Gotong Royong Sebagai Wajah Baru Tata Kelola Drainase Kota
Pembersihan parit Medan di Jalan Taduan adalah program gotong royong infrastruktur yang memadukan kerja warga, aparatur pemerintah, dan penggunaan alat berat untuk normalisasi saluran air, mengurangi genangan, serta memperbaiki fungsi drainase di kawasan perkotaan sebagai bagian dari strategi jangka panjang tata kelola lingkungan yang lebih sehat dan tertib. Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengerahkan jajaran Pemko untuk bergotong royong membersihkan parit yang tersumbat dan dipenuhi sedimentasi tebal di Jalan Taduan, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Medan Tembung, pada Sabtu 8 Agustus 2026. Pembersihan ini tidak sekadar agenda rutin, tetapi sinyal politik bahwa persoalan drainase bukan urusan musiman, melainkan prioritas tata kota. Fokusnya jelas: memperlancar aliran air dan mencegah genangan yang selama ini mengganggu warga saat hujan deras.

Dari Parit Tersumbat ke Drainase Sehat: Mengapa Aksi Ini Mendesak
Inti masalahnya sederhana tetapi serius: banyak bagian parit di Jalan Taduan tersumbat dan dipenuhi sedimen sehingga aliran air tidak lancar dan berpotensi menimbulkan genangan saat hujan. Sedimentasi yang dibiarkan menumpuk adalah bom waktu banjir; warga merasakannya sebagai genangan yang berulang dan merusak kenyamanan hidup. Di sinilah pembersihan parit Medan menjadi krusial, karena menyasar akar persoalan, bukan sekadar mengurusi dampak di permukaan. Pernyataan Citra Effendi Capah bahwa kondisi tersebut mengakibatkan banjir dan air tergenang memperlihatkan kejujuran pemerintah mengakui kelalaian masa lalu. Normalisasi saluran air tidak bisa ditunda lagi jika kota ingin keluar dari siklus “banjir-musim hujan, lupa-musim kering”. Kegiatan ini menjadi tes penting: apakah pemko serius membalik keadaan atau berhenti di seremoni.
Sinergi Manual dan Alat Berat: Gotong Royong yang Modern
Yang menarik dari gotong royong infrastruktur ini adalah kombinasi kerja manual dan penggunaan alat berat. Pemko Medan menurunkan satu unit alat berat dan beberapa truk untuk mengangkut sampah serta sedimen hasil pengerukan. Ini menunjukkan kesadaran bahwa penanganan sedimentasi parit tidak cukup mengandalkan tenaga warga dengan cangkul dan sekop. Di sisi lain, Citra mengakui bahwa alat berat tidak bisa menjangkau semua titik karena kondisi teknis saluran berbeda-beda, sehingga pengerjaan manual tetap dibutuhkan. Di sinilah esensi gotong royong versi baru: warga, perangkat kecamatan, dan dinas teknis saling mengisi, bukan saling melempar tanggung jawab. Model ini patut dipertahankan karena menyatukan kedisiplinan teknis dan semangat kebersamaan, dua hal yang sering hilang dalam proyek penataan infrastruktur kota.
Dari Pengerukan ke U-Ditch: Membangun Drainase yang Berkelanjutan
Pengerukan parit Jalan Taduan bukan titik akhir, melainkan tahap awal sebelum penataan drainase permanen. Kepala Dinas SDABMBK Khairul Azmi menyatakan bahwa normalisasi saluran air diawali pengerukan, lalu dilanjutkan dengan rencana pemasangan U-ditch yang ditargetkan dalam program tahun 2027. Quotable statement: "Pengerukan menjadi tahap awal sebelum dilakukan penataan drainase secara permanen," ujar Khairul Azmi. Saluran akan diukur panjangnya secara pasti, elevasi dan kemiringan juga diperhitungkan agar aliran air terhubung hingga ke Sei Kera dan mengikuti arah aliran air secara presisi. Pendekatan berbasis perhitungan teknis ini penting supaya hasil pembersihan hari ini tidak kembali menjadi parit mati beberapa tahun lagi. Meski begitu, janji pemasangan U-ditch tetap perlu diawasi publik agar tidak sekadar berhenti pada wacana tahunan.
Tanggung Jawab Warga: Parit Bukan Tempat Sampah, Bukan Hak Pribadi
Sebagus apa pun penataan drainase, semua bisa gagal jika warga menjadikan parit sebagai tempat sampah atau menutup saluran demi kenyamanan pribadi. Citra mengingatkan agar masyarakat tidak membuang sampah ke parit dan tidak menutup saluran air di depan rumah tanpa memperhatikan aliran, karena dapat menyumbat dan mengganggu warga lain. Di sinilah letak kejujuran kebijakan: pemerintah mengakui peran warga sebagai bagian dari masalah sekaligus bagian dari solusi. Pembersihan parit Medan di Jalan Taduan yang didukung masyarakat sekitar menunjukkan bahwa dukungan publik bukan hal mustahil jika programnya jelas dan manfaatnya terasa. Kesimpulannya, gotong royong infrastruktur hanya akan berumur panjang bila dibarengi budaya menjaga saluran air bersama. Kota yang bebas genangan lahir dari parit yang bersih, dan parit yang bersih lahir dari warga yang tidak abai.






