Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Lima Penampilan Wajib Tonton di Pestapora: Reuni, Debut, dan Kejutan Panggung

Lima Penampilan Wajib Tonton di Pestapora: Reuni, Debut, dan Kejutan Panggung
Minat|Penyanyi/Band Pop

Pestapora: Satu Festival, Ratusan Cerita di Tiga Hari

Pestapora adalah festival musik September berskala besar yang mengumpulkan ratusan penampil lintas genre dan generasi dalam tiga hari, memanfaatkan puluhan panggung untuk menghadirkan konser band Indonesia, kolaborasi spesial, dan kejutan panggung yang mengundang interaksi langsung antara musisi dan penonton. Di balik deretan nama besar, nilai utama Pestapora 2026 penampilan tahun ini terletak pada momen-momen yang berani mengambil risiko artistik: reuni Kerispatih dengan Sammy Simorangkir, format setlist misteri ala Sal Priadi, hingga keberanian boy group debutan SEEN mengisi panggung festival begitu cepat setelah rilis. Festival yang digelar pada 25–27 September di Gambir Expo & Hall D2 JIEXPO dengan sekitar 330 penampil di 19 panggung ini bukan hanya soal jumlah, tapi bagaimana tiap penampilan membuka ruang pengalaman baru bagi Sahabat yang hadir. Dengan ratusan pilihan, penonton dipaksa selektif: mana yang sekadar tontonan, mana yang benar-benar layak dikenang.

Reuni Kerispatih x Sammy: Nostalgia yang Akhirnya Punya Panggung Tepat

Di antara semua konser band Indonesia di Pestapora, reuni Kerispatih x Sammy Simorangkir terasa paling pantas disebut momen besar. Mereka tampil di Pestapora Stage pukul 22.15–23.15, menghadirkan dua vokalis dari era berbeda dalam satu jam yang menegaskan betapa kuatnya memori kolektif terhadap katalog band ini. Fandy Santoso sebagai vokalis sekarang tidak tersisih; justru pertemuan dua suara ini mengubah panggung jadi ruang rekonsiliasi musikal. Fakta bahwa reuni semacam ini sebelumnya hanya terjadi di acara tertutup membuat panggung festival terasa seperti bentuk pengakuan resmi atas sejarah panjang Kerispatih. Di sini Pestapora berani mengambil peran kurator kenangan: memberi wadah bagi reuni Kerispatih bukan sekadar gimmick, tapi sebagai pengingat bahwa festival musik September seharusnya juga merayakan perjalanan panjang skena lokal, bukan hanya nama yang sedang viral.

Lima Penampilan Wajib Tonton di Pestapora: Reuni, Debut, dan Kejutan Panggung

SEEN dan Spekulasi Masa Depan Boy Group Lokal

Keputusan memasukkan SEEN ke jajaran Pestapora 2026 penampilan hari kedua adalah taruhan yang menarik: boy group yang baru debut sehari langsung dihadapkan pada panggung festival. Mereka mengisi Gegap Gempita Stage, membuka dengan "Morning Boy" lalu melanjutkan dengan "Up Up Up" dari singel debut mereka, dan tetap tampil energik meski hanya disaksikan segelintir penonton. Dari sisi kualitas pertunjukan, momen ini menunjukkan bahwa budaya boy group lokal mulai menguat, tidak lagi bergantung pada panggung televisi atau acara fan meeting tertutup. Kutipan paling jujur datang dari Dandy yang menyebut Pestapora sebagai panggung pertama setelah debut dan "hari spesial banget" bagi SEEN. Justru jumlah penonton yang kecil menjadi pengingat bahwa ekosistem belum siap sepenuhnya; tapi festival musik besar perlu menanggung risiko itu kalau ingin melahirkan generasi baru, bukan sekadar memutar ulang nama aman.

Sal Priadi & Tulus: Saat Penonton Ikut Mengendalikan Panggung

Hari ketiga, Pestapora bergerak dari sekadar konser band Indonesia menuju eksperimen bentuk pertunjukan. Sal Priadi tampil dengan konsep "Misteri Minggu Setlist", di mana seluruh daftar lagu dirahasiakan dari dirinya dan hanya ditulis sebagai "Lagu 1" hingga "Lagu 9". Tegang? Jelas. Sal bahkan mengaku cemas kalau ada lagu tanpa intro karena harus menebak nada masuk. Namun ketegangan itu berubah jadi kedekatan emosional ketika "Gala Bunga Matahari" dipersembahkan untuk orang-orang yang telah berpulang dan khusus untuk mendiang maestro Guruh Soekarnoputra. Di panggung lain, Tulus memanfaatkan tampil sore untuk melihat jelas wajah penggemar dan secara terbuka menawari penonton untuk mengajukan judul lagu tambahan jika waktu memungkinkan. Janji itu bukan basa-basi: setelah "Monokrom" dan "Kelana", ia memenuhi request "Adu Rayu" dan "Cahaya" yang tidak ada di setlist awal. Di sini, Pestapora menunjukkan keberanian menyerahkan sebagian kendali panggung kepada penonton, dan hasilnya: momen yang terasa lebih intim dari konser stadion mana pun.

Lima Penampilan Wajib Tonton di Pestapora: Reuni, Debut, dan Kejutan Panggung

Keberagaman Line-up: Kekuatan Sekaligus Tantangan Pestapora

Jika ada satu hal yang membuat festival musik September ini menonjol, itu adalah skala dan keberagamannya. Pestapora digelar selama tiga hari, 25–27 September, mengusung tema "One Stop Celebration" dengan lebih dari 330 penampil di 19 panggung. Dari Sheila On 7, Dewa 19, Syahrini, Mahalini, Inul Daratista, Saykoji, Fiersa Besari, hingga King Nassar, jajaran konser band Indonesia dan solois populer membuat festival terasa seperti playlist raksasa generasi Y dan Z. Di sisi internasional, kehadiran musisi Korea seperti Tuesday Beach Club dan Mombrimz memperluas cakupan selera pengunjung. Ini menguntungkan Sahabat yang ingin menyesuaikan jadwal dan penampil favorit dalam satu area festival. Namun skala sebesar ini juga menjadi tantangan: mudah bagi pengalaman pribadi tenggelam dalam keramaian. Karena itu, momen-momen spesifik seperti reuni Kerispatih, debut SEEN, atau set tak terduga Sal dan Tulus menjadi jangkar cerita, alasan mengapa orang masih merasa perlu datang langsung, bukan hanya mengikuti highlight di media sosial.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!