Enam Puluh Menit yang Mengubah Panggung Festival Musik Asia
BE:FIRST penampilan festival adalah momen ketika grup dance dan vokal asal Jepang ini tampil selama sekitar 60 menit di panggung utama LaLaLa Festival 2026 di JiExpo, Kemayoran, Jakarta, menghadirkan perpaduan vokal, rap, dan koreografi energik yang memukau ribuan penonton serta menandai debut perdana mereka di panggung festival musik Indonesia. Dari detik pertama, jelas bahwa ini bukan sekadar slot boy band Jepang Indonesia di barisan pengisi acara, tetapi sebuah pernyataan ambisi global. Keputusan festival menempatkan mereka di panggung utama menggambarkan keyakinan bahwa konser musik Asia sedang bergeser: bukan lagi hanya soal nama besar lama, tetapi soal grup yang berani menggabungkan kekuatan dance dan vokal dengan energi panggung yang intens. BE:FIRST datang bukan sebagai pendatang yang malu-malu, melainkan sebagai pemain utama yang menuntut perhatian penuh.

Dari “Boom Boom Back” ke “Slogan”: Narasi Panggung yang Disusun Rapi
Setlist BE:FIRST di LaLaLa Festival 2026 terasa seperti kurva dramatis yang dirancang cermat untuk memperkenalkan karakter mereka pada penonton lokal. Membuka dengan “Boom Boom Back”, “GRIT”, dan “Secret Garden”, mereka langsung menegaskan identitas sebagai grup yang tangguh dan dinamis, bukannya mengandalkan balada aman. Pilihan ini mencerminkan kepercayaan diri terhadap kekuatan dance dan vokal mereka, serta keyakinan bahwa penonton siap diserang sejak awal dengan energi penuh. Pada pertengahan, rangkaian lagu seperti “Don’t Wake Me Up”, “Missing”, “Set Sail”, “Brave Generation”, “I Want You Back”, dan “夢中 (Muchu)” membuat suasana naik-turun secara terkontrol, memberi ruang bernapas tanpa kehilangan intensitas. Puncak emosional lewat “Bye-Good-Bye”, “Rondo”, dan “BRUCE WAYNE” memperlihatkan sisi lebih gelap dan dramatis, sebelum “BE:FIRST ALL DAY” dan “Slogan” menutup sebagai pernyataan optimisme. Menariknya, urutan ini bukan sekadar daftar lagu, tetapi narasi: perkenalan, kedekatan, intensitas, lalu perpisahan yang manis.
Bahasa Indonesia Terbata-bata yang Menghangatkan Jarak
Jika banyak penampilan internasional di festival musik Asia terasa dingin dan berjarak, BE:FIRST memilih pendekatan yang berlawanan: mencairkan batas bahasa dengan keberanian salah ucap. Sapaan JUNON, “Apa Kabar Jakarta, It’s correct guys? what’s up Indonesia,” membuka penampilan perdana mereka dengan nada akrab, bukan formal. Upaya berbicara bahasa Indonesia—dari “Makasih” dan “Terima kasih, Indonesia” hingga momen lucu “Selamat Siang, Selamat Siang, hah, Malam, sorry guys” — bukan gimmick kosmetik, melainkan strategi relasi. LEO yang mengaku, “Saya suka sate, nasi goreng, we love it, so great, amazing,” menunjukkan mereka mau masuk ke dunia penonton, bukan berdiri di menara global pop. Respons massa yang pecah tiap kali makanan lokal disebut adalah bukti sederhana bahwa koneksi emosional sering kali dibangun dari hal-hal remeh, selama dilakukan tulus. Dalam konteks boy band Jepang Indonesia, pendekatan ini menempatkan BE:FIRST di posisi unik: bintang yang mau turun dari panggung simbolis mereka untuk belajar sapaan sehari-hari.
Reaksi Fans: Dari “Jantung Copot” ke Pengakuan atas Perjalanan Karier
Kekuatan BE:FIRST penampilan festival bukan hanya terukur dari sorak-sorai di dalam area panggung utama, tetapi dari testimoni setelah konser berakhir. Rahayu, fans yang datang jauh, menggambarkan pengalamannya dengan kalimat ekstrem: “Jantungku copot, jujur! Maksimal sakit (keren), tapi bahagianya tuh maksimal,” mengindikasikan dampak emosional yang melampaui hiburan sesaat. Fafa, seorang guru, menyorot aspek yang lebih analitis: ia menyebut betapa menarik melihat perkembangan BE:FIRST dari skill yang masih mentah hingga menjadi performa yang terlatih kuat. Komentar Eggy tentang kerendahan hati mereka, terutama kesediaan belajar bahasa Indonesia meski sempat salah, memperkuat citra grup yang mengedepankan hubungan dua arah dengan audiens. Reaksi berlapis ini—dari histeria sampai apresiasi teknis—menunjukkan bahwa bagi penggemar lokal, penampilan 60 menit itu bukan sekadar konser musik Asia lain, melainkan babak penting dalam relasi jangka panjang dengan boy band Jepang yang sedang naik daun.
Dari Ajinomoto Stadium ke JiExpo: Ambisi Global yang Mendarat Mulus
Debut BE:FIRST di festival musik Indonesia tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan sebagai bagian dari strategi global yang sudah disusun beberapa tahun. Setelah menyelesaikan BE:FIRST World Tour 2025, grup beranggotakan SOTA, SHUNTO, MANATO, RYUHEI, JUNON, dan LEO terus memperluas aktivitas di luar Jepang. Pada Mei 2026, mereka bahkan menggelar konser stadion solo pertama, BE:FIRST Stadium Live 2026 “We are the ‘BE:ST’”, di Ajinomoto Stadium, Tokyo, menandai loncatan status dari grup baru menjadi pemain besar di ranah pop Jepang. Rilisan kolaboratif “BRUCE WAYNE feat. Flo Milli, ATL Jacob” yang hadir pada 31 Juli 2026 memperlihatkan ambisi menembus pasar global dengan menggandeng nama dari Amerika Serikat. Dijadwalkannya Global EP “WATCH ME” dan rangkaian BE:FIRST WORLD SHOWCASE 2026 ke Bangkok, Taipei, Manila, dan New York menegaskan bahwa penampilan di LaLaLa Festival 2026 bukan sekadar mampir, tetapi langkah strategis membangun pijakan kuat di konser musik Asia sebelum melompat lebih jauh.






