Dari Cibiran ke Mindfulness: Dapur sebagai Ruang Terapi
Memasak sebagai terapi adalah praktik menggunakan aktivitas dapur—mulai dari memotong sayur, menyiapkan bahan, hingga mengolah masakan—sebagai cara menenangkan pikiran, melatih kesabaran, dan memulihkan diri dari tekanan emosional di tengah derasnya gempuran digital dan media sosial yang memicu stres serta kelelahan mental. Dalam konteks ini, dapur berubah fungsi: bukan hanya tempat memenuhi kebutuhan fisik lewat makanan, tetapi juga ruang kontemplasi yang membuat seseorang hadir penuh pada setiap gerak tangan dan suara pisau di atas talenan. Perspektif ini kini makin tampak dalam cara publik figur memaknai keseharian mereka, salah satunya Denada. Ketika konten masak viral memicu komentar sinis, ia memilih mempertahankan rutinitas memasak sebagai bentuk mindfulness di dapur dan bukan sebagai panggung untuk mencari sensasi instan.

Gaya Potong Sayur yang Lambat dan Tuduhan Cari Viral
Konten masak Denada ramai dibicarakan setelah video memasaknya berseliweran di media sosial, terutama gaya tangannya yang bergerak lambat saat memotong sayuran. Gerakan yang pelan ini membuat banyak orang terhibur, namun juga memicu tudingan bahwa semuanya hanya akal-akalan agar konten masak viral dan menarik perhatian. Di era algoritma, kecurigaan semacam ini wajar: publik terbiasa menganggap keanehan visual sebagai strategi engagement. Denada menanggapinya dengan kepala dingin. Ia mengakui bahwa setiap konten memang dibuat untuk mendapat respons bagus, tapi menegaskan bahwa tidak semua yang dipublikasikan mencerminkan keseluruhan realitas hidup seseorang. Di sini letak poin pentingnya: ia tidak menolak logika dunia konten, namun menegaskan bahwa kebahagiaan pribadi tetap menjadi kompas utama, bukan sekadar jumlah tayangan.
Memasak sebagai Terapi Kesabaran dan Mindfulness di Dapur
Yang paling menarik dari sikap Denada bukan pada resep, melainkan cara ia memaknai proses memasak. Ia mengaku tidak luwes di dapur dan masakannya tak seenak orang yang terbiasa memasak, tetapi menyadari bahwa memotong sayuran dan menyiapkan bahan masakan sangat terapeutik untuk dirinya. Rutinitas menyiapkan bahan ia rasakan menenangkan pikiran dan membantu mengasah kontrol diri dalam keseharian. Di tengah tempo hidup serba cepat, memilih bergerak lambat di dapur menjadi bentuk perlawanan kecil terhadap budaya serba instan. "Meskipun lambat, itu sangat melatih kesabaranku," kata Denada di kawasan Tendean, Jakarta Selatan. Pernyataan ini merangkum esensi memasak sebagai terapi: fokus pada proses, bukan hasil; hadir pada setiap gerakan, bukan sibuk mengejar validasi digital.

Menolak Dikendalikan Komentar Negatif: Kebahagiaan sebagai Kompas
Di tengah cibiran warganet soal gaya memasaknya, Denada memilih langkah yang jarang diambil banyak kreator: ia tidak berhenti membuat konten masak karena tahu persis apa yang didapat dari dapur. Penyanyi berusia 47 tahun itu menegaskan, selama aktivitas tersebut membuatnya bahagia, ia akan terus melakukannya. Ia bahkan blak-blakan mengakui bahwa keahliannya utama ada di panggung, sebagai penyanyi dan instruktur senam, bukan di dapur. Namun ia tetap memberi tempat bagi memasak dalam hidupnya, terutama setelah mengalami fase harus masak sendiri setiap hari saat tinggal di Singapura demi kebutuhan keluarga dan anak. Sikap ini mengirim pesan jelas ke audiens modern: kesabaran melalui memasak dan mindfulness di dapur sah dijadikan prioritas personal, meski tidak sejalan dengan ekspektasi penonton dan standar "keren" di media sosial.
Dapur, Wellness, dan Tren Baru di Era Konten
Ketika publik figur mulai menampilkan dapur sebagai ruang pemulihan mental, kita sedang menyaksikan pergeseran tren wellness: dari ruang gym dan spa ke aktivitas sehari-hari yang dulu dianggap remeh. Denada, yang keahliannya di Zumba dan ngerap, menjadikan memasak sebagai terapi tambahan yang melengkapi praktik kebugarannya. Mindfulness di dapur lewat ritme memotong sayur, mengaduk sop, atau merapikan bahan mencerminkan kebutuhan banyak orang akan jeda di tengah layar yang tak pernah padam. Konten masak viral dari sosok yang mengakui dirinya tidak berbakat memasak memperluas definisi pencapaian: keselarasan batin lebih penting daripada kesempurnaan teknik. Dengan menomorsatukan kebahagiaan dan efek terapeutik, Denada memberi contoh bahwa dapur bisa menjadi bagian sah dari perjalanan wellness modern—ruang latihan kesabaran, ruang kecil untuk kembali menyusun diri sebelum kembali ke hiruk pikuk dunia digital.






