Hak anak dimulai dari cara orang tua merespons
Pengasuhan positif adalah cara mendampingi anak dengan aman, penuh kasih sayang, dan bebas dari kekerasan, sambil membantu mereka memahami emosi, aturan, serta konsekuensi yang sesuai usia. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menegaskan bahwa pengasuhan seperti ini merupakan hak setiap anak, bukan hadiah yang hanya diberikan ketika anak berperilaku baik. Karena itu, memukul, membentak, atau mempermalukan anak tidak bisa dianggap sebagai jalan pintas untuk mengajarkan kepatuhan. “Kekerasan tidak dapat dibenarkan sebagai bentuk pendisiplinan anak,” kata Menteri PPPA Arifah Fauzi. Pengasuhan positif anak bukan berarti membiarkan semua perilaku atau menghapus aturan. Artinya, orang tua tetap menetapkan batas, tetapi melakukannya dengan cara yang menjaga rasa aman dan martabat anak. Inilah dasar pola asuh sehat: tegas tanpa menakut-nakuti, dan penuh kasih tanpa kehilangan arah.

Disiplin tanpa kekerasan dimulai dengan jeda
Saat anak bertengkar, berebut barang, atau sulit mengikuti arahan, respons orang tua lebih mendidik bila tenang, mendengarkan kebutuhan anak, lalu memberi batasan yang jelas sesuai usianya. Langkah pertama bukan menaikkan suara, melainkan mengenali tanda bahwa emosi sendiri mulai sulit dikendalikan. Ambil jeda untuk menenangkan diri sebelum berbicara atau bertindak. Setelah situasi mereda, jelaskan aturan dengan kalimat sederhana dan konsisten; bantu anak menyebutkan perasaannya dan mencari cara menyelesaikan konflik. Disiplin tanpa kekerasan tetap mengajarkan bahwa tindakan memiliki batas, tetapi tidak memakai rasa sakit atau rasa malu sebagai alat. Jika satu orang tua merasa kewalahan, pasangan dapat mengambil alih pengasuhan sementara agar respons spontan tidak melukai anak. Ini bukan tanda gagal mengasuh, melainkan langkah bertanggung jawab untuk menjaga anak tetap aman.

Perlindungan anak keluarga perlu dukungan bersama
Orang tua memegang peran penting, tetapi perlindungan anak keluarga tidak akan kuat bila seluruh tanggung jawab dibebankan pada rumah atau sekolah saja. Keluarga merupakan benteng pertama untuk membangun karakter dan melindungi anak dari kekerasan; sekolah, masyarakat, dan ruang digital juga perlu mengambil peran. Pembagian tanggung jawab ini penting karena anak tumbuh di banyak lingkungan, bukan hanya di hadapan orang tuanya. Di rumah, orang tua dapat menyepakati cara memberi batasan, berbagi giliran saat mengasuh, dan membicarakan pemicu stres tanpa melampiaskannya kepada anak. Jika kesulitan mengelola emosi berkaitan dengan perilaku anak atau tahap tumbuh kembangnya, carilah bantuan yang sesuai. Meminta dukungan bukan berarti mengalihkan kewajiban, melainkan mengakui bahwa pengasuhan membutuhkan pemahaman dan bantuan yang tepat. Standar yang perlu dijaga tetap jelas: anak berhak dibimbing, bukan disakiti.







