Tong-Tong Sumenep: Dari Arak-Arakan Kampung ke Panggung Nasional
Festival Tong-Tong Sumenep adalah sebuah pagelaran musik tradisional Madura yang menampilkan kelompok-kelompok pemain kentongan dan alat pukul khas secara arak-arakan, dikemas sebagai tontonan publik besar yang menyatukan seni, sejarah lokal, dan pariwisata dalam satu rangkaian acara terkurasi di pusat kota. Festival Musik Tongtong Se-Madura resmi masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata RI, dan ini merupakan tahun kedua secara beruntun festival kebanggaan Sumenep tersebut dipercaya masuk kalender event nasional terbaik. Fakta dua kali lolos kurasi KEN bukan sekadar penghargaan KEN nasional, tetapi sinyal bahwa kualitas penyelenggaraan, narasi budaya, dan daya tarik wisata sudah berada di level yang diakui pusat. Jika banyak festival tradisional lain masih berjuang untuk sekadar bertahan, Festival Tong-Tong Sumenep justru naik kelas menjadi role model.
Di balik pengakuan itu ada pesan penting: pelestarian budaya lokal tidak cukup hanya dengan lomba rutin tahunan di alun-alun, tetapi perlu dikemas sebagai pengalaman lengkap yang layak bersaing di kalender event nasional. Masuknya Festival Tong-Tong ke KEN dua tahun berturut-turut menunjukkan bahwa ketika musik tradisional Madura diberi panggung yang serius, ia mampu memikat kurator nasional dan ribuan penonton sekaligus. Inilah titik balik: tong-tong bukan lagi dianggap hiburan pinggir jalan, melainkan identitas budaya yang punya posisi tawar di industri pariwisata. Pertanyaannya sekarang, apakah daerah lain berani mengikuti jejak Sumenep mengangkat kesenian lokalnya setinggi ini?

Tema Arya Wiraraja: Ketika Musik Tradisional Menyatu dengan Sejarah
Edisi festival tahun ini digelar Sabtu malam, 17 Oktober 2026, dengan tema “Songennep Jaja Rajja - Prosesi Arya Wiraraja”. Pilihan tema ini bukan tempelan artistik, melainkan strategi cerdas: musik tradisional Madura dijahit dengan narasi sejarah lokal sehingga penonton tidak hanya mendengar dentuman, tetapi juga membaca jejak masa lalu Sumenep. Atraksi tongtong berukuran besar dengan tata cahaya yang dipadukan irama musik tradisional menjadi daya tarik utama, mengubah prosesi sejarah menjadi pengalaman audio-visual yang hidup. Di sinilah letak keunggulan Festival Tong-Tong Sumenep dibanding banyak festival tradisional lain yang berhenti pada lomba teknik bermain alat.
Meski sumber menyebut adanya 10 grup terbaik se-Madura yang tampil, inti pentingnya bukan pada angka, melainkan pada kurasi: hanya kelompok terbaik yang diberi ruang untuk menginterpretasi tema sejarah tersebut. Rute festival dari depan Masjid Jamik Sumenep hingga Jalan Halim Perdana Kusuma juga punya makna simbolik, menghubungkan ruang religius, ruang kota, dan ruang wisata dalam satu garis cerita. Ribuan masyarakat memadati sepanjang rute untuk menyaksikan penampilan peserta, sementara dentuman musik tradisional berpadu dengan cahaya modern memanjakan wisatawan yang hadir. Ini bukan sekadar pawai; ini adalah cara baru mengajar sejarah lewat bunyi dan cahaya di jalanan kota.
Identitas, Ekonomi, dan Strategi Budaya Daerah
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo membaca Festival Tong-Tong dengan kacamata yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa Festival Musik Tongtong bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Sumenep yang memiliki nilai ekonomi. Dalam pernyataannya, ia menyebut, “Ini bukan sekadar festival, tapi ini adalah jati diri kita yang punya nilai ekonomi”. Pernyataan ini penting karena menggeser cara pandang pemerintah daerah terhadap musik tradisional Madura: dari beban anggaran menjadi aset. Ketika festival ini masuk penghargaan KEN nasional, otomatis citra daerah ikut terangkat di mata wisatawan dan pemangku kebijakan pusat.
Ribuan pasang mata yang tumpah ruah di sepanjang rute, dari warga lokal hingga wisatawan yang datang ke Kota Keris, adalah bukti bahwa pelestarian budaya lokal bisa berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi kreatif. Festival Tong-Tong Sumenep menunjukkan bahwa identitas budaya daerah tidak harus dikurung di museum atau sanggar, tetapi bisa dihidupkan di ruang publik sebagai magnet kunjungan. Di sini, musik tradisional Madura bukan lagi sekadar warisan, melainkan strategi branding daerah. Ketika wisatawan pulang dengan ingatan tentang dentuman tong-tong dan prosesi Arya Wiraraja, mereka membawa pulang cerita tentang Sumenep, bukan sekadar foto-foto destinasi.
Kekuatan Kolaborasi Lokal: Mengapa Sumenep Bisa Konsisten Masuk KEN
Keberhasilan Festival Tong-Tong Sumenep masuk KEN dua tahun berturut-turut lahir dari kerja kolektif, bukan hanya visi satu orang. Bupati Achmad Fauzi menyebut capaian ini sebagai hasil kerja bersama pemerintah, komunitas, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan festival. Ia juga secara terbuka menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang menyukseskan gelaran spektakuler tersebut. Dukungan penuh pemerintah daerah menyediakan ruang, anggaran, dan legitimasi, berpadu dengan antusiasme masyarakat yang memadati rute festival, menciptakan ekosistem yang sehat bagi musik tradisional. Tanpa penonton yang rela berdiri berjam-jam di sepanjang jalan, dentuman tong-tong tidak akan punya gema sosial.
Di sisi lain, proses seleksi KEN dilakukan melalui kurasi yang ketat. Artinya, konsistensi Festival Tong-Tong Sumenep lolos dua kali beruntun adalah indikator kualitas penyelenggaraan yang stabil, bukan kebetulan. Keberhasilan masuk KEN dua tahun berturut-turut ini juga menjadi motivasi bagi pemerintah kabupaten untuk mempertahankan kualitas penyelenggaraan, dengan harapan festival kembali lolos kurasi KEN pada 2027 mendatang. Ambisi ini patut diapresiasi, tetapi juga menjadi pengingat: tanpa perbaikan terus-menerus, status role model bisa cepat tergeser oleh daerah lain yang lebih inovatif dalam mengemas warisan budaya lokalnya.
Pelajaran dari Sumenep: Menjaga Tradisi dengan Standar Festival Modern
Dari Festival Tong-Tong Sumenep, ada satu pelajaran utama: pelestarian budaya lokal harus berani mengadopsi standar festival modern tanpa mengorbankan ruh tradisi. Dentuman musik tradisional yang berpadu dengan cahaya modern menunjukkan bahwa inovasi teknis bisa menjadi sekutu, bukan musuh, bagi kesenian warisan. Pengakuan lewat penghargaan KEN nasional membuktikan bahwa kurator pusat menghargai festival yang mampu merangkai narasi sejarah, identitas, dan pengalaman wisata dalam satu paket yang rapi. Ini adalah model yang layak ditiru daerah lain yang ingin mengangkat musik tradisionalnya ke panggung nasional.
Ke depan, tantangan Sumenep bukan lagi sekadar lolos KEN 2027, tetapi menjaga agar Festival Tong-Tong tetap relevan bagi generasi muda. Jika festival ini terus memberi ruang bagi interpretasi kreatif tanpa meninggalkan akar musik tradisional Madura, ia berpeluang menjadi laboratorium hidup pelestarian budaya. Kesimpulannya, Festival Tong-Tong Sumenep telah membuktikan bahwa ketika pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat berjalan seirama, kentongan kampung pun bisa bergema sampai meja kurator nasional. Tradisi bertahan bukan karena dikasihani, melainkan karena dibuktikan layak dirayakan.






