Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kesehatan Mental Polisi: Dari Stigma ke Budaya Konseling

Kesehatan Mental Polisi: Dari Stigma ke Budaya Konseling
Minat|Kesehatan Mental

Kesehatan Mental Polisi Bukan Lagi Urusan Pribadi

Kesehatan mental polisi adalah kondisi psikologis personel kepolisian yang memengaruhi cara mereka mengelola tekanan tugas, mengambil keputusan, berinteraksi dengan masyarakat, serta menjaga keseimbangan hidup pribadi dan profesional, dan kini semakin diakui sebagai faktor penting dalam kinerja institusi secara keseluruhan. Selama bertahun-tahun, urusan batin anggota dianggap hal privat, bahkan tabu. Mengakui stres, cemas, atau lelah emosional sering dilabeli sebagai kelemahan, bertentangan dengan citra polisi yang harus selalu kuat dan siap. Namun, arah angin mulai berubah. Fasilitas psikologis polda dan berbagai layanan psikologi kepolisian pelan-pelan menggeser paradigma: dari tuntutan “kuat sendirian” menjadi ajakan “kuat karena mendapat dukungan”. Pergeseran ini bukan detail administratif, melainkan perubahan budaya organisasi yang menyentuh jantung profesionalisme aparat penegak hukum.

Rueng Seumangat Presisi: Simbol Pergeseran Mindset Institusi

Peresmian Gedung Rueng Seumangat Presisi di Polda Aceh oleh Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan Rabu (16/9/2026) adalah langkah yang sarat pesan budaya. Gedung ini dirancang menjadi pusat layanan psikologi kepolisian: konseling personel polri, hipnoterapi, hingga tes psikologi bagi personel dan keluarga. Bahkan, fasilitas ini dibuka untuk masyarakat umum sesuai ketentuan yang berlaku. Di sini tampak jelas bahwa kesehatan mental polisi diposisikan sebagai fondasi, bukan bonus. Ruddi menyebut langsung bahwa Rueng Seumangat Presisi adalah wujud kepedulian Polda Aceh terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis personel dan keluarga serta masyarakat umum. Lebih penting lagi, ia menegaskan bahwa meminta bantuan psikologis bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian untuk menjaga diri dan meningkatkan kualitas hidup. Pernyataan ini menggeser standar maskulinitas semu menuju profesionalisme yang sehat.

Kesehatan Mental Polisi: Dari Stigma ke Budaya Konseling

Dari Ruang Konseling ke Pelatihan Mind Reset di Lapas Perempuan

Pergeseran budaya kesehatan mental tidak berhenti di gedung baru. Program pelatihan manajemen stres dan emosi menyebar ke berbagai unit, termasuk Lapas Perempuan Kelas IIA Martapura. Di sana, seluruh pegawai mengikuti pelatihan Mind Reset bersama psikolog Gladis Corinna Marsha di Aula Lapas, Selasa (15/9). Fokusnya jelas: meningkatkan self-awareness, pengelolaan stres dan emosi, serta membangun pola pikir positif melalui teknik relaksasi, latihan pernapasan, dan refleksi diri. Salah satu peserta, Hafizie, mengakui pelatihan ini membantu memahami cara mengelola stres dan menyegarkan pikiran sebelum bekerja. Kegiatan tersebut dinyatakan sebagai bagian dari komitmen Lapas Perempuan Martapura untuk mendukung kesehatan mental pegawai agar dapat menjalankan tugas secara optimal dan memberikan pelayanan terbaik. Ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak lagi dilihat sebagai urusan belakang layar, melainkan elemen kinerja institusional.

Mematahkan Stigma dan Membangun Ruang Aman

Inti persoalan kesehatan mental polisi sesungguhnya ada pada stigma. Selama masih ada rasa takut dihakimi, fasilitas secanggih apa pun akan sepi. Di peresmian Rueng Seumangat Presisi, Kapolda Aceh menekankan bahwa setiap individu harus memiliki ruang untuk menyampaikan persoalan tanpa takut dihakimi, sekaligus kesempatan memahami diri dan mengelola permasalahan. Ungkapan ini menyasar langsung stigma kesehatan mental yang melekat di lingkungan aparat. Ia juga menegaskan bahwa pelayanan psikologi adalah bagian penting pembinaan sumber daya manusia, bukan sekadar fasilitas tambahan. Dengan ajakan membangun budaya saling peduli dan terbuka, personel yang menghadapi persoalan psikologis diharapkan segera mendapat perhatian dan penanganan sesuai kewenangan dan prosedur. Jika komitmen ini dijalankan konsisten, fasilitas psikologis polda berpotensi berubah dari simbol ke ruang aman yang benar-benar digunakan.

Menuju Ekosistem Dukungan: Konseling, Pelatihan, dan Akses Digital

Apa yang tampak sekarang adalah cikal-bakal ekosistem dukungan kesehatan mental polisi: gedung khusus layanan psikologi kepolisian, konseling personel polri, hipnoterapi, tes psikologi, dan pelatihan Mind Reset yang melatih pengelolaan stres dan emosi di unit pemasyarakatan. Di masa depan, penguatan ini perlu disambungkan dengan platform e-Mental Polri sebagai akses digital agar bantuan psikologis tidak bergantung pada kedekatan geografis semata. Namun, teknologi hanyalah alat. Tantangan sesungguhnya tetap pada keberanian individu untuk mengakses bantuan dan konsistensi pimpinan untuk melindungi mereka dari stigma. Harapan Kapolda agar Rueng Seumangat Presisi menjadi ruang aman, nyaman, dan terpercaya bagi siapa pun yang membutuhkan pendampingan psikologis adalah arah yang tepat. Kesimpulannya tegas: polisi yang kuat bukan yang menekan perasaannya, melainkan yang mendapat dukungan menyeluruh untuk kesehatan fisik dan mentalnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!