Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Rupiah Cetak Rekor Terlemah saat Tekanan Dolar Menguat

Rupiah Cetak Rekor Terlemah saat Tekanan Dolar Menguat
Minat|Asia Tenggara

Rekor penutupan terlemah menandai tekanan yang kian berat

Nilai tukar rupiah adalah harga mata uang rupiah ketika ditukar dengan mata uang lain, terutama dolar AS, dan pergerakannya mencerminkan tekanan pasar terhadap mata uang domestik. Pada Rabu, 28 Oktober 2026, rupiah kembali ditutup melemah, turun 0,17% ke Rp18.175 per dolar AS—penutupan terlemah sepanjang masa, melampaui rekor sebelumnya Rp18.170 pada 8 Juni 2026. Ini bukan sekadar angka baru di papan kurs: penutupan tersebut memperlihatkan tekanan yang menetap, bukan gejolak sesaat yang pulih sebelum akhir perdagangan. Pelemahan sudah tampak sejak pembukaan di Rp18.152, lalu bertambah hingga penutupan. Bagi pasar, arah ini penting karena mengisyaratkan bahwa permintaan terhadap dolar masih lebih kuat daripada dukungan bagi rupiah. Rekor tersebut juga muncul ketika investor menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve, membuat ketidakpastian kebijakan AS ikut membatasi ruang gerak rupiah.

Dolar perkasa, sementara pemicu tekanan bertumpuk

Penguatan dolar AS menjadi bagian utama cerita, tetapi bukan satu-satunya sebab rupiah melemah. Indeks dolar AS tercatat menguat 0,14% ke 102,461 pada pukul 15.00 WIB, menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve. Pasar memperkirakan suku bunga bertahan di kisaran 3,75%–4,00%; karena itu, perhatian beralih pada petunjuk kebijakan berikutnya dan kekhawatiran bank sentral terhadap inflasi. Sebelumnya, pejabat Bank Indonesia Firman Mochtar menjelaskan bahwa imbal hasil US Treasury yang lama berada di atas 5% mengurangi daya tarik investasi di negara berkembang dan mendorong permintaan dolar. Ia juga menyebut pembahasan MSCI mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia menambah tekanan. Penilaian ekonom UOB Kay Hian Surya Wijaksana melengkapi gambaran itu: harga minyak yang tinggi, sentimen investor asing yang memburuk setelah pengumuman MSCI, serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut membebani rupiah.

Tekanan melampaui dolar, tetapi perbandingan perlu cermat

Tekanan terhadap kurs rupiah juga perlu dibaca dalam konteks mata uang mitra dagang, bukan hanya pasangan dolar. Data Bank Indonesia menunjukkan JISDOR berada di Rp18.139 per dolar AS pada 27 Oktober, melemah dari Rp18.116 sehari sebelumnya. Pada 28 Oktober, kurs transaksi BI mencatat kurs jual dolar AS Rp18.229,69 dan kurs beli Rp18.048,31. Angka transaksi tersebut berbeda dari penutupan pasar karena mencerminkan kurs jual dan beli, sehingga tidak tepat disamakan begitu saja dengan harga penutupan. Yuan Tiongkok termasuk mata uang yang relevan untuk dipantau karena Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Indonesia dalam perdagangan nonmigas; Jepang, India, dan Australia juga termasuk mitra utama. Namun, data yang tersedia di sini tidak memuat angka pergerakan rupiah terhadap yuan atau mata uang mitra lainnya. Maka, tekanan lintas mata uang patut menjadi perhatian, tetapi tidak boleh disimpulkan sebagai rekor pelemahan terhadap semua mitra dagang.

Pelemahan kali ini mengulang pola, dengan tekanan domestik tambahan

Episode ini memiliki kemiripan dengan tekanan pada 23 Oktober, ketika rupiah berada di Rp18.079 per dolar AS setelah penutupan sebelumnya Rp18.045. Saat itu, penguatan dolar dikaitkan dengan imbal hasil US Treasury yang tinggi dan berkurangnya minat investor terhadap aset negara berkembang; pembahasan MSCI juga disebut menekan rupiah. Menjelang penutupan rekor pada 28 Oktober, pola global tersebut tetap ada, tetapi daftar pemicunya lebih jelas mencakup harga minyak dan sentimen investor asing. Perbedaan ini penting: menyebut dolar sebagai satu-satunya penyebab akan mengabaikan tekanan domestik dan faktor komoditas. Ekonom Surya Wijaksana memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp18.000–Rp18.200 dan menilai intervensi Bank Indonesia dapat membatasi pelemahan. Namun, intervensi bukan jaminan tekanan segera berakhir. Selama dolar tetap kuat dan ketidakpastian pasar bertahan, rekor penutupan terlemah menjadi peringatan bahwa volatilitas rupiah masih tinggi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!