Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Daerah Harus Menyiapkan Tenaga Kerja Terampil untuk Green Jobs Sebelum Investasi Datang

Daerah Harus Menyiapkan Tenaga Kerja Terampil untuk Green Jobs Sebelum Investasi Datang
Minat|Asia Tenggara

Green Jobs: Pekerjaan Ramah Lingkungan yang Menuntut SDM Daerah Bergerak Lebih Cepat

Green jobs tenaga kerja adalah seluruh jenis pekerjaan yang mendukung praktik usaha ramah lingkungan, memanfaatkan teknologi rendah emisi, dan menerapkan prinsip keberlanjutan, sehingga membutuhkan keterampilan baru di bidang efisiensi energi, pengelolaan sumber daya, serta inovasi proses produksi agar pertumbuhan ekonomi selaras dengan perlindungan lingkungan hidup.

Inti pesan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor jelas: daerah jangan hanya sibuk mengundang investor, lalu kebingungan mencari tenaga kerja terampil ketika proyek hijau mulai beroperasi. Ia menegaskan salah satu bidang yang perlu segera dipersiapkan adalah pekerjaan ramah lingkungan atau green jobs. Pernyataan ini bukan sekadar seruan, melainkan peringatan politik ekonomi: tanpa pengembangan SDM daerah yang terencana, keuntungan investasi akan pindah ke tenaga kerja dari luar wilayah. Di tengah transformasi dunia usaha, otomatisasi, dan penerapan prinsip keberlanjutan yang mengubah struktur pasar kerja, daerah yang lambat menyiapkan kompetensi hijau akan tertinggal dalam perebutan investasi berkualitas.

Mengapa Pemetaan Kebutuhan Tenaga Kerja Harus Mendahului Masuknya Investasi

Afriansyah mengingatkan pemerintah daerah untuk tidak menunggu pekerjaan baru muncul sebelum mulai mengatur strategi SDM. Pemetaan potensi ekonomi dan usaha sejak awal menjadi kunci arah pengembangan SDM daerah. Tanpa peta yang jelas, pelatihan keterampilan hijau berisiko sekadar formalitas, tidak nyambung dengan sektor usaha yang tumbuh. Logikanya sederhana: bila investasi tiba dan aktivitas ekonomi naik, daerah yang sudah mempersiapkan tenaga kerja berkompetensi hijau akan langsung menyerap manfaatnya. Sebaliknya, bila pengembangan SDM daerah diabaikan, kebutuhan tenaga kerja harus dipenuhi dari luar, sehingga masyarakat lokal hanya melihat proyek besar tanpa ikut menikmati nilai tambah. Dalam konteks ini, pemetaan kebutuhan tenaga kerja bukan kerja teknis semata, tetapi keputusan politik tentang siapa yang akan menikmati buah ekonomi hijau.

Daerah Harus Menyiapkan Tenaga Kerja Terampil untuk Green Jobs Sebelum Investasi Datang

Upskilling, Reskilling, dan Peran Aktif Perusahaan dalam Pelatihan Keterampilan Hijau

Kesalahan umum pemerintah daerah adalah menganggap perubahan pasar kerja hanya urusan lulusan baru. Afriansyah menegaskan bahwa pekerja yang sudah berada di dunia profesional juga perlu kesempatan upskilling dan reskilling untuk menyesuaikan diri dengan green jobs tenaga kerja. Di sini pelatihan keterampilan hijau menjadi instrumen utama: bukan sekadar sertifikat, melainkan transformasi kompetensi dari pekerjaan konvensional ke pekerjaan yang menerapkan prinsip keberlanjutan. Kementerian Ketenagakerjaan menyatakan siap membantu melalui satuan pelayanan pelatihan di berbagai daerah yang bisa digunakan untuk menyusun program sesuai karakter ekonomi lokal dan kebutuhan kerja. Namun, tanpa keterlibatan langsung perusahaan, pelatihan akan jauh dari kebutuhan nyata. Afriansyah meminta dunia usaha ikut menyusun materi pelatihan untuk mengurangi mismatch antara kompetensi lulusan dan kualifikasi yang dibutuhkan.

Link and Match: Menyatukan Promosi Investasi, Pendidikan Vokasi, dan Green Jobs

Pelatihan tidak boleh berjalan sendiri, terpisah dari strategi promosi investasi. Afriansyah mendorong pemerintah daerah mempertemukan dunia usaha dengan lembaga pendidikan melalui skema link and match. Koneksi ini penting agar SMA, SMK, dan satuan pendidikan sederajat tidak hanya mengajarkan teori, tetapi membangun kurikulum yang selaras dengan standar pekerjaan hijau, budaya profesional, dan keterampilan praktis yang dibutuhkan di lapangan. "Harapan kami seluruh perusahaan di daerah betul-betul bisa berkolaborasi dengan pemerintah daerah, sehingga program link and match dengan SMA dan SMK sederajat dapat berjalan dengan baik," ujar Afriansyah. Tanpa koordinasi antara promosi investasi dan pendidikan vokasi, daerah berisiko memproduksi lulusan yang tidak siap mengisi pekerjaan energi terbarukan dan sektor hijau lain, sementara perusahaan mendatangkan tenaga kerja dari luar. Link and match adalah jembatan agar investasi dan pengembangan SDM daerah saling menguatkan.

Kesimpulan: Investasi Hijau Wajib Disertai Agenda Serius Pengembangan SDM Daerah

Peringatan Wamenaker seharusnya dibaca sebagai ultimatum kebijakan: investasi harus diikuti kesiapan SDM. Daerah yang hanya mengejar proyek tanpa mengembangkan SDM sendiri sedang membangun panggung bagi tenaga kerja luar, bukan bagi warganya. Pemetaan sektor ekonomi sejak dini, pelatihan keterampilan hijau yang terarah, serta link and match antara perusahaan dan lembaga pendidikan, bukan aksesoris, melainkan fondasi agar masyarakat lokal menjadi pelaku utama ekonomi hijau. Bila pemerintah daerah gagal menyelaraskan promosi investasi dengan strategi pengembangan SDM daerah, green jobs hanya akan menjadi jargon yang cantik di dokumen rencana, bukan kesempatan nyata bagi pekerja muda maupun pekerja profesional yang siap melakukan upskilling dan reskilling. Pilihannya jelas: bergerak proaktif menyiapkan tenaga kerja terampil untuk green jobs sekarang, atau menyaksikan peluang investasi hijau lewat tanpa meninggalkan jejak kesejahteraan lokal.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!