Festival Anak Sholeh: Definisi, Tujuan, dan Pesan Utama
Festival Anak Sholeh adalah sebuah program KKN pendidikan yang menggabungkan lomba keagamaan, pembelajaran Al-Qur’an anak, dan pembinaan karakter Islami melalui format pembelajaran agama interaktif yang dirancang menyenangkan, performatif, dan partisipatif bagi anak usia TK dan SD di tingkat gampong. Di Meunasah Gampong Cut Langien, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, puluhan anak TK dan SD tampil penuh percaya diri dalam Festival Anak Sholeh yang digelar Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata XXIX Reguler Kelompok 11. Kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan pernyataan tegas bahwa generasi Qurani di komunitas rural tidak boleh dianggap pelengkap, tetapi menjadi pusat perhatian. Mahasiswa memilih format festival anak sholeh agar pendidikan Al-Qur’an anak terasa sebagai pengalaman yang dinanti, bukan kewajiban yang menekan.
Kunci penting dari festival ini adalah keberanian mahasiswa KKN USK XXIX Reguler Kelompok 11 menghadirkan ruang pembinaan karakter bagi anak-anak Gampong Cut Langien melalui Festival Anak Sholeh. Di tengah isu akses pendidikan religius yang belum merata, mereka menunjukkan bahwa gampong terpencil layak menerima program pendidikan Al-Qur’an anak yang kreatif dan berkualitas. Pesan utamanya jelas: menanamkan cinta Al-Qur’an sejak dini harus ditempatkan sejajar dengan penguatan kepercayaan diri, kedisiplinan, dan akhlak mulia. Di sini, Al-Qur’an bukan hanya bahan hafalan, tetapi sumber nilai yang dihidupkan lewat pengalaman publik dan dukungan sosial.

Lomba Azan dan Hafalan Juz 30: Praktik Pendidikan Al-Qur'an Anak yang Performatif
Festival Anak Sholeh di Cut Langien secara sengaja memusatkan kegiatan pada dua cabang lomba: azan dan hafalan surah pendek Juz 30. Keputusan ini patut diapresiasi karena menempatkan pendidikan Al-Qur’an anak pada ranah yang konkret dan performatif. Anak-anak tidak hanya belajar di balik dinding meunasah, mereka diuji untuk tampil di hadapan dewan juri dan masyarakat, melantunkan azan serta menghafalkan surah dengan suara yang terdengar dan diapresiasi. Inilah pembelajaran agama interaktif yang selama ini sering hilang dari kelas-kelas formal: kombinasi ilmu, keberanian, dan rasa bangga atas identitas keislaman mereka.
Ketua Kelompok KKN, Ari Maulana, menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mencari pemenang, tetapi menjadi wadah untuk membangun keberanian, kedisiplinan, serta kecintaan anak-anak terhadap Al-Qur’an sejak usia dini. Kutipan ini layak dijadikan rujukan bagi penyelenggara program keagamaan lain: "Melalui festival ini mereka belajar mencintai Al-Qur'an, berani tampil di depan umum, melatih kepercayaan diri, sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlak yang baik". Dengan format lomba yang hangat dan terbuka terhadap dukungan keluarga, pendidikan Al-Qur’an anak tidak berhenti di penghafalan, tetapi menjadi latihan karakter yang menyiapkan mereka menghadapi kehidupan sosial.
Suasana Gampong: Festival Sebagai Ruang Belajar Kolektif
Yang membedakan festival anak sholeh ini dari kegiatan TPA biasa adalah atmosfernya. Sejak sore hingga malam hari, meunasah dipenuhi antusiasme peserta, orang tua, dan warga. Satu per satu anak tampil di hadapan dewan juri melantunkan azan dan menghafalkan surah-surah pendek dengan penuh semangat, diiringi tepuk tangan dan dukungan masyarakat yang membuat suasana festival semakin meriah. Pendekatan pembelajaran berbasis festival ini jelas menciptakan suasana positif dan engaging bagi anak-anak. Agama hadir sebagai pengalaman kolektif yang hangat, bukan materi ujian yang dingin.
Secara sosial, momen ini menunjukkan bahwa komunitas rural seperti Gampong Cut Langien memiliki kebutuhan kuat terhadap kegiatan pembinaan anak berbasis pendidikan karakter dan keagamaan di tingkat gampong. Tingginya partisipasi masyarakat menjadi bukti bahwa kegiatan pembinaan keagamaan di tingkat gampong masih sangat dibutuhkan. Anak tidak belajar sendirian; mereka disaksikan, disemangati, dan diakui oleh komunitasnya. Di sinilah pembelajaran agama interaktif mencapai makna terdalam: menghubungkan anak, keluarga, dan gampong dalam satu ruang belajar yang penuh dukungan.
Peran Mahasiswa KKN: Kolaborasi Lintas Disiplin untuk Pendidikan Karakter
Program KKN pendidikan ini dijalankan oleh tujuh mahasiswa lintas disiplin ilmu, mulai dari Ilmu Hukum, Pendidikan Dokter, Ilmu Keperawatan, Pendidikan Geografi, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, hingga Kehutanan. Komposisi ini menarik karena menunjukkan bahwa membangun generasi Qurani bukan tugas satu fakultas agama, melainkan agenda bersama lintas ilmu. Festival Anak Sholeh menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan karakter. Mereka memadukan pengetahuan masing-masing untuk merancang kegiatan yang tertib, sehat, komunikatif, dan relevan dengan konteks gampong.
Ari Maulana sebagai ketua dan penanggung jawab kegiatan menilai bahwa keberhasilan festival merupakan hasil kolaborasi antara mahasiswa KKN, aparatur gampong, tokoh masyarakat, dan para orang tua. Geuchik Gampong Cut Langien, Muhammad Syahril, mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang menghadirkan kegiatan positif bagi anak-anak dan berharap program seperti ini terus berlanjut. Dukungan juga datang dari Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Muhammad Sayuthi, yang menyebut Festival Anak Sholeh bukan hanya ajang perlombaan, tetapi media pembentukan karakter dan pengembangan potensi anak sebagai generasi penerus bangsa. Artinya, program KKN pendidikan yang serius bisa menjadi model praktis pencapaian target Pendidikan Berkualitas dalam SDGs, sekaligus menguatkan akar keislaman di gampong.
Dampak bagi Anak dan Pelajaran bagi Penggerak Pendidikan di Gampong
Dampak langsung festival anak sholeh tercermin dari suara para peserta. Aqil Mubarrak mengaku senang mengikuti lomba karena membuat dirinya lebih termotivasi belajar agama; ia menjadi lebih rajin menghafal surah dan belajar azan. Respons seperti ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis festival efektif menyalakan motivasi internal anak. Ketika pembelajaran Al-Qur’an anak dikaitkan dengan pengalaman panggung, tepuk tangan, dan dukungan orang tua, mereka merasa usaha menghafal punya makna sosial yang jelas. Ini jauh lebih kuat daripada sekadar perintah menghafal di rumah.
Mahasiswa KKN USK berharap semangat mencintai Al-Qur'an dan nilai-nilai akhlak mulia dapat terus tumbuh di kalangan anak-anak, sehingga menjadi bekal penting dalam membangun generasi yang berkarakter, berprestasi, dan siap menghadapi masa depan. Dari sisi opini, sudah waktunya penggerak pendidikan di gampong melihat festival anak sholeh bukan acara musiman, tetapi metode pembelajaran agama interaktif yang bisa dirancang berkala. Dengan menggabungkan lomba azan dan hafalan Juz 30, dukungan masyarakat, serta kolaborasi lintas disiplin mahasiswa, Gampong Cut Langien memberi contoh bahwa komunitas rural mampu menjadi pusat inovasi pendidikan Al-Qur’an anak. Kesimpulannya jelas: jika ingin anak mencintai Al-Qur’an dan berakhlak mulia, ajak mereka belajar di ruang yang hidup, penuh sorak, dan partisipasi kolektif.






