Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

The Weeknd Taklukkan JIS: Spektakel Besar, Akses Jadi PR

The Weeknd Taklukkan JIS: Spektakel Besar, Akses Jadi PR
Minat|Penyanyi/Band Pop

After Hours Til Dawn di Jakarta: Definisi Spektakel Pop Global

Konser The Weeknd Jakarta konser dalam rangka After Hours Til Dawn Tour di Jakarta International Stadium adalah pertunjukan pop global berskala besar yang menggabungkan produksi panggung sinematik, deretan lagu hits, dan antusiasme penonton lintas kota, sekaligus menyoroti tantangan akses venue yang harus dibenahi untuk mengimbangi standar show kelas dunia. Dari awal, konser ini terasa seperti pernyataan besar: pasar musik Asia Tenggara siap diseriusi, asalkan infrastrukturnya ikut naik kelas. Selama dua hari, 26 dan 27 September 2026, JIS berubah menjadi katedral pop gelap, penuh laser, flamer, asap, dan kembang api yang membuat stadion bergemuruh. Fakta bahwa kota ini menjadi salah satu tujuan tur Asia yang berlanjut ke Singapura, Seoul, Bangkok, Hong Kong, dan Kuala Lumpur menandakan betapa strategisnya kawasan ini dalam peta tur global.

The Weeknd Taklukkan JIS: Spektakel Besar, Akses Jadi PR

Abel Tesfaye dan Panggung Futuristis: Pengalaman Menonton yang Nyaris Sinematik

Dari sisi kualitas pertunjukan, sulit membantah bahwa The Weeknd menaklukkan JIS dengan kelas. Konser dibuka lewat “Baptized in Fear”, atmosfer gelap dan dramatis, Abel muncul memakai topeng sebelum akhirnya membukanya dan tersendat haru melihat energi crowd. Di sini terasa bahwa hubungan artis–penonton bukan sekadar transaksi tiket, tapi dialog emosional. Produksi After Hours Til Dawn Tour di Jakarta International Stadium menunjukkan standar baru: instalasi robot emas raksasa karya Hajime Sorayama di tengah panggung, permainan cahaya, dan efek khusus yang membuat tiap pergantian lagu punya dunia visual sendiri. Salah satu quotable moment malam itu adalah ucapannya, “Dari energy yang kamu berikan padaku malam ini, aku tahu aku bakal kembali secepatnya.” Ketika “Starboy”, “The Hills”, hingga penutupan “Moth to a Flame” menggelegar, terasa jelas: ini bukan sekadar konser, ini pengalaman audiovisuual yang dirancang dengan niat penuh.

The Weeknd Taklukkan JIS: Spektakel Besar, Akses Jadi PR

Pengalaman Penonton: Puas dengan Show, Kaget dengan Akses

Kalimat paling jujur tentang pengalaman penonton konser mungkin datang dari Cinta, penggemar yang terbang seorang diri dari Surabaya dan menonton dua malam berturut-turut: konser dua jam tanpa jeda, “benar-benar memuaskan”. Mahira menyebut tata panggung berskala besar ini “keren banget, konser lain sepertinya belum ada yang semegah ini”, sementara Malitha merasa sangat dimanjakan konsep panggung, visual, dan energi Abel yang tampil habis-habisan sepanjang pertunjukan. Antusiasme penggemar yang datang dari berbagai daerah memperlihatkan daya tarik pop global terhadap pasar Asia Tenggara: orang rela bepergian jauh demi satu nama yang mereka cintai. Namun di balik pujian, ada catatan penting: layar raksasa sempat padam di tengah pertunjukan, mengurangi pengalaman menonton, dan ini bukan detail sepele untuk produksi sebesar ini. Ketika penonton sudah memberikan komitmen maksimal, wajar bila mereka menuntut profesionalisme tanpa kompromi dari sisi teknis.

Masalah Akses JIS: PR Serius untuk Era Konser Skala Stadion

Jika panggung The Weeknd terasa masa depan, akses ke Jakarta International Stadium sayangnya masih tertinggal di masa lalu. Penonton menyoroti kepadatan arus massa saat keluar menuju titik penjemputan transportasi setelah konser berakhir, menandakan integrasi transportasi publik yang belum siap menghadapi puluhan ribu orang dalam satu waktu. Malitha menegaskan perlunya integrasi transportasi umum yang lebih mudah dijangkau dari stadion berkapasitas sekitar 82.000 penonton tersebut. Ini bukan keluhan remeh; ini alarm bahwa infrastruktur harus mengejar kecepatan pertumbuhan pasar konser internasional. Ketika kota ini masuk rute After Hours Til Dawn Tour bersama Singapura, Seoul, Bangkok, Hong Kong, dan Kuala Lumpur, standar pembandingnya otomatis naik. Promotor dan pemangku kebijakan tidak bisa puas hanya karena tiket laku; mereka wajib memastikan pengalaman penonton tidak berakhir dengan kekacauan di pintu keluar.

Janji Kembali dan Masa Depan Pasar Konser di Kawasan

Ada satu momen yang seharusnya membuat pengelola venue dan promotor berpikir panjang: janji Abel Tesfaye untuk kembali “secepatnya” setelah merasakan energi penonton di Jakarta. Artis kelas dunia tidak akan berkata demikian bila pasar dirasa dingin; sebaliknya, ini tanda bahwa kawasan ini sedang naik daun sebagai destinasi tur besar. Konser dua hari di JIS yang memuaskan penggemar lintas kota memperlihatkan bahwa penonton di Asia Tenggara tak cuma ikut tren, tapi membangun ekosistem pop global yang hidup. Namun masa depan cerah itu bersyarat: kualitas pertunjukan harus terus setinggi malam-malam After Hours Til Dawn Tour, sementara akses dan kenyamanan wajib segera dibenahi. Jika tidak, kita berisiko menjadi tempat singgah yang melelahkan, bukan rumah kedua bagi tur dunia. Kesimpulannya tegas: panggung sudah kelas dunia, sekarang giliran infrastrukturnya menyusul, atau kita akan tertinggal di antrian berikutnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!