Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Trauma Psikologis Setelah Keracunan Massal: Mengapa Pemulihan Fisik Tidak Cukup

Trauma Psikologis Setelah Keracunan Massal: Mengapa Pemulihan Fisik Tidak Cukup
Minat|Kesehatan Mental

Trauma Keracunan Massal: Saat Luka Tak Lagi Terlihat di CT-Scan

Trauma keracunan massal adalah kondisi ketika korban peristiwa keracunan bersama—misalnya di sekolah, panti, atau komunitas—mengalami dampak psikologis berkepanjangan seperti kecemasan, serangan panik, dan gangguan tidur, meskipun kondisi fisik mereka secara medis dinyatakan membaik dan fungsi otak tampak normal pada pemeriksaan. Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karo memperlihatkan betapa panjang jalan pemulihan itu. Setelah kejadian pada 13 Agustus, sejumlah siswa masih menjalani perawatan medis dan psikologis. Lebih dari satu bulan berlalu, salah satu siswi, Krismas Dayanti Br Sihite, sudah dua kali dirawat di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Haji Medan dan tetap mengeluhkan nyeri perut, kepala pusing, serta panas di ulu hati. Ini bukan sekadar soal lambung yang luka; ini tentang jiwa yang belum selesai gemetar.

Saat Hasil MRI Normal, Tapi Jiwa Masih Berteriak

Salah satu pelajaran paling keras dari kasus Krismas adalah: normal di layar monitor bukan berarti sehat dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan EEG dan MRI Krismas dinyatakan normal oleh dokter, namun psikiater tetap mendiagnosisnya mengalami delirium—yakni gangguan kesadaran dan pikir akibat perubahan hormon yang mengganggu saraf otak. Diagnosa medis juga menyebut adanya organic hallucination (F06.0) pada catatan perawatan lanjutan. Dengan kata lain, otak secara struktur tampak baik, tapi sistem kendalinya terguncang. Di sinilah banyak orang keliru: mereka menganggap trauma keracunan massal selesai ketika laboratorium berkata “normal”. Padahal, yang membuat korban tersentak di malam hari atau takut menyentuh makanan tertentu, tidak akan terbaca di hasil MRI.

Delirium, Hormon, dan Gangguan Mental Keracunan Makanan

Keracunan makanan bukan hanya urusan lambung yang luka atau dinding lambung yang retak, seperti yang dialami Krismas menurut hasil endoskopi. Gangguan fisik berat, demam dengan riwayat intoksikasi, kolik abdomen, hingga infeksi berulang tercatat dalam surat kontrol rawat inap yang menyebut Krismas dirawat sejak 10 hingga 19 September dan masih memerlukan evaluasi melalui Poliklinik Nefrologi Anak. Pada saat yang sama, psikiater menjelaskan bahwa ia mengalami delirium akibat perubahan hormon yang mengganggu saraf otak. Inilah gambaran nyata gangguan mental keracunan makanan: kombinasi antara tubuh yang diserang racun dan sistem hormon-otak yang ikut kacau. Jika kondisi seperti ini dibiarkan tanpa pemulihan psikologis korban yang memadai, wajar bila kemudian berkembang menjadi kecemasan kronis, serangan panik yang berulang, dan rasa takut berlebihan terhadap makanan.

Pemulihan Psikologis Korban Bukan Bonus, Tapi Kebutuhan Utama

Keluarga Krismas melakukan hal penting yang sering diabaikan banyak orang: mereka tidak berhenti pada pengobatan fisik. Selain mengatur pola makan dan menjaga agar Krismas tetap tenang, mereka membawanya ke psikiater dan psikolog untuk menangani trauma. Pemeriksaan psikiatri dan psikolog menyimpulkan bahwa ia membutuhkan pendampingan intensif dari tenaga psikolog. Ini bukti bahwa pemulihan psikologis korban tidak bisa disubkontrakkan pada doa dan waktu semata; ia memerlukan pendekatan multidisiplin. Dokter anak, psikiater, psikolog, dan keluarga harus berjalan bersama. Pengobatan lambung tanpa terapi untuk rasa takut hanyalah memperbaiki setengah dari masalah. Selama korban masih mengingat jelas rasa mual, nyeri, dan hiruk-pikuk hari keracunan, program pemulihan yang mengabaikan aspek mental akan selalu menghasilkan kesembuhan yang setengah hati.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!