Pertumbuhan perlu ditopang fondasi yang kuat
Inisiatif ekonomi kreatif adalah rangkaian program untuk membangun dasar pengembangan sektor melalui data yang dapat digunakan, riset yang memberi arah kebijakan, dan peningkatan keterampilan tenaga kerjanya. Pada 23 Oktober, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif meluncurkan tiga inisiatif dalam rangkaian The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026: Creative Economy Data Model (CEDM) bersama World Intellectual Property Organization (WIPO), Indonesia Creative Economy Outlook 2026–2027 bersama Katadata, serta Ekraf Academy sebagai platform nasional pengembangan talenta kreatif.
Langkah ini tepat, tetapi ukuran keberhasilannya bukan jumlah program yang diumumkan. Nilainya akan terlihat dari kemampuan ketiganya menjawab kebutuhan pelaku dan memperbaiki keputusan pemerintah. Sektor ekonomi kreatif pada 2025 dilaporkan tumbuh sekitar 6,8 persen dan menyerap 27,4 juta pekerja. Skala tersebut membuat kebijakan yang hanya bertumpu pada gambaran umum tak lagi memadai: pemerintah perlu memahami perbedaan subsektor, wilayah, dan hambatan yang dihadapi pekerja.
Data dan riset harus berujung pada keputusan
CEDM dan Indonesia Creative Economy Outlook mengisi dua kebutuhan yang saling terkait: cara menyusun data industri kreatif dan cara mengubah temuan menjadi pemahaman tentang arah sektor. Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menekankan perlunya data kuat untuk membaca ekosistem, mengenali kesenjangan, dan mengarahkan kebijakan yang lebih tepat. Tanpa ukuran yang konsisten, pemerintah berisiko menyamakan kondisi pelaku yang berbeda atau menilai keberhasilan hanya dari angka pertumbuhan.
Karena itu, riset ekonomi kreatif semestinya menjadi alat kerja, bukan sekadar laporan tahunan. CEDM dapat membantu membangun kerangka untuk memahami ekosistem, sementara Outlook memberi ruang bagi analisis dan pemetaan. Namun, manfaatnya bergantung pada penggunaan hasil tersebut dalam kebijakan, program, dan evaluasi yang berkelanjutan. Dalam pesan video, Sacha Wunsch-Vincent dari WIPO juga menekankan pentingnya menindaklanjuti hasil kajian melalui kebijakan dan implementasi berkelanjutan.
Akademi perlu menjawab kebutuhan pekerja
Ekraf Academy menyasar sisi yang tak bisa digantikan data: keterampilan orang yang menciptakan, mengembangkan, dan memasarkan karya. Bagi talenta kreatif, platform nasional ini berpotensi memperluas akses pengembangan kompetensi. Tetapi pelatihan akan lebih berguna bila terhubung dengan kebutuhan nyata, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial, perlindungan serta komersialisasi kekayaan intelektual, akses pembiayaan, dan perluasan pasar.
Pekerjaan rumahnya ialah memastikan pembelajaran tidak berhenti pada materi atau sertifikat. Kreator perlu memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari karyanya dan membangun mata pencaharian berkelanjutan. Itu menuntut hubungan antara peningkatan kompetensi, perlindungan hak, dan peluang komersial. Jika ketiga inisiatif berjalan sendiri-sendiri, pelatihan bisa tak sesuai dengan kesenjangan yang ditemukan riset; jika disambungkan, data dapat membantu menentukan keterampilan yang perlu diperkuat dan siapa yang paling membutuhkan dukungan.
Ukuran keberhasilan ada pada dampak
Tiga program ini menawarkan susunan fondasi yang masuk akal: data untuk membaca keadaan, riset untuk menafsirkan arah, dan akademi untuk menyiapkan tenaga kerja. Namun, peluncuran baru merupakan awal. Pemerintah perlu menjaga kualitas dan kesinambungan data, menerjemahkan temuan menjadi kebijakan yang terukur, serta memastikan program pengembangan talenta menjangkau kebutuhan pelaku di berbagai bagian ekosistem.
Dengan pertumbuhan 6,8 persen dan 27,4 juta pekerja, sektor ini sudah cukup besar untuk menuntut perencanaan yang lebih tajam. Ukuran kemajuan berikutnya seharusnya bukan sekadar hadirnya tiga inisiatif, melainkan apakah produktivitas, daya saing, dan kesejahteraan pegiat benar-benar meningkat. Fondasi yang terukur dapat membuat ekosistem kreatif lebih siap berkembang—asal pengetahuan yang dikumpulkan berubah menjadi tindakan yang konsisten.






