Trauma Healing Gempa: Polri Mulai Menyelamatkan Masa Kecil yang Terkoyak

Trauma Healing Gempa: Polri Mulai Menyelamatkan Masa Kecil yang Terkoyak
Minat|Kesehatan Mental

Trauma Healing Gempa: Mengapa Senyum Anak di Pengungsian Bukan Hal Sepele

Trauma healing gempa adalah rangkaian intervensi psikologis yang dirancang untuk membantu anak dan orang dewasa mengurangi kecemasan, rasa takut, dan tekanan emosional setelah mengalami guncangan bencana, melalui kegiatan terstruktur yang memulihkan rasa aman, menghidupkan kembali harapan, dan membangun daya lenting psikologis mereka. Di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Polri melalui Satgas SAR Korps Brimob BKO Polda NTT melaksanakan kegiatan trauma healing bagi anak-anak pengungsi di Posko Pengungsian Barangkolong, Desa Mata Air, Kecamatan Reok pada Minggu 23 Agustus pukul 09.00 WITA. Fakta bahwa inisiatif ini datang dari aparat penegak hukum menunjukkan pergeseran penting: pemulihan pasca-gempa bukan lagi sekadar soal tenda dan logistik, melainkan juga pemulihan anak pengungsi dan kesehatan mental bencana. Ketika negara hadir di tataran emosi, bukan hanya keamanan fisik, maka yang diselamatkan bukan cuma nyawa, tetapi juga masa kecil yang berhak atas rasa aman.

Trauma Healing Gempa: Polri Mulai Menyelamatkan Masa Kecil yang Terkoyak

Metode Intervensi Psikologis Gempa: Permainan yang Sarat Makna

Program trauma healing gempa di Posko Barangkolong dijalankan oleh 10 personel yang dipimpin AKP Roy Ronaldo Dansu, S.Tr.K., S.I.K., sebagai Danki Satgas SAR Korps Brimob Polri BKO Polda NTT. Pendampingan dilakukan melalui berbagai aktivitas edukatif dan motivatif, dikemas dalam permainan serta interaksi hangat dengan anak-anak pengungsi. Model ini sejalan dengan prinsip intervensi psikologis gempa: sebelum masuk ke obrolan berat tentang trauma, pulihkan dulu rasa aman melalui struktur, kebersamaan, dan aktivitas yang menyenangkan. Antusiasme anak dan respons positif orang tua menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif sebagai pintu masuk awal pemulihan anak pengungsi. Namun di titik ini, kegiatan masih bertumpu pada personel Brimob umum, bukan tenaga psikolog klinis. Untuk fase awal di pengungsian, hal itu dapat diterima; ke depan, kehadiran tenaga kesehatan mental terlatih tetap penting agar dukungan lebih mendalam dan terukur.

Pendekatan Holistik: Dari Layanan Kesehatan hingga Rasa Aman Kolektif

Kegiatan trauma healing ini bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari upaya mempercepat pemulihan masyarakat terdampak gempa di Manggarai dan Manggarai Timur. Selain trauma healing bagi anak, Brimob juga menghadirkan layanan kesehatan gratis, misalnya pembagian vitamin oleh tim kesehatan Korbrimob yang dipimpin Iptu dr. David Yohan di Pasar TPI, Kelurahan Mata Air. Ditambah lagi bantuan evakuasi barang berharga oleh 15 personel Satgas SAR di Desa Satar Padut, Kampung Nanga Lirang, Kecamatan Lamba Leda Utara. "Penanganan pascabencana tidak hanya berfokus pada evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga pemulihan kondisi psikologis para korban," tegas Kombes Pol Hasripuddin. Pernyataan ini penting: kesehatan mental bencana tidak bisa dipisahkan dari rasa aman fisik, kepastian ekonomi, dan dukungan sosial. Dengan desain program yang menyentuh psikologi, kesehatan fisik, serta keamanan harta benda, pendekatan holistik mulai terlihat, meski masih jauh dari sempurna.

Dampak Awal yang Terlihat dan Tantangan Pemulihan Jangka Panjang

Secara praktis, dampak awal program trauma healing gempa ini cukup jelas: anak-anak kembali bermain, tersenyum, dan menunjukkan semangat di tengah situasi pengungsian, sesuatu yang diakui orang tua sebagai ruang berharga untuk memulihkan psikologis mereka. Pendampingan ini dilakukan untuk membantu menjaga kondisi psikologis sekaligus memulihkan semangat anak setelah mengalami situasi gempa bumi. Namun pemulihan anak pengungsi dan kesehatan mental bencana adalah maraton, bukan sprint. Aktivitas satu hari tidak otomatis menyelesaikan mimpi buruk, kecemasan berpisah dengan rumah, atau kekhawatiran akan gempa susulan. Tantangannya jelas: bagaimana memastikan intervensi psikologis gempa berlanjut, terdokumentasi, dan terhubung dengan layanan kesehatan mental formal begitu masa tanggap darurat selesai. Tanpa kesinambungan, senyum di pengungsian bisa berubah menjadi luka tersembunyi di kemudian hari.

Kesimpulan: Saat Aparat Keamanan Turut Menjadi Penjaga Kesehatan Mental

Program trauma healing Polri di Manggarai menandai langkah penting: aparat keamanan mulai memaknai tugasnya bukan sekadar menjaga ketertiban, tetapi juga ikut merawat kesehatan mental bencana. Anak-anak di Posko Barangkolong yang kembali tertawa adalah simbol bahwa intervensi psikologis gempa, walau sederhana, bisa menggeser suasana dari panik menuju harapan. Namun euforia tidak boleh membuat kita lupa bahwa pemulihan anak pengungsi adalah proses panjang yang membutuhkan tenaga profesional, kurikulum dukungan berkelanjutan, dan kolaborasi lintas sektor. Negara perlu menjadikan trauma healing gempa bagian baku dari protokol penanggulangan bencana, bukan inisiatif sporadis. Ketika Polri, tenaga kesehatan, dan komunitas lokal konsisten memeluk dimensi psikologis dalam setiap bencana, barulah kita bisa berkata bahwa pemulihan bukan hanya membangun kembali rumah, tetapi juga menata ulang ruang aman di dalam diri para penyintas kecil.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!