Teknologi masuk ke lahan padi
Drone penyemprot padi adalah pesawat tanpa awak yang digunakan untuk menyalurkan pestisida ke tanaman, sehingga proses perawatan dapat dilakukan lebih cepat dan menjangkau hamparan sawah secara lebih merata. Di Arjowinangun, Kota Malang, petani Kelompok Tani Sejahtera Sawarojo menggunakan drone untuk menyemprot tanaman padi pada Rabu, 28 Oktober 2026. Kegiatan ini didampingi Babinsa Kelurahan Arjowinangun, Serka Subiantoro, bersama Penyuluh Pertanian Lapangan Kedungkandang dan kelompok tani setempat. Langkah ini layak diperhatikan bukan karena teknologi baru selalu lebih baik, melainkan karena pekerjaan di sawah menuntut ketepatan waktu dan tenaga. Ketika perawatan tanaman padi perlu dilakukan dengan efisien, drone pertanian menawarkan cara kerja yang patut diuji di kondisi lahan setempat.
Efisiensi harus terasa bagi petani
Manfaat yang dituju cukup konkret: penyemprotan lebih cepat, tenaga petani dapat dihemat, dan cairan diharapkan menjangkau area sawah dengan lebih merata. Bagi petani, efisiensi semacam ini bukan sekadar soal memakai alat modern. Waktu dan tenaga yang tidak terserap seluruhnya untuk menyemprot bisa mendukung pekerjaan budidaya lain, sementara cakupan yang lebih merata membantu perawatan tanaman padi. Namun, keberhasilan semprot pestisida drone tidak bisa dinilai dari kecepatan saja. Hasilnya tetap bergantung pada kesesuaian alat dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman. Karena itu, penggunaan drone sebaiknya diperlakukan sebagai pilihan kerja yang perlu dinilai di lapangan, bukan jaminan otomatis bahwa produktivitas atau hasil panen pasti meningkat.
Pendampingan menjadi kunci penerapan
Kehadiran Babinsa dan penyuluh pertanian memberi kegiatan ini nilai lebih daripada sekadar demonstrasi alat. Serka Subiantoro mendampingi PPL Kedungkandang dan kelompok tani, sementara sinergi mereka diharapkan memastikan teknologi sesuai dengan lahan dan kebutuhan tanaman. Pendampingan seperti ini penting agar petani tidak dibiarkan menghadapi perangkat dan bahan kimia tanpa arahan. Keselamatan juga harus menjadi bagian dari praktik, bukan catatan tambahan: dosis pestisida, cuaca, tata cara penggunaan alat, serta alat pelindung diri perlu diperhatikan. Dengan begitu, upaya meningkatkan efisiensi tidak mengorbankan kesehatan petani atau lingkungan. Teknologi akan lebih berguna jika petani mendapat dukungan untuk mengoperasikannya secara tepat dan memahami batas penggunaannya.
Ukur keberhasilan dari manfaat berkelanjutan
Penyemprotan di Arjowinangun merupakan contoh pemanfaatan teknologi untuk menjawab kebutuhan menjaga produktivitas pertanian, tetapi langkah berikutnya adalah memastikan manfaatnya konsisten bagi petani. Kolaborasi Babinsa, penyuluh, dan kelompok tani diharapkan mendorong peningkatan kualitas perawatan tanaman. Penilaian yang jernih perlu melihat apakah drone benar-benar menghemat waktu dan tenaga, membantu pemerataan penyemprotan, serta digunakan dengan aman—tanpa menganggap hasil panen optimal sebagai kepastian. Jika pendampingan berlanjut dan metode disesuaikan dengan kebutuhan sawah, drone dapat menjadi alat bantu yang masuk akal, bukan sekadar simbol modernisasi. Pada akhirnya, teknologi pertanian patut dipertahankan sejauh manfaatnya nyata bagi pekerjaan petani dan produktivitas padi.






