Tambahan 627 MW: Manuver Darurat Menambal Jatuhnya Daya Hidro
Pemulihan pasokan listrik Sulbagsel adalah langkah darurat dan terencana PLN untuk menyeimbangkan kembali sistem kelistrikan yang terguncang oleh penurunan drastis kapasitas pembangkit hidro, melalui penambahan kapasitas pembangkit thermal 627 MW dan penguatan bauran energi agar pasokan menjadi lebih andal, fleksibel, dan tidak terlalu bergantung pada kondisi hidrologi yang mudah berubah. Krisis listrik Sulawesi kali ini bukan sekadar gangguan sesaat, melainkan peringatan bahwa ketergantungan berlebih pada PLTA membuat sistem rentan ketika fenomena seperti El Niño menghantam. Penurunan daya mampu agregat pembangkit hidro dari sekitar 850 MW menjadi 250 MW, atau berkurang sekitar 600 MW, jelas menekan keseimbangan pasokan listrik Sulbagsel. Dalam konteks ini, kapasitas pembangkit 627 MW yang disiapkan PLN bukan kemewahan, melainkan penyangga minimum agar pemulihan energi dapat berjalan dan keandalan sistem tidak runtuh.
PLTU Jeneponto: Setiap Megawatt Menjadi Penentu
Strategi pemulihan pasokan listrik Sulbagsel tidak bisa dilepaskan dari percepatan perbaikan PLTU Jeneponto. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, turun langsung meninjau proses perbaikan PLTU Jeneponto berkapasitas 2 x 100 MW milik swasta yang tersendat akibat gangguan teknis hingga mengurangi pasokan listrik ke sistem Sulbagsel. Sikap ini menunjukkan pengakuan jujur: ketika pembangkit hidro tumbang, pembangkit thermal seperti PLTU menjadi tulang punggung sementara. Darmawan menegaskan, “Setiap megawatt sangat berarti dalam kondisi seperti ini. Karena itu, kami membantu mempercepat perbaikan PLTU Jeneponto agar dapat segera kembali masuk ke sistem”. Penekanan pada setiap megawatt mengirim pesan penting: pasokan listrik Sulbagsel berada dalam fase rawan, dan kegagalan mengembalikan PLTU Jeneponto ke operasi penuh akan memanjang krisis listrik Sulawesi serta menggerus kepercayaan publik terhadap kemampuan pemulihan energi.
Menutup Selisih 600 MW dengan Kapasitas 627 MW: Solusi Jangka Pendek yang Mahal
Penurunan kapasitas hidro sekitar 600 MW akibat kondisi kekeringan dan dampak El Niño di PLTA Poso, Bakaru, Malea, hingga sejumlah PLTM telah menggeser keseimbangan sistem ke arah defisit struktural. Di atas kertas, penyiapan tambahan kapasitas pembangkit 627 MW tampak cukup untuk menutup selisih. Di lapangan, ini berarti sistem Sulbagsel sementara waktu digerakkan oleh logika pemulihan energi berbasis thermal yang kurang ramah lingkungan namun cepat diaktifkan. PLN mengklaim menjalankan beberapa langkah simultan: mempercepat perbaikan pembangkit, mengoptimalkan pembangkit yang ada, dan menambah kapasitas hingga 627 MW. Pendekatan "all-out" ini realistis untuk fase darurat, tetapi mencerminkan biaya sistemik: ketergantungan pada pembangkit thermal selalu berarti risiko emisi dan tekanan pada agenda transisi energi. PLN tampak menerima kompromi ini demi memastikan pasokan listrik Sulbagsel tidak jatuh ke krisis yang lebih dalam.
PLTS dan BESS: Rencana Jangka Panjang Mengurangi Ketergantungan Air
Keputusan menambah kapasitas thermal untuk pemulihan pasokan listrik Sulbagsel hanya masuk akal jika dibarengi strategi jangka panjang mengurangi ketergantungan pada air. Di sini, rencana pengembangan sekitar 5,2 GWp PLTS dan 8,2 GWh Battery Energy Storage System (BESS) menjadi kunci. Darmawan menjelaskan bahwa PLTS akan menambah pasokan listrik dari sumber energi yang tidak bergantung pada ketersediaan air, sementara BESS berfungsi sebagai penyangga ketika produksi pembangkit hidro menurun. Kombinasi ini, jika betul diwujudkan, bisa mengubah pola risiko: krisis listrik Sulawesi akibat kekeringan tidak lagi berujung pada langkah darurat penambahan thermal semata, tetapi diimbangi kapasitas surya dan penyimpanan energi yang lebih fleksibel. Namun, rencana ini masih berupa janji struktural; publik patut bersikap kritis dan menagih konsistensi eksekusinya, bukan hanya retorika bauran energi yang terdengar indah di atas kertas.
Target Penyeimbangan Sistem dan Pelajaran bagi Bauran Energi
PLN menargetkan pada akhir September 2026 pasokan dan kebutuhan listrik Sulbagsel dapat berangsur seimbang kembali, dengan seluruh langkah pemulihan dijalankan dan dikawal dari hari ke hari. Pendekatan paralel—perbaikan PLTU Jeneponto, pengoptimalan pembangkit yang tersedia, penyiapan kapasitas pembangkit 627 MW, serta upaya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) bersama pemerintah daerah dan Forkopimda—menunjukkan kesadaran bahwa krisis ini tidak bisa diselesaikan dengan satu resep tunggal. Namun pelajaran utamanya jelas: sistem yang terlalu bertumpu pada air akan selalu goyah di tengah perubahan iklim. Tambahan thermal untuk pemulihan energi adalah kompromi yang dapat dipahami, tetapi bukan jawaban jangka panjang. Kesimpulannya, arah kebijakan harus bergeser dari sekadar menambal defisit pasokan listrik Sulbagsel menuju membangun sistem yang beragam, fleksibel, dan resilien sebagaimana ditargetkan melalui pengembangan PLTS dan BESS. Tanpa konsistensi pada agenda ini, krisis berikutnya hanya menunggu musim kering berikut.






