Ketepatan istilah adalah dasar liputan lingkungan
Jurnalisme lingkungan adalah peliputan yang menjelaskan persoalan alam, dampak kebijakan, dan hubungan manusia dengan ekosistem secara akurat agar masyarakat dapat memahami taruhannya. Karena itu, pelatihan jurnalisme lingkungan bukan pelengkap bagi wartawan, melainkan bekal untuk menghindari istilah keliru dan menyajikan isu rumit dengan jelas.
Di Medan, DPW Ikatan Media Online (IMO) Indonesia Sumatera Utara dan Green Justice Indonesia (GJI) sepakat menggelar pelatihan jurnalistik lingkungan bagi wartawan. Kesepakatan itu dibahas pada 29 Oktober 2026 oleh Ketua DPW IMO Sumatera Utara HA Nuar Erde, Sekretaris Harun Al Rasyid, dan Ketua GJI Panut Hadisiswoyo. GJI menyebut masih ditemukan pemberitaan yang menggunakan terminologi lingkungan secara kurang tepat. Masalahnya bukan sekadar pilihan kata: penggunaan istilah yang keliru dapat mengaburkan persoalan dan memicu kesalahpahaman.
Pelatihan direncanakan berlangsung di Kantor GJI Medan pada awal Desember 2026, dengan staf dan petugas GJI sebagai instruktur. Materinya ditujukan untuk memperluas pemahaman tentang kehutanan, ekosistem, tata kelola lingkungan yang berkeadilan, keanekaragaman hayati, serta kebijakan publik berbasis bukti. Hasil yang paling penting bagi pembaca ialah berita yang lebih akurat, jelas, dan mudah dipahami.

Dua kolaborasi, kelompok peserta berbeda
Di Bangka Belitung, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menyelenggarakan pelatihan jurnalisme lingkungan untuk jurnalis lokal, dengan dukungan tim media Kompas dan pakar lingkungan Universitas Bangka Belitung. Kepala Diskominfo provinsi Eko Sentosa membuka kegiatan sekaligus menyampaikan apresiasi. Pelatihan pada 4–5 November 2026 dijadwalkan berlangsung di Hotel Santika Bangka dan Desa Kota Kapur, Kabupaten Bangka.
Komposisi pesertanya mencakup 15 perwakilan jurnalis lokal se-Pulau Bangka dan lima peserta dari tim Diskominfo Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, serta Bangka Tengah. Perbedaan ini patut dicatat: inisiatif IMO Sumatera Utara–GJI diarahkan kepada wartawan, terutama anggota IMO, sedangkan pelatihan YKAN juga melibatkan staf komunikasi pemerintah. Kedua kolaborasi sama-sama memperluas kapasitas peliputan, tetapi sumber yang tersedia tidak merinci kesamaan kurikulum atau metode, sehingga keduanya tak perlu dianggap sebagai program yang identik.
Keterlibatan jurnalis dan staf Diskominfo membuka ruang bagi pemahaman isu lingkungan yang lebih luas di media maupun komunikasi publik. Namun, kehadiran berbagai pihak baru bermakna jika peserta mampu menguji klaim, menerangkan dampak, dan menempatkan informasi dalam konteks lokal.
Kekayaan alam menuntut liputan yang kritis
Bangka Belitung memiliki sumber daya alam di darat dan laut yang berlimpah, tetapi kekayaan itu juga dapat menjadi sumber kelemahan bila pengelolaannya tidak seimbang. Eko Sentosa menekankan perlunya sinergi untuk menjaga ekosistem sambil memastikan pemanfaatan sumber daya tetap terarah. Dalam keadaan seperti ini, jurnalis tidak cukup hanya melaporkan pernyataan pejabat atau pelaku usaha. Liputan yang tajam perlu menerangkan bukti, kepentingan yang berhadapan, dan konsekuensi bagi lingkungan serta warga.
Inilah alasan pelatihan jurnalistik perlu berangkat dari kebutuhan kerja nyata: memahami terminologi, menilai kebijakan, dan mengomunikasikan persoalan tanpa membingungkan pembaca. IMO Sumatera Utara dan GJI menyasar ketepatan bahasa serta pengetahuan lingkungan wartawan; YKAN melibatkan jurnalis lokal bersama staf Diskominfo. Pendekatan kolaboratif itu berpotensi memperkuat percakapan publik, asalkan peserta tetap menjaga jarak kritis dan berpijak pada bukti.
Ukuran keberhasilan ada pada mutu informasi
Pelatihan bukan tujuan akhir. Nilainya akan terlihat ketika jurnalis lokal menghasilkan pemberitaan yang tepat istilah, memberi konteks pada persoalan, dan membantu masyarakat memahami pilihan yang memengaruhi lingkungan mereka. Bagi staf Diskominfo, bekal serupa dapat mendukung penyampaian informasi publik yang lebih cermat, tetapi peran jurnalistik tetap menuntut pemeriksaan independen, bukan sekadar pengulangan pesan resmi.
Dua kegiatan ini memperlihatkan bahwa penguatan jurnalisme lingkungan dapat dibangun melalui kemitraan yang berbeda dan menyasar peserta yang berbeda pula. Kesimpulannya sederhana: kapasitas lokal tumbuh bukan hanya dari pelatihan, tetapi dari penerapan pengetahuan secara konsisten dalam liputan. Ketika ketepatan istilah bertemu keberanian menguji bukti, isu lingkungan lebih mungkin hadir di ruang publik secara terang dan berguna.






