Satu tujuan perjalanan, tiga jalur pembelajaran
Delegasi Jakarta Jepang adalah kelompok warga dan aparatur yang berangkat ke Jepang dengan agenda pembelajaran berbeda, dari memperbaiki tata kelola kelurahan hingga bertukar pengetahuan dan pengalaman kemanusiaan. Perbedaan tujuan ini penting: perjalanan luar negeri baru bernilai jika ilmunya kembali ke lingkungan yang membutuhkan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan 10 lurah finalis Benyamin S Award 2026 akan mendapat kesempatan belajar ke luar negeri agar wawasan mereka dalam menata daerah bertambah dan cara pandangnya berkembang. Sementara itu, perwakilan PMR dari Jakarta Timur dan Jakarta Utara mengikuti program pertukaran pemuda bersama Palang Merah Jepang. Dua pelajar Jakarta Selatan, Malik dan Davina, juga berangkat dengan misi mempelajari kemanusiaan, kepemimpinan, budaya, dan kesiapsiagaan bencana.
Ketiganya bukan satu program yang sama. Lurah belajar luar negeri diarahkan pada pengelolaan wilayah; pertukaran pemuda memperluas hubungan antargenerasi dan pengetahuan kepalangmerahan; sedangkan misi Malik dan Davina menekankan nilai kemanusiaan serta ketangguhan menghadapi bencana.
Sepuluh lurah ditantang membawa pulang gagasan
Kesempatan belajar bagi 10 lurah finalis Benyamin S Award 2026 berangkat dari penghargaan bagi kelurahan yang berkomitmen mewujudkan lingkungan bersih, nyaman, indah, dan sejahtera. Finalisnya berasal dari Kebon Sirih, Kelapa Gading Timur, Srengseng, Sukabumi Utara, Taman Sari, Kebon Baru, Cilandak Barat, Utan Kayu Selatan, Malaka Sari, dan Pulau Panggang.
Penghargaan mengakui capaian, tetapi perjalanan belajar seharusnya mendorong tahap berikutnya: menguji cara kerja yang bisa diterapkan di wilayah masing-masing. Penataan daerah bukan soal menyalin kebijakan dari tempat lain, melainkan memahami pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan warga Jakarta. Karena itu, hasil kunjungan akan lebih berarti jika diterjemahkan menjadi perbaikan layanan dan ruang lingkungan yang dapat dirasakan sehari-hari.
Bagi para lurah, ukuran keberhasilan bukan sekadar kesempatan bepergian. Wawasan baru perlu dibagikan kepada perangkat kelurahan dan warga, lalu diuji dalam pekerjaan nyata. Harapan agar cara pandang dan pemikiran berubah layak menjadi tolok ukur, bukan hanya tujuan perjalanan.
Pertukaran PMR mempertemukan persahabatan dan kepalangmerahan
Kontingen PMR DKI Jakarta dijadwalkan mengikuti International Youth Exchange Program with Japanese Red Cross di Tokyo pada 5–11 November 2026. Kontingen terdiri dari 16 orang: 12 siswa tingkat SMP dan SMA sederajat serta empat pendamping dari unsur guru, pegawai PMI, dan pengurus PMI provinsi. Program ini bertujuan memperkuat persahabatan dan kerja sama kemanusiaan antara Palang Merah Indonesia dan Palang Merah Jepang, sekaligus membuka ruang untuk mengenal budaya serta bertukar pengetahuan kepalangmerahan.
Dari Jakarta Timur, Amirah Salsabila dari SMAN 81 dan Kevin El-Aqsha Hartono Mohamad dari SMAN 61 menjadi perwakilan. Jakarta Utara mengirim Windaru Naina Nindiasyam dari SMP Negeri 95 dan Nurul Chaerunisa Aryanti dari SMA Negeri 52; kontingen utara juga dipercaya menjadi ketua kontingen PMR DKI Jakarta.
Program pertukaran pemuda ini punya nilai yang berbeda dari studi tata kelola lurah. Anak muda membangun jejaring dan belajar dari gerakan kepalangmerahan lintas negara. Dampaknya akan lebih kuat bila pengalaman itu dibagikan kembali di sekolah dan kelompok PMR, bukan berhenti sebagai pengalaman pribadi.

Malik dan Davina membawa misi kemanusiaan
Dua pelajar PMR Jakarta Selatan, Malik dari MTsN 41 Al-Azhar Asy-Syarif dan Davina dari MAN 4 Jakarta, terpilih melalui proses seleksi yang berlangsung sejak September 2026. Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo melepas mereka pada 3 November sebelum program di Tokyo. Keberangkatan mereka bukan semata kunjungan budaya: keduanya membawa misi belajar tentang kemanusiaan, kepemimpinan, budaya, dan kesiapsiagaan bencana.
Bekal ini relevan bagi Jakarta, kota yang juga perlu menyiapkan warganya menghadapi risiko bencana. Pengalaman tentang kedisiplinan, kesetiakawanan sosial, dan ketangguhan masyarakat Jepang dapat memberi sudut pandang baru bagi para remaja. Namun, manfaatnya baru terasa jika ilmu tersebut dibagikan kepada anggota PMR dan generasi muda lain setelah mereka pulang.
PMR Jakarta Jepang dengan demikian tidak hanya mewakili daerah, tetapi juga membawa peluang untuk menumbuhkan kesiapsiagaan dan kepedulian di lingkungan sendiri. Kesimpulannya, tiga jalur keberangkatan ini patut dinilai dari manfaat setelah perjalanan: tata kelola kelurahan yang lebih baik, persahabatan yang berkembang menjadi kerja sama, dan pelajaran kemanusiaan yang diterapkan di Jakarta.







