Doomscrolling: Ketika Rasa Ingin Tahu Berubah Menjadi Lingkaran Cemas
Doomscrolling adalah kebiasaan menelusuri doomscrolling media sosial dan kanal digital secara terus-menerus untuk mencari berita negatif atau mengkhawatirkan, berpindah dari satu konten ke konten lain tanpa henti, hingga informasi yang dikonsumsi melebihi kapasitas mental dan memicu rasa cemas, lelah, dan kewalahan dalam keseharian. Fenomena ini bukan sekadar membaca satu berita buruk, melainkan pola berulang di mana kita terus menggulir tanpa sadar dan jarang berhenti untuk bertanya: “Apakah ini masih membantu saya memahami situasi, atau hanya menambah panik?” Gulir tanpa batas dan rekomendasi otomatis membuat satu video diikuti video lain dan kolom komentar tanpa ada momen “selesai”. Di titik ini, berita berlebihan cemas dan overwhelm informasi bukan lagi soal isi beritanya, melainkan cara kita berhubungan dengan arus informasi digital yang tidak pernah berhenti.
Berita Berlebihan, Overwhelm, dan Kesehatan Mental: Kenapa Kita Perlu Batas
Ketika kabar yang kita konsumsi didominasi konflik, bencana, dan prediksi suram soal iklim, ekonomi, atau politik, otak kita bekerja dalam mode waspada terus-menerus. Terlalu banyak informasi semacam ini mudah berubah menjadi overwhelm informasi: kapasitas memproses jenuh, fokus pecah, dan tubuh bereaksi dengan gelisah. Akibatnya, berita berlebihan cemas dan rasa panik muncul, lalu merembet ke aktivitas sehari-hari—pekerjaan tertunda, tidur kacau, dan sulit menikmati hal yang sebenarnya positif. Di sisi lain, tetap mengikuti kondisi terkini itu penting karena membantu kita memahami situasi dan mengambil keputusan yang lebih tepat. Kuncinya bukan "putus hubungan" dengan berita, melainkan manajemen informasi digital yang sadar: kita menentukan kapan, seberapa banyak, dan dari mana informasi layak masuk ke ruang mental. Mengambil jarak dari arus informasi bukan sikap apatis, melainkan cara merawat kesehatan mental berita agar kepedulian bisa bertahan dalam jangka panjang.
Mengatur Waktu dan Alur: Jangan Biarkan Algoritma Menentukan Ritme Hidup
Psikolog menyarankan punya window time khusus untuk membaca berita, misalnya pagi saat sarapan atau satu jeda di malam hari. Dengan cara ini, manajemen informasi digital kembali ke tangan kita, bukan ke algoritma. Gulir tanpa batas bukan desain netral; ia mendorong kita menggulir tanpa sadar dan membuat berhenti terasa sulit. Jika kita terus bereaksi spontan terhadap apa yang muncul di beranda, doomscrolling media sosial menjadi default, bukan pengecualian. Mengatur ritme berarti berani berkata: “Saya membaca berita pada jam tertentu, dari sumber tertentu, dan setelah itu saya kembali ke tugas utama.” Membatasi konsumsi berita sesekali bukan tanda tidak peduli; itu sinyal bahwa kita melindungi fokus dan kewarasan agar tetap bisa peduli ketika keadaan benar-benar membutuhkan kehadiran kita. Di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti, kemampuan berhenti sama pentingnya dengan kemampuan mencari tahu.
Menyaring Konten Negatif: Fokus pada Informasi yang Berguna, Bukan yang Menguras
Tidak semua kabar buruk wajib kita telusuri sampai ke akar. Ada perbedaan antara memenuhi kebutuhan informasi—misalnya mencari kabar gempa untuk memastikan keluarga aman—dengan pola menghabiskan waktu menonton puluhan konten serupa tanpa menemukan hal baru. Pola kedua adalah jantung doomscrolling: semakin tidak nyaman, semakin ingin tahu, dan semakin banyak mencari, semakin banyak kabar buruk ditemukan—lalu rasa tidak nyaman makin kuat. Di sini kesehatan mental berita dipertaruhkan; kita bisa ikut hanyut dalam setiap konflik dan bencana, namun kehilangan kemampuan untuk bertindak di lingkungan sendiri. Sikap selektif adalah bentuk kepedulian yang matang: pilih isu yang relevan dengan hidup dan peran kita, cari sumber yang informatif, lalu hentikan ketika informasi tidak lagi membantu keputusan. Dengan memberi batas pada waktu dan sumber informasi, kita tetap tahu apa yang terjadi tanpa kehilangan kendali atas keseharian.
Mengambil Jarak Sebagai Praktik Merawat Diri, Bukan Kabur dari Kenyataan
Banyak orang takut mengurangi paparan berita karena khawatir dicap tidak peduli. Padahal psikolog menegaskan, membatasi konsumsi berita bukan berarti menutup diri dari informasi atau berhenti peduli. Mengambil jarak adalah strategi mempertahankan kewarasan dan kepedulian jangka panjang: kita mengakui bahwa kapasitas mental punya batas, dan rasa cemas tidak otomatis membuat kita lebih berguna bagi orang lain. Di tengah lingkungan informasi yang sangat padat, kebiasaan doomscrolling berjalan beriringan dengan tanda-tanda tekanan psikologis, bukan dengan peningkatan kualitas tindakan. Memilih untuk berhenti menggulir, menutup aplikasi, dan kembali ke dunia nyata—mengobrol, bekerja, atau beristirahat—adalah bentuk perlawanan terhadap logika “selalu online” yang melelahkan. Kesimpulannya tegas: mengikuti berita penting, tetapi kesehatan mental berita lebih penting. Kita berhak tahu, dan kita juga berhak tenang.






