Riset sebagai Lokomotif Ekonomi: Inti Strategi Baru BRIN
Tiga strategi riset BRIN adalah kerangka kebijakan yang menempatkan riset dan inovasi sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sekaligus fondasi daya saing nasional, dengan menghubungkan kapasitas ilmiah para periset dengan kebutuhan pasar, industri, dan pemerintah demi mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045 melalui inovasi ekonomi Indonesia yang terarah dan dapat dikomersialisasikan.
Langkah BRIN ini tidak netral; ia menyiratkan pilihan politik ekonomi yang jelas: masa depan kemakmuran tidak lagi ditumpukan pada ekspor komoditas mentah, melainkan pada kemampuan mencipta dan menguasai teknologi. Kepala BRIN Arif Satria menegaskan bahwa riset dan inovasi merupakan lokomotif pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus fondasi daya saing di masa depan. Pernyataan tersebut menggeser posisi riset dari sekadar kegiatan akademik menjadi instrumen strategis pembangunan. Korelasi positif antara kapasitas inovasi yang diukur melalui Global Innovation Index dan GDP per kapita per tahun dijadikan argumen empiris bahwa investasi serius pada ilmu pengetahuan bukan pilihan tambahan, melainkan prasyarat mempercepat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Tiga Track Riset: Dari UMKM hingga Teknologi Maju Dunia
Inti BRIN strategi riset dirumuskan dalam tiga track utama yang dipaparkan Arif Satria di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan 150 periset di Istana Kepresidenan pada 6 Agustus 2026. Track pertama berfokus menghadirkan inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing UMKM. Ini adalah pengakuan bahwa tulang punggung ekonomi tidak bisa ditinggalkan dalam arus transformasi teknologi; UMKM harus dinaikkan kelas melalui solusi konkret, bukan slogan digitalisasi tanpa dukungan nyata. Track kedua ditujukan untuk memperkuat daya saing industri nasional dan dahan antara melalui riset dan inovasi. Di sini, riset diposisikan sebagai alat untuk mengurangi ketergantungan pada impor teknologi, meningkatkan produktivitas, dan mendorong industrialisasi yang lebih canggih.
Track ketiga, yang paling ambisius, memfasilitasi co-development teknologi maju dunia agar negeri ini menjadi bagian dari pengembangan teknologi global, bukan sekadar pasar pengguna. Sikap ini penting: tanpa kemitraan setara dalam pengembangan semikonduktor, kecerdasan buatan, dan rekayasa genetik, bangsa hanya akan menyewa masa depan dari pusat teknologi lain. Dengan memosisikan diri sebagai mitra pengembang, BRIN mencoba memutus siklus ketergantungan teknologi yang selama ini menggerus kedaulatan ekonomi. Dalam konteks Indonesia Emas 2045, tiga track tersebut menunjukkan bahwa inovasi ekonomi Indonesia harus terintegrasi dari level mikro UMKM hingga frontier teknologi global, jika pertumbuhan ekonomi berkelanjutan ingin dicapai secara konsisten.

Memilih Teknologi Penentu: Antara Kemandirian dan Ketergantungan
Di luar arsitektur tiga track, yang paling menentukan adalah pilihan teknologi yang dianggap kritis dua hingga tiga dekade mendatang. BRIN menaruh perhatian besar pada semikonduktor, kecerdasan buatan, dan rekayasa genetik atau genomik. Ini bukan daftar acak; ketiganya merupakan tulang punggung ekonomi baru: dari chip yang menggerakkan setiap perangkat, algoritma yang mengotomasi keputusan, hingga benih dan obat-obatan yang menentukan kedaulatan pangan dan kesehatan. Pengembangan teknologi tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap ekspor, meningkatkan produktivitas nasional, serta memperkuat kemandirian dalam menghasilkan benih, obat-obatan, dan bioindustri.
BRIN juga menempatkan teknologi kuantum untuk keamanan dan komputasi masa depan, serta dua teknologi klasik yang dinaikkan perannya, yaitu nuklir dan antariksa, sebagai pengungkit kedaulatan energi, kesehatan, pangan, dan pengawasan wilayah. Di titik ini, pertanyaannya sederhana namun tajam: apakah bangsa ini ingin menjadi pengguna teknologi atau pemilik sekaligus pengembang? Arif Satria secara eksplisit menyebut penguasaan teknologi akan menentukan posisi bangsa, apakah hanya menjadi pengguna atau mampu menjadi pemilik dan pengembang. Pilihan strategi riset BRIN menjawab pertanyaan itu dengan tegas: Indonesia Emas 2045 tidak boleh dibangun di atas lisensi teknologi negara lain, tetapi di atas kapabilitas ilmiah sendiri yang cukup kuat untuk berdialog setara di panggung global.
Dari Laboratorium ke Pasar: Pentingnya Kolaborasi dan Marketing Inovasi
Visi besar tidak akan berarti jika hasil riset berhenti sebagai prototipe di laboratorium. Di sinilah dimensi pasar menjadi kritikal. Ketua BRIN menaruh harapan besar agar produk inovasi yang berhasil diciptakan periset dapat diterima pasar. Tahap berikutnya, BRIN ingin mempertemukan kemampuan teknologi dengan kebutuhan pemerintah, industri, masyarakat, serta ilmu pengetahuan. Artinya, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan baru bisa terjadi bila riset terhubung dengan ekosistem produksi dan konsumsi secara nyata. Kolaborasi antara lembaga riset dan sektor industri bukan pelengkap, melainkan syarat mutlak; tanpa permintaan industri, riset tidak akan menyentuh skala ekonomi yang berarti.
Menariknya, Arif Satria secara terang menyebut salah satu tugas pimpinan BRIN adalah menjalankan fungsi marketing agar produk-produk inovasi BRIN bisa diterima pasar. Pernyataan ini adalah koreksi halus terhadap budaya riset yang kerap merasa selesai ketika jurnal terbit, bukan ketika produk digunakan oleh pelaku UMKM atau industri. Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus ditopang sistem pendidikan berkualitas, karena pendidikan adalah fondasi paling kritis dalam mencetak sumber daya manusia unggul. Tanpa SDM yang sanggup menjembatani laboratorium dan pasar, strategi inovasi ekonomi Indonesia akan mandek di level wacana. Kombinasi marketing inovasi dan reformasi pendidikan adalah kunci agar hasil riset menjadi komoditas bernilai, bukan sekadar karya ilmiah.
Menuju Indonesia Emas 2045: Peluang Besar, Tanggung Jawab Lebih Besar
Pada akhirnya, tiga strategi riset BRIN untuk mendukung Indonesia Emas 2045 adalah undangan untuk melihat ekonomi bukan lagi sebagai soal ekspansi fisik, tetapi sebagai kompetisi pengetahuan. BRIN menyatakan siap mendukung pembangunan kapabilitas teknologi nasional di sektor pangan, energi, kesehatan, air, pertahanan dan keamanan, lingkungan, industri, dan kualitas sumber daya manusia. Jika komitmen ini konsisten, riset akan menjadi infrastruktur tak kasatmata yang menopang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dalam jangka panjang.
Namun peluang besar datang bersama tanggung jawab lebih besar. Tanpa tata kelola yang transparan, insentif yang tepat bagi periset, dan keberanian industri untuk berinvestasi pada teknologi lokal, BRIN strategi riset bisa berhenti menjadi dokumen visi. Visi Indonesia Emas 2045 mengandaikan negara yang bukan hanya makmur, tetapi mandiri secara teknologi. Itu menuntut kesediaan semua aktor—pemerintah, industri, universitas, dan masyarakat—untuk menjadikan inovasi sebagai kebiasaan, bukan acara seremoni di Istana. Jika riset dan inovasi sungguh dijadikan lokomotif, kereta ekonomi akan bergerak ke arah yang lebih mandiri dan bernilai tinggi; jika tidak, kita akan kembali menjadi penumpang di kereta teknologi bangsa lain.






