Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Konser Musik Rp250 Miliar: Mesin Baru Ekonomi Kota

Konser Musik Rp250 Miliar: Mesin Baru Ekonomi Kota
Minat|Asia Tenggara

Dari Panggung Hiburan ke Mesin Ekonomi: Konser Sebagai Infrastruktur Kota

Konser musik berskala besar di Jakarta adalah peristiwa ekonomi yang memobilisasi jutaan orang, menggerakkan penjualan tiket, akomodasi, transportasi, kuliner, serta beragam jasa kreatif, sehingga menciptakan multiplier effect konser yang terasa dari sekitar venue hingga ke seluruh kota. Dalam dua hari, festival musik Pestapora dan konser The Weeknd menggerakkan perputaran ekonomi hampir Rp250 miliar—bukan dalam satu tahun, tetapi dari dua gelaran saja. Fakta ini memaksa kita berhenti memandang konser musik Jakarta sebagai hiburan sesaat; ia sudah berada di level infrastruktur ekonomi yang sebanding dengan pameran dagang atau konferensi bisnis besar. Jika pemerintah kota serius, konser bisa menjadi pilar pembangunan ekonomi kota global yang tak bergantung pada beton semata, tetapi pada kreativitas dan keramaian.

Rp250 Miliar dalam Dua Hari: Potret Nyata Multiplier Effect Konser

Pernyataan Gubernur Pramono Anung bahwa konser dan festival musik menggerakkan ekonomi Jakarta hingga hampir Rp250 miliar dalam dua hari adalah angka yang mengubah persepsi publik tentang skala dampak ekonomi konser. Uang itu tidak berhenti di promotor; ia mengalir ke hotel, apartemen sewa jangka pendek, layanan transportasi daring, ojek, taksi, restoran, kafe, pedagang kaki lima, hingga retail di mal yang diserbu penonton sebelum dan sesudah acara. "Dalam pelaksanaan Pestapora dan juga The Weeknd selama dua hari ini, ekonomi bergerak di Jakarta akibat itu hampir Rp250 miliar," ujar Pramono. Inilah multiplier effect konser: satu tiket memicu rangkaian belanja lain. Dan di tengah perlambatan berbagai sektor, konser menjadi salah satu mesin pertumbuhan yang paling terasa manfaatnya oleh pelaku usaha kecil.

Jakarta Menuju Kota Global: Panggung Musik sebagai Kartu Nama

Ketika Dekan New York University memberi apresiasi bahwa Jakarta kini menjadi tempat tampil band dan seniman besar dunia, itu bukan pujian kosong; itu pengakuan terhadap posisi kota dalam ekonomi kota global. Gelaran festival musik Pestapora dan konser The Weeknd bukan hanya menambah antrian event, tetapi menegaskan Jakarta sebagai destinasi musik global yang ramah terhadap industri kreatif. Di mata promotor internasional, kehadiran konser musik Jakarta yang sukses adalah sinyal: pasar penonton kuat, infrastruktur memadai, dan pemerintah mendukung. Keberhasilan menyelenggarakan perhelatan tersebut meningkatkan reputasi dan kepercayaan dunia terhadap ekosistem hiburan di kota ini. Singkatnya, tiket konser yang dipegang penonton lokal bekerja ganda—memberi pengalaman emosional di dalam venue, dan memberikan poin kredibilitas di luar negeri bagi kota yang mereka tinggali.

Ekonomi Lokal: Hospitality, Transportasi, dan Retail Ikut Naik Kelas

Dampak ekonomi konser tidak berhenti pada angka headline; yang lebih penting adalah bagaimana sektor-sektor lokal ikut bergerak. Penjualan tiket memicu permintaan kamar hotel dan homestay, transportasi dari dan ke venue, makanan di sekitar lokasi, hingga belanja merchandise dan fashion penonton. Dalam setiap penyelenggaraan konser berskala besar, efek berganda dirasakan pelaku usaha di sekitar venue maupun di seluruh kota—dari musisi, kru panggung, sound engineer, fotografer, sampai pedagang kecil yang membuka lapak dadakan. Inilah ekonomi kota global yang sehat: uang konser tidak menguap, tetapi tersebar ke rantai value lokal yang panjang. Pemerintah seharusnya melihat hospitality, transportasi, dan retail sebagai mitra utama ekosistem konser, bukan sekadar penonton samping yang kebetulan ikut kecipratan.

Masa Depan Konser Musik Jakarta: Dari Ye dan Westlife ke Strategi Kota

Ke depan, daftar nama seniman dunia yang memilih manggung di Jakarta semakin menegaskan bahwa konser adalah strategi pembangunan kota, bukan agenda hiburan tahunan. Ye hanya akan tampil di Jakarta untuk kawasan Asia Tenggara dan Australasia, sementara Westlife pada 23 Januari juga hanya manggung di Jakarta untuk seluruh Asia. Eksklusivitas ini menunjukkan kepercayaan komunitas hiburan internasional terhadap kesiapan infrastruktur, pasar penonton, dan ekosistem pendukung di kota ini. Namun jika dibiarkan berjalan tanpa arah, multiplier effect konser bisa berhenti di konsumsi jangka pendek. Tantangannya sekarang: apakah pemerintah berani menjadikan konser musik Jakarta sebagai kebijakan ekonomi kota global—dengan perencanaan transportasi, zoning usaha, dan dukungan industri kreatif yang konsisten? Jika ya, Rp250 miliar dari Pestapora dan The Weeknd hanyalah permulaan dari mesin ekonomi kota yang lebih besar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!