Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bullying dalam Pendidikan Kedokteran: Saatnya Mengubah Sistem sebelum Nyawa Kembali Melayang

Bullying dalam Pendidikan Kedokteran: Saatnya Mengubah Sistem sebelum Nyawa Kembali Melayang
Minat|Kesehatan Mental

Bullying kedokteran: dari ruang jaga ke kamar jenazah

Bullying kedokteran adalah pola perundungan verbal, psikologis, dan struktural yang dilakukan melalui relasi kuasa dalam pendidikan dan praktik medis, mulai dari cemooh, penghinaan, intimidasi, hingga beban kerja tidak wajar, yang berlangsung terus-menerus sehingga menimbulkan kerusakan kesehatan mental dokter muda dan membentuk budaya kekerasan terselubung. Tragedi bertubi-tubi belakangan ini mengingatkan bahwa perundungan bukan sekadar ‘tradisi keras’ untuk menggembleng residen, melainkan ancaman nyata bagi nyawa. Dalam waktu berdekatan, publik dikejutkan oleh kematian dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni (dr. Icha) yang ditemukan meninggal dengan cara gantung diri di rumahnya, serta wafatnya dr. Yuda Nabella Prameswari, residen PPDS Ilmu Kesehatan Jiwa Undip yang meninggal saat masa pendidikan di lingkungan RSUP Kariadi Semarang. Dua kasus ini bukan kebetulan; keduanya memantik kembali sorotan tajam pada sistem yang membiarkan kekerasan terselubung berlarut-larut.

Bullying dalam Pendidikan Kedokteran: Saatnya Mengubah Sistem sebelum Nyawa Kembali Melayang

Kasus dr. Icha: intimidasi yang berujung bunuh diri

Dalam kasus dr. Icha, aparat penegak hukum tidak lagi berbicara dalam tataran dugaan umum. Kepolisian menetapkan tiga mantan anggota DPRD Kabupaten TTU sebagai tersangka dalam perkara intimidasi terhadap almarhumah. Penetapan ini bukan proses singkat: penyidik memeriksa 51 saksi, enam ahli, serta mengamankan dokumen medis dan bukti digital sebelum menyimpulkan kecukupan alat bukti. “Penetapan ketiga tersangka ini merupakan puncak penyelidikan panjang yang berawal dari ditemukannya dr. Icha, 27 tahun, meninggal dunia gantung diri di kediamannya,” demikian keterangan resmi penyidik. Keluarga menyebut ia mengalami guncangan hebat dan diduga depresi setelah intimidasi saat bertugas di IGD. Ini bukan sekadar konflik personal; ketika relasi kuasa dipakai untuk menekan tenaga medis muda hingga ke titik bunuh diri, kita sedang menyaksikan kegagalan institusi melindungi kesehatan mental dokter dan mencegah bunuh diri profesi medis.

Bullying dalam Pendidikan Kedokteran: Saatnya Mengubah Sistem sebelum Nyawa Kembali Melayang

Kematian dr. Yuda: bantahan, kecurigaan, dan budaya diam

Kematian dr. Yuda Nabella Prameswari membuka bab lain dari kisah suram bullying kedokteran. Ia meninggal pada 28 Agustus setelah sebelumnya dirawat intensif di ICU Garuda karena kondisi kesehatan yang menurun. Pihak rumah sakit menegaskan bahwa rumor perundungan tidak benar dan menyebut riwayat sakit sebagai faktor utama. Namun di media sosial, sejawat bertanya: mengapa masih ada panggilan ‘babu’ dari PPDS senior kepada junior di lingkungan FK Undip, dan bagaimana relasi kuasa serta dugaan fraud akademik menciptakan iklim negatif dalam pendidikan kedokteran. Kementerian Kesehatan merespons dengan membuka pemeriksaan atas dugaan praktik perundungan yang dikaitkan dengan kematian dr. Yuda. “Untuk turun ke sana, apakah ini bullying atau bukan. Jadi kita sedang melakukan pemeriksaan,” ujar Dirjen terkait. Di tengah bantahan resmi dan kecurigaan publik, satu hal tampak jelas: budaya diam selama ini memberi ruang nyaman bagi kekerasan simbolik berkembang.

Tekanan program residensi: ketika ‘didik keras’ berubah jadi kekerasan

Program residensi selalu dikenal sebagai jalur pendidikan paling berat di dunia akademik kesehatan. Tapi berat tidak boleh menjadi alasan untuk program residensi stres yang melampaui batas kemanusiaan. Kematian seorang residen PPDS Ilmu Kesehatan Jiwa Undip di lingkungan RSUP Kariadi memicu sorotan terhadap budaya perundungan yang dikhawatirkan masih mengakar di pendidikan kedokteran tanah air. Unggahan sejawat menyoroti relasi kuasa, bullying, dan dugaan fraud akademik sebagai faktor yang menciptakan iklim negatif. Di titik ini, risiko terhadap kesehatan mental dokter tidak bisa terus disapu di bawah karpet. Intimidasi, penghinaan, jam kerja panjang tanpa dukungan, dan label merendahkan seperti ‘babu’ bukan sekadar “bumbu pendidikan”, melainkan faktor risiko langsung bagi depresi, kelelahan ekstrem, dan pada akhirnya bunuh diri profesi medis. Jika generasi dokter dibesarkan dalam lingkungan yang menormalisasi kekerasan, siapa yang menjamin mereka tidak akan mereproduksi pola yang sama ke bawah?

Respons pemerintah penting, tapi reformasi budaya jauh lebih mendesak

Secara formal, respons negara tampak bergerak. Kementerian Kesehatan menyatakan sedang mendalami dugaan praktik perundungan terkait kematian residen di Semarang, dengan janji evaluasi dan perbaikan sistem pendidikan jika terbukti ada bullying. Di ranah pidana, Polda NTT telah menjadwalkan pemeriksaan tiga tersangka intimidasi terhadap dr. Icha pada 31 Agustus pukul 09.00 WITA sebagai tindak lanjut penyidikan. Namun kebenaran pahitnya: investigasi kasus per kasus tidak akan cukup jika akar masalahnya adalah budaya. Reformasi yang dibutuhkan bukan hanya SOP baru, melainkan perombakan relasi kuasa di kampus dan rumah sakit pendidikan: zero tolerance terhadap perundungan, mekanisme pengaduan aman bagi residen, supervisi konsulen yang akuntabel, serta indikator mutu yang memasukkan kesehatan mental dokter. Kematian dua dokter muda ini seharusnya menjadi garis batas: bila institusi pendidikan kedokteran gagal berubah, maka ia ikut bertanggung jawab atas setiap nyawa yang hilang berikutnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!