal kerja vs sekolah adalah situasi ketika aktivitas profesional, termasuk syuting dan proyek kreatif, mulai menggerus waktu belajar anak, memaksanya absen dari hari sekolah aktif dan mengorbankan pengalaman tumbuh kembang yang seharusnya menjadi prioritas utama keluarga sejak usia dini. Dalam kasus ini, konflik bukan sekadar masalah kalender, melainkan pertarungan nilai antara ambisi kerja dan prioritas pendidikan anak yang menuntut sikap tegas orang tua untuk menempatkan sekolah sebagai hak dasar, bukan opsi yang bisa dinegosiasikan demi kesibukan kerja anak. Paula Verhoeven baru-baru ini menunjukkan bagaimana konflik itu terasa nyata dalam kehidupan parenting selebriti. Ia mengaku prihatin melihat putranya, Kiano Tiger Wong, kembali dipadatkan dengan jadwal syuting di hari aktif sekolah. Melalui unggahan Instagram Story pada Rabu (5/8/2026), Paula menulis dengan nada sayang sekaligus cemas, “Ohh adek kerjaaa lagi sayang hari ini?” sebagai reaksi atas aktivitas kerja sang putra. Ungkapan itu bukan curhat biasa; ia adalah pernyataan sikap bahwa prioritas pendidikan anak tidak boleh kalah oleh keseruan dunia hiburan.

Saat Jadwal Kerja Bentrok dengan Sekolah: Pelajaran dari Keresahan Paula Verhoeven

Keresahan Paula: Pendidikan Bukan ‘Korban Sampingan’ Industri Hiburan

Yang membuat sikap Paula penting untuk dibahas adalah keberaniannya mengakui bahwa kesibukan kerja anak sudah melewati batas wajar. Ia menulis, “Adek walaupun katanya kamu suka, tapi pendidikan jangan ditinggalin adek…” sebagai pengingat bahwa rasa senang di lokasi syuting tidak otomatis menjadikannya prioritas. Di titik ini, ia menolak normalisasi bahwa anak yang aktif di dunia hiburan wajar saja sering meliburkan diri dari bangku sekolah. Paula menegaskan, “Syuting bukan kewajiban kamu nak,” lalu mengakui, “Mama sedih deh bolosnya kebanyakan” sebagai bentuk kejujuran bahwa ada harga emosional ketika sekolah dikorbankan terlalu sering. Proyek film terbaru garapan sang ayah diduga menjadi konteks mengapa jadwal Kiano kembali padat di hari sekolah. Alih-alih merayakan eksposur publik putranya, Paula menutup curahan hati dengan tagar #pendidikanutama dan #anakadalahamanah. Di sini jelas: bagi Paula, anak bukan aset konten, melainkan individu yang hak belajarnya tidak boleh dinegosiasikan.

Field Trip yang Hampir Terlewat: Alarm Halus soal Prioritas

Keresahan Paula tidak hanya muncul saat Kiano sibuk syuting; momen lain datang ketika sang putra hampir tertinggal bus field trip sekolahnya. Walau akhirnya ia bisa menyusul dan ikut rombongan di tengah perjalanan, kejadian itu menjadi pengingat bahwa pengalaman belajar di sekolah—termasuk kegiatan di luar kelas seperti field trip—adalah bagian penting dari masa tumbuh kembang yang tidak layak diganggu oleh jadwal pekerjaan. Lewat unggahan tersebut, Paula menegaskan bahwa anak yang aktif di dunia hiburan tetap harus diimbangi dengan hak memperoleh pendidikan. Sekolah ia lihat bukan sekadar rutinitas harian, melainkan bekal penting yang perlu dipupuk sejak dini. Jika bus field trip bisa tertinggal, itu simbol bahwa urusan sekolah sering ditempatkan di nomor dua setelah urusan kerja. Dan simbol seperti ini seharusnya membuat orang tua modern berhenti sejenak, lalu bertanya: apa yang diam-diam kita jadikan prioritas—rating dan proyek, atau masa kecil yang utuh?

Work-Life Balance Orang Tua Publik: Sikap, Bukan Sekadar Jadwal

Kisah Paula menggambarkan tekanan unik parenting selebriti: ketika kesibukan kerja anak bersinggungan langsung dengan citra dan karier orang tua, ada godaan kuat untuk menganggap absen sekolah sebagai konsekuensi yang bisa ditoleransi. Namun lewat tagar #pendidikanutama dan kalimat-kalimatnya yang tegas, Paula justru mengirim pesan berlawanan: ambisi karier harus tunduk kepada prioritas pendidikan anak. Yang menarik, ia tidak menyangkal bahwa Kiano menikmati dunia hiburan; ia mengakui hal itu namun tetap mewanti-wanti agar hak pendidikan tidak terabaikan. Sikap ini penting sebagai penyeimbang narasi glamor di sekitar parenting selebriti. Ketika orang tua publik mau mengakui di depan audiens bahwa bolos sekolah kebanyakan adalah masalah, mereka sedang menggeser standar: sukses bukan berarti jadwal syuting penuh, melainkan kombinasi sehat antara kesempatan berkarya dan kehadiran konsisten di ruang kelas. Di sini, work-life balance orang tua bukan tentang mencari slot waktu kosong, tetapi tentang berani berkata “tidak” pada tawaran kerja yang menggerus hak belajar anak.

Kesimpulan: Menegakkan Prioritas Pendidikan Anak di Tengah Kesibukan

Dari keresahan Paula, satu pesan mengemuka: prioritas pendidikan anak harus berdiri kokoh, bahkan ketika dunia kerja terasa menggiurkan dan penuh peluang. Jadwal syuting di hari sekolah aktif, field trip yang hampir terlewat, dan pengakuan bahwa bolos sudah “kebanyakan” adalah tanda bahwa garis batas antara kerja dan sekolah mudah sekali bergeser jika orang tua tidak sadar dan tidak tegas. Paula memilih memaknai anak sebagai amanah, bukan mesin konten atau penopang proyek keluarga. Sikap seperti ini layak ditiru, terutama oleh orang tua yang hidup di sekitar panggung, kamera, atau industri kreatif. Ketika orang tua publik terang-terangan menyatakan pendidikan jangan ditinggal, mereka bukan hanya membela anak sendiri, tetapi juga mengirimkan standar baru: kesibukan kerja anak tidak pernah boleh lebih penting daripada haknya duduk di bangku sekolah dan menikmati masa kecil yang lengkap.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!